Simeone Rusak Duopoli Barca-Madrid La Liga – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Bola

Simeone Rusak Duopoli Barca-Madrid La Liga

FAJAR.CO.ID, BOGOR– Menjelang laga menghadapi Real Madrid di semifinal leg kedua Liga Champions musim ini, Rabu (4/5) lalu, Manuel Pellegrini memberikan gambaran tentang perbandingan antara Liga Primer Inggris dan La Liga Spanyol. Bagi pelatih City itu, tak ada liga yang lebih baik ketimbang Liga Inggris.

Namun, Pellegrini memberikan pandangan berbeda terhadap La Liga. “Saya selalu bilang Liga Inggris adalah liga terbaik di dunia. Tetapi, sepakbola terbaik ada di Spanyol,” kata Pellegrini yang pernah melatih Madrid, Villareal, dan Malaga.

Perbandingan ini cukup untuk menjawab pandangan yang menyebutkan bahwa Liga Spanyol tidak kompetitif karena hanya dikuasai oleh dua klub saja: Real Madrid dan Barcelona. Sementara itu, Liga Inggris jauh lebih menarik karena klub kecil seperti Leicester City bisa menjadi juara.

Benar bahwa La Liga hanyalah milik El Real dan Barca. Benar pula, seperti kata Pellegrini, sepakbola terbaik ada di Spanyol karena tak satupun klub Inggris yang menguasai dunia dengan menunjukkan gelar di Eropa. Meski ada Chelsea yang menjuarai Liga Champions pada musim 2011-2012, namun “gaung” kesuksesan di musim itu tidak semegah pencapaian yang diraih Real dan Barcelona di tahun-tahun setelahnya.

Seperti yang pernah dikatakan oleh kiper Napoli asal Spanyol, Pepe Reina, persaingan besar di Spanyol selamanya akan dikuasi oleh “duopoli” Madrid dan Barcelona. Sebagai warga Spanyol, anggapan ini agaknya merujuk pada konflik politik di masa lalu di mana Barcelona adalah entitas terbesar yang melakukan perlawanan terhadap diktator Fransesco Franco yang mengagungkan Madrid bersama suku Castillanya.

Diego Simeone bisa dikatakan pembaharu, jika bukan seorang jenius. Sejak datang ke Vicente Calderon menggantikan Gregorio Manzano pada 2011, El Choloperlahan-lahan “merobek” dinasti Madrid-Barca dan menciptakan kesan kepada dunia bahwa Spanyol kini bukan lagi duopoli, tetapi triopoli.

Di musim perdananya sebagai pelatih yang masuk di paruh musim, Simeone tampaknya belum keluar dari dimensi di luar Madrid-Barca karena Atleti finish di akhir musim di peringkat kelima dengan 56 poin. Jumlah itu berselisih 44 poin dari Madrid yang menjadi juara dengan poin 100, dan 35 poin dari Barca di peringkat kedua dengan 91 angka.

Di musim keduanya, ketika Josep Guardiola pergi dari Barcelona digantikan oleh Tito Vilanova, Atletico mengakhiri musim di tempat ketiga dengan 76 poin, berselisih sembilan angka dari Real Madrid di peringkat kedua, dan 24 dari juara Barcelona. Meski berada di posisi ketiga, Atleti masih dianggap sebagai langganan di luar garis Barcelona-Madrid seperti Valencia atau Villareal.

Kegilaan Simeone mulai menunjukkan hasil ketika mereka secara mengejutkan menjuarai La Liga 2013-2014 setelah menanti selama 18 tahun sejak terakhir kali meraihnya di musim 1995-1996. Kejutan itu ditambah lagi dengan tampil ke final Liga Champions menghadapi Real Madrid dengan mengalahkan Barcelona di perempat final.

Indikasi lain yang menunjukkan pecahnya dominasi Barcelona-Madrid adalah El Derbi Madrileno. Sejak April 2013, Madrid tak pernah menang di La Liga menghadapi Atletico. Atletico menang empat kali dan dua kali imbang.

Puncaknya adalah ketika Atletico melumat Madrid dengan skor 4-0 pada Februari 2015. Itulah kemenangan terbesar Atletico terhadap seterunya di La Liga sejak terakhir kali menang dengan skor yang sama pada musim 1984-1985.

Musim ini, di pekan ke-37 La Liga, peta persaingan sepertinya kembali lagi ke posisi semula di mana Atletico berada di peringkat ketiga di bawah Barcelona dan Madrid. Namun, perlu diingat, Madrid membutuhkan waktu 26 pekan untuk menyalip Atletico yang mendahului rival sekotanya sejak pekan ke-12.

Ditambah lagi, di musim ini, Atletico pernah duduk di peringkat pertama selama tiga pekan di masa pergantian paruh musim. Data ini menunjukkan bahwa Atletico sudah merebut tempat dalam dimensi persaingan yang selama ini hanya mengizinkan partisipasi Madrid dan Barcelona.

Klimaksnya mungkin akan ada di San Siro, Milan, 28 Mei mendatang. Atletico akan berupaya merebut gelar Liga Champions pertama mereka menghadapi tetangga yang sudah terbiasa dalam turnamen ini: Real Madrid. Bedanya, kini Atletico justru difavoritkan, bukan karena underdog, namun karena mereka memang pantas.

Benar kata Pellegrini, Liga Inggris adalah yang terbaik di dunia karena persaingannya sulit diterka. Namun, apa yang dicapai Atletico musim ini bisa menginspirasi tim lain seperti Valencia, Villareal, bahkan tim kecil sekalipun untuk membuat tak ada lagi dominasi segelintir klub di Spanyol. Jika kompetisinya sudah sulit diterka seperti Inggris, maka kehebatan sepakbola Spanyol akan maju beberapa langkah dari negara-negara lainnya. (her/pojoksatu)

To Top