Cita-cita yang Melalaikan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Cita-cita yang Melalaikan

cita-cita-terbesar

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”[QS Al Hasyr : 18]

Masyhur bagi kita semua, ketika berbicara tentang cita-cita, maka sebuah adagium kusam hampir pasti akan terbenak dalam hati tiap-tiap kita. Adagium bijak tersebut, selalu mewarna coraki masa kecil kita dan menjadi cemeti semangat, untuk mempetakan jalan menuju hari esok.

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit,” demikian bunyi adagium lama yang dimaksud itu. “Dan rendahkanlah dirimu serendah mutiara dalam samudra.” Meski lama, pesan kalimat arif ini masih tetap basah.

Namun, kalau boleh dibilang, berangkat dari penafsiran tentang pepatah ini, banyak anak manusia, terkhusus pada zaman materialistic ini, telah salah memamahi dan menerapkannya dalam keseharian.

Betapa tidak, cita-cita untuk hari esok dalam kamus mayoritas manusia kekinian, hanyalah menikmati masa tua dengan gaji pensiunan atau ATM yang terus mengalirkan rupiah, dinar, ataupun dirham. Alangkah banyak pemuda pun pemudi, telah berpacu tenaga mengejar hari esoknya. Padahal, hari esok yang dicitakannya itu, akan kelak menjadi hari kemarin juga. Sementara hari esok yang hakiki tetap baaqiyah. Tak, ada masa yang akan menyudahinya. Mereka mengejar dunia, sementara ilmu syariat yang fardhu ‘ain bagi dirinya, ia jahil.

Belenggu dan rantai-rantai materialistic ini, memang telah menyrupai lingkaran setan. Dan sejak masih di bangku madrasah pun, kita telah diikat secara perlahan, pun tanpa terasa oleh sudut pandang iblis yang demikian ini.

Perhatikanlah, betapa banyak, dengan kaca mata materilistik, para orang tua mendidik anaknya. Bahkan sedari belia kala. “Tidur nak, besok pagi kamu harus sekolah.” Begitulah, satu dari setandan kalimat-kalimat binaan yang bersifat materi.

Bukankah sebagai insan yang beriman pada hari akhir, seyogyanya kita mengganti kalimat tersebut dengan yang lebih baik. Seperti, “Tidur nak, besok harus sholat shubuh berjama’ah,” atau “tidur nak, jangan begadang, biar bisa sholat tahajjud sebentar malam.”

Masya Allah

Jika kalimat binaan yang buruk itu kita ganti dengan yang lebih indah, sebenarnya kita sedang menamkan dalam dada mereka, tentang hari esok yang hakiki. Tentang cita-cita yang sebenarnya. Bahkan jauh melampaui bintang paling terjauh di alam buana.

Sungguh banyak, orang-orang miskin yang rela lintang-pukang, hanya demi anaknya mencapai title, jabatan, sarjana, dan lainnya. Sementara antara anaknya dan ilmu diin, terpaut jarak sejauh timur dan barat.

“Nak, gimana kabar kuliahmu?” atau “sudah sampai dimana nak kuliahmu?” Begitulah pertanyaan-pertanyaan orang tua pada kita, yang pernah mencicipi bangku kuliah. Namun, betapa indahnya, bila kalimat semisal, diiringi dengan bagaimana kabar sholatmu nak, bagaimana rutinitas tilawahmu, atau bagaimana hafalan Al Quranmu.

Lingkaran setan materialistic ini, memang telah lama membelenggu. Semoga dari sulbi dan rahim-rahim kekasih kita, terlahir generasi pembaharu. Pemotong rantai setan. Dan membuang estafet misi iblis. Dan menjadi syafaat bagi kita, dengan gelar syuhadanya, atau dengan titel pengahafal Al qurannya.

Mari seru anak-anak kita, dengan sebaik-sebaik seruan. Ingatlah, sungguh dunia hanyalah sarana bukan tujuan. Maka itu, dunia bukanlah cita-cita. Dunia bukanlah bintang tertinggi dalam gubahan pepatah lama itu.

Tapi syurga, yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dan penuh tetaman. Yang penghuninya berwajah purnama, bertelekan di atas tilam-tilam yang ditinggikan. Yang di sana, tiap orang seolah bak raja, menempati istana dari ratna mutu manikam. Sementara ATM kebaikan mereka, senantiasa alirkan pahala tanpa putus. Dan kenikmatan yang abadi.

Itulah masa depan, dan kesuksesan yang sesungguhnya.

loading...
Click to comment
To Top