Begini Pembelaan Salah Satu Tersangka Pemerkosa dan Pembunuh Yuyun – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

Begini Pembelaan Salah Satu Tersangka Pemerkosa dan Pembunuh Yuyun

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90

ZAKARIA semakin sangsi kalau Zainal, anaknya, dikatakan terlibat pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun gara-gara gemar menonton film “adegan hubungan orang dewasa”. Sebab, anaknya itu tidak memiliki handphone.

”Dia itu tak punya alat komunikasi. Mana bisa melihat video semacam itu?” tutur jelas warga Desa Kasie Kasubun, Lembak, Rejang Lebong, tersebut, kepada Ilham Wancoko dari Jawa Pos.

Selain itu, Zainal, setahu sang bapak, tak pernah bergaul dengan anak-anak yang berumur cukup jauh di bawahnya. Di antara 14 terduga pemerkosa Yuyun, separonya masih tergolong anak.

”Banyak teman (Zainal, Red) yang datang ke rumah, tapi bukan anak kecil-kecil,” ucap Zakaria.

Seperti banyak keluarga lain di Kasie Kasubun, Zakaria sekeluarga mengandalkan pendapatan dari kebun kopi dan karet. Luas kebun mereka sekitar 1 hektare, tergolong kecil di Bengkulu.

Harga karet juga tengah jatuh. Per kilogram cuma Rp 4 ribu–Rp 5 ribu. Padahal, dalam sehari, keluarga Zakaria hanya bisa menyadap 2 kilogram karet. Beban hidup memang menjadi lebih ringan ketika masa panen kopi tiba.

”Tapi, itu hanya setahun sekali,” kata Zakaria, yang bersama keluarga tinggal di sebuah rumah kayu usang.

Data yang dimiliki Jawa Pos, di antara 263 ribu warga Rejang Lebong, 93 ribu warga tergolong miskin atau sekitar 36 persen dari total populasi. Penghasilan mereka kurang dari Rp 30 ribu per hari.

Jadilah ketiga anak Zakaria harus putus sekolah. Zaenal drop out saat kelas dua SMP. Tapi, yang perlu ditegaskan, penggambaran kemiskinan dan rendahnya pendidikan itu bukan sebuah upaya pemakluman.

Seperti ditegaskan di bagian pertama tulisan ini, upaya menyusuri keluarga sejumlah terduga pemerkosa dan pembunuh Yuyun adalah sebuah ikhtiar untuk mendapatkan pemahaman utuh tentang peristiwa mengerikan tersebut. Tanpa bermaksud menghakimi.

Latar belakang Zainal hampir sama dengan 13 terduga lain. Kepala Desa Kasie Kasubun Aji Kelas menuturkan, kebanyakan warganya memang hanya menjadi petani kebun kopi dan karet.

Namun, mereka bukan petani kaya. Sebab, luas kebun mereka sangat terbatas. ”Mereka terbilang petani tanpa modal. Kalau bukan petani, tentu biasanya menjadi sopir atau pedagang,” ungkapnya.

Menurut dia, tekanan ekonomi yang dirasakan warganya semakin besar sejak harga karet turun. Dari yang pernah mencapai Rp 12 ribu per kilogram menjadi tinggal Rp 4 ribu–Rp 5 ribu.

”Tentunya ini sangat berdampak,” ucap dia. (*/c11/ttg)

loading...
Click to comment
To Top