Keutamaan Mereka yang Diberikan Cobaan, Berupa Lapar dan Kekurangan Harta – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Keutamaan Mereka yang Diberikan Cobaan, Berupa Lapar dan Kekurangan Harta

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah yang telah menjaslaskan kepada para hamba-Nya dengan qalam-Nya yang indah penuh hikmah. Maka bersyukurlan kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Dan merugilah kepada orang-orang yang lalai. Sungguh, ilmu yang hakiki terdapat dalam Al-Quran, namun kebanyakan orang hanya membacanya sebatas di kerongkongan. Dia berfirman:

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman, 31: 27).

Aku memuji-Nya atas setiap hembusan nafas, dan setiap nikmat serta musibah yang menimpaku. Sungguh, hanya Dialah yang pantas dan berhak dipuja dan dipuji. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta, keluarganya yang mulia, yang sering berada dalam keadaan lapar dan kekurangan harta. Juga kepada para sahabat yang sebagiannya tersungkur jatuh saat mendirikan shalat, karena lapar yang sangat. Juga kepada kaum muslimin semuanya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah, 2: 155).

Allah swt mengabarkan kepada para hamba-Nya, bahwa Allah akan memberikan cobaan atau ujian dengan beberapa jenis ujian sebagaimana telah disebutkan dalam firman-Nya yang mulia.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, berkata, terkadang Allah memberikan ujian berupa kebahagiaan dan terkadang Dia memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan.[1]

Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata tentang ayat di atas, bahwa artinya; artinya Kami (Allah) akan menguji kamu agar terlihat siapa yang akan bersabar dan siapa yang akan menyimpang. Setelah itu barulah akan diberikan ganjaran untuk masing-masing reaksi.[2]

Ujian berupa kelaparan dan kekurangan harta, termasuk salah satu ujian yang berat, karena yang ditanggung penderitaannya adalah fisik sekaligus mental, dan dirasakan secara langsung, serta berakibat pada kondisi tubuh.

langit 1

Seorang lelaki jompo yang tetap membaca Al-Quran di waktu senggangnya saat memungut sampah. foto ini menjadi viral di fb.

Ada di antara manusia pula, karena takut kepada kelaparan hingga menjual aqidahnya. Dan karena menghendaki harta benda, sehingga ia menggadaikan agamanya. Maka merugilah orang-orang seperti itu. Inilah seburuk-buruk perdagangan dan penggadaian.

Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang sabar, dan menyebutkan keutamaan mereka. Maka beruntunglah orang-orang yang sabar. Seseorang yang bersabar dengan semata-mata mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala, maka Allah menjanjikan balasan yang baik bagi dirinya. Adapun sabda Rasulullah saw telah memberitahukan kepada kita tentang setiap musibah yang menimpa seorang muslim, akan menghasilkan pahala apabila kita bersabar dan berserah diri hanya kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana haditsnya, bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Tidak satupun kepayahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, penderitaan, atau keresahan yang menimpa seorang muslim—meskinpun hanya berupa duri yang melukainya—kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya karena hal itu.” (HR. Bukhari, No. 5641).

Dari Fadhalah bin Ubaid ra, bahwa dulu ketika Rasulullah saw shalat mengimami orang-orang, ada beberapa orang jatuh tersungkur saat berdiri dalam shalat karena lapar. Mereka adalah ahlu shuffah (orang-orang miskin pada zaman Nabi saw yang tinggal di Masjid Nabawi). Hingga orang-orang badui mengatakan, “Mereka adalah orang-orang gila.” Selesai shalat, Rasulullah saw menghampiri mereka (ahlu-shuffah) dan bersabda, “Andaikan kalian tahu bagaimana kedudukan kalian di sisi Allah Ta’ala, niscaya kalian senang untuk menambah kemiskinan dan kelaparan kalian.” (HR Tarmidizi, No. 2368. Hadis ini hasan sahih menurut Imam Tarmidzi).

Ahlu Shuffah adalah segelongon kaum muhajirin yang hijrah dan tinggal di Madinah. Namun mereka adalah orang yang sangat miskin, dan tak dapat rumah karena kondisi dan gelombang hijrah ketika itu. Mereka meninggalkan harta benda mereka di Mekkah. Dan tinggal di teras dan di dalam masjid. Inilah mereka disebut ahlu shuffah. Shuffah secara bahasa adalah teras rumah.

Demikianlah. Dan segala puji hanya kepada Allah Ta’ala, yang telah mendatangkan pahala bagi para hamba-Nya apabila ia bersabar karena musibah yang datang kepadanya. Maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan. (*)

RAIH AMAL SHALEH DENGAN MENYEBARKAN TULISAN INI


[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Al-Baqarah, 2: 155. Jilid 1, hal, 516.

[2] Al Jami’li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. Al-Baqarah, 2: 155). Jilid 2, hal, 405.

loading...
Click to comment
To Top