Keutamaan Memberi Makan Orang Miskin, tanpa Mengharap Balasan dan Terimakasih – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Keutamaan Memberi Makan Orang Miskin, tanpa Mengharap Balasan dan Terimakasih

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah, Rab Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Rabku dan Rabbmu. Dialah Rabb para jin. Dialah Rabb para malaikat. Dialah Rabbul’alamin. Dia berfirman:

“Demi (malaikat-malaikat) yang ditus membawa kebaikan. Dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya. Dan malaikat-malaikat yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya.” (QS. Al-Mursalat, 77: 1-3).

Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta, keluarganya, dan para sahabat yang mulia.

Sesungguhnya Allah Yang Maha Baik, menjanjikan pahala kepada orang-orang yang berbuat kebajikan semasa hidupnya di dunia. Dialah yang akan membalas kebajikan itu dengan balasan terbaik lagi sempurna.

Ketahuilah, di antara sifat dan akhlak terpuji adalah memberikan makan orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, dengan tidak mengharapkan balasan dari mereka, tidak pula mengharapkan ucapan terimakasih. Allah swt berfirman di dalam Al-Quran yang penuh hikmah:

“Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terimakasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (adzab) Rabb kami pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” (QS. Al-Insan, 76: 8-9).

Makanan yang diberikan kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan, adalah makanan yang disukainya oleh yang memberi. Bukan merupakan makanan buruk, atau sisa-sisa makanan. Dia menginfaqkannya dengan mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala semata, tanpa mengharap ucapan terimakasih dari yang orang menerima, apalagi pujian dan sanjungan.

Imam Ibnu Katsir menulis, bahwa Ibnu Abbas berkata, “Pada saat itu tawanan mereka adalah orang-orang musyrik.” Buktinya, bahwa pada Perang Badar, Rasulullah saw memerintahkan sahabatnya untuk memuliakan para tawanan perang, para sahabat mengutamakan mereka dalam makan siang. Ikrimah berkata, “Mereka adalah para hamba sahaya.” Ibnu Jarir memilih pendapat ini karena keumuman ayat, untuk muslim dan musyrik. Demikian pulalah pendapat Said bin Jubair, Atha, al-Hasan dan Qatadah.[1]

Imam Al-Qurthubi berkata, bahwa Abu Said Al-Khudri berkata, “Rasulullah saw membaca firman Allah swt: “Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” Lalu beliau bersabda: Al-Miskin adalah orang fakir, al-yatim adalah orang yang tidak memiliki ayah dan al-asiir adalah budak dan tawanan.”[2]

Demikianlah, dan segala puji hanya kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman di dalam Al-Quran-Nya yang suci: “Dan akan dijauhkan darinya (neraka) yang paling bertakwa. Yang menginfaqkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya). Dan tidak ada seorang pun memberikan sesuatu nikmat padanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari wajah Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan yang sempurna.” (QS. Al-Lail, 92: 17-21). Segala puji dan karunia hanya kepada-Nya. (*)



[1] Sahih Tafir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Al-Insan, 76: 8-9. Jilid 9, hal. 404.

[2] Al-Jami’ li Ahkaam Al-Quran Imam Al-Qurthubi (QS. Al-Insan, 76: 8-9). Jilid, 19, hal 686.

Click to comment
To Top