Kisah Terbaik – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Kisah Terbaik

sunset flower
foto: 7-themes.com

CERITERANYA penuh berselit. Meski telah bertandas dengan ujung kisah yang mengharu-biru, dan mengaduk-aduk rasa welas kasih. Bulir-bulir hikmah masih terus mengalir dengan kejernihan nan sebening embun. Yang bila saja ia menitik di atas dataran hati kita, tentulah segala kesempitan dada menjadi lapang sejauh saujana.

Maka dengan maksud, agar sedikit melunakan hati kita yang nian membatu, oleh hari-hari yang keras. Kisah ini sengaja kami ketengahkan. Moga-moga bulir-bulir hikmahnya menetes sejuk, dan melembutkan hati. Lalu nian khusyu-lah kita. Tawadhu dalam menatap agung hikmahNya.

Lebih-lebih, agar gumpalan hati kita tak lagi membatu. Bahkan di antara bebatuan itu, ada yang terbelah lalu mengalir darinya mata air. Pun ada pula yang meluncur jatuh, tersebab takut padaNya.

“Duhai anak-anakku,” kata Ya’qub alahaissalam, sebagaimana dikisahkan Ibnu Jauzy dalam At Tabshiroh. “Telah sampai kepadaku, bahwa di Mesir ada seorang raja yang shalih. Maka berangkatlah kalian kepadanya dan sampaikan salamku padanya.”

Raja shalih, nun jauh di negeri tepian sungai Nil itu, dialah Yusuf, sang penyejuk mata yang telah lama luput dari pelupuknya. Dan Hilang dari sisinya, ditutupi misteri.

Orang beriman mana yang tak mengetahui kisah kedua manusia mulia ini? Kisahnya mengoyak-ngoyak rasa iba. Menggedor-gedor rasa welas kasih. Tapi demikianlah, jika Sang Kekasih menguji para kekasihNya. Seakan di batas rasa kasih. Padahal tidak, justru itulah cinta kasihNya.

Agar orang-orang yang dicintai, kelak datang menghadapaNya, dengan sabar dan syukur yang sekilau emas. Pun seindah manikam. Yang telah bersih ditempa oleh api ujian, tak ada unsur-unsur tanah atau juga raksa yang tersangkut.

“Ya’qub tidak pernah lepas dari kesedihan selama 80 tahun.” Demikian kata Al Hasan, “dan air matanya tidak pernah mengering, serta tidak ada orang lebih mulia di sisi Allah darinya”

Ketika itu kemarau sedang menjadi-jadi. Hampir tujuh tahun langit menahan hujan. Terik matahari tajam menikam tengkuk setiap para kafilah. Hal itu yang membuat Ya’qub menyuruh anak-anaknya ke Mesir untuk mencari persediaan makanan.

***

Maka anak-anaknya pun berangkat dan kemudian bertemu Yusuf. Sementara tabir dirinya tidak tersingkap. Yusuf mengenal mereka dan mereka tidak mengenalinya.

“Dari mana kalian datang” Tanya Nabi, yang kisahnya dipuji Allah sebagai kisah terbaik itu.

“Dari negeri Kan’an,” jawab mereka, “dan kami mempunyai ayah yang bernama Ya’qub, dia menitip salam untukmu”

Mendengar nama ayahanda, Yusuf pun menangis, air mata menganak sungai di wajahnya yang rembulan.

“Berapa jumlah kalian?” Tanyanya.

“Sebelas. Tadinya kami dua belas, lalu salah seorang dari kami dimakan serigala.” Jawab mereka. Lagi-lagi kedustaan itu masih tersimpan rapi.

Ketika itu yang datang ke Mesir hanya sepuluh orang, maka Yusuf pun memerintahkan mereka agar kedatangan berikutnya, mereka harus membawa saudara seayah mereka yang tidak ikut, yaitu Benyamin. Saudara serahim Yusuf.

***

Maka ketika persediaan makanan telah menipis, mereka berangkat. Meski ada rasa berat terkulum di dadanya, Ya’qub mengijinkan Benyamin untuk turut ikut.

Mereka tiba di Mesir dan menghadap Yusuf. Dia pun menjamu mereka, dengan menyediakan tiap-tiap sepasang sudara serahim, menjadi satu meja hidangan. Maka ketika anak-anak Ya’qub alaihissalam itu telah menempati meja hidangan bersama saudara sekandung. Tersisalah Benyamin. Ia sendirian. Tampak mendung kesedihan menggelayut di matanya.

“Apa engkau suka aku menjadi saudaramu?” Yusuf menghampiri Benyamin yang nampak kesorangan itu.

“Duhai baginda raja” jawab Benyamin, nadanya tersirat sendu. “Siapa yang tidak mau mendapatkan saudara serupamu. Namun engkau tidak dilahirkan dari Ya’qub juga dari rahim Rahil”

Lagi-lagi sedih bergetar-getir. Cinta meletup-letup. Rasa sayang mendidih. Butiran kristal air mata pun kembali menggenangi paras Yusuf yang rupawan. Yusuf pun mengingkap dirinya, khusus untuk Benyamin.

Yusuf kemudian memperdayainya. Ia memasukan cangkir raja di dalam karungnya. Hingga dikira sebagai pencuri.  Alhasil ia ditahan, dan tidak bisa kembali ke Kan’an. Padahal hanyalah sebuah upaya agar Yusuf bisa bersama dengan saudaranya itu lebih lama lagi.

Duka demi duka jatuh berkeping-keping membentur duka yang lain. Mendengar Benyamin hilang dari sisinya, mata Ya’qub memutih. Ia pun buta.

***

Mereka kemudian menghadap Yusuf dengan merasa hina tersebab membawa barang penukaran yang sedikit. Maka mereka berkata, “Bersedekahlah kepada kami.” Maka saat itulah Yusuf menyingkap tabir yang menutupi dirinya.

“Apakah kamu mengetahui [kejelekan} apa yang telah kamu lakukan kepada Yusuf” katanya menyingkap tirai diri, seperti terabadikan dalam QS Yusuf : 89.

Mereka pun menimpali, “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” [QS Yusuf : 90]

Yusuf berada di atas singgasana. Ia bisa berbuat apa saja, tanpa ada manusia yang bisa menghalangi dengan izin Allah. Jika saja ia memendam dendam, maka tentula ia mampu memuntahkannya bagai larva kepada saudara-saudaranya. Tapi apa yang dikatakan Yusuf ketika itu?

“Dia berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu” [QS Yusuf :92]

Betapa luas dadanya.

“Dulu aku yang membawakan gamis berlumuran darah”, demikian kata Yahudza, saudaranya seperti dikisahkan dalam At Tabshiroh. “Dan kini aku juga yang akan membawakan gamis kegembiraan.” Ia pun bergegas membawa berita gembira itu.

Seakan turut bersuka cita, angin pun dengan cekat menghembuskan kabar indah tersebut. Dengan tujuh potong roti yang belum habis dimakannya, Ya’qub keluar tanpa alas kaki. Ia berujar “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal, [tentulah kamu membenarkan aku]” [QS Yusuf : 94]

“Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakan baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu ia dapat melihat kembali” [QS Yusuf : 96]

Maka saat dua manusia mulia yang dipisahkan itu bertemu, seisi buana seakan terharu-biru. Perpisahan yang sebabkan tiap tempat peraduannya terisi dengan air mata kegetiran.

“Assalamu alaika, wahai penghilang kedukaan” seru Ya’qub

“Engkau menangis, wahai ayah, hingga penglihatanmu hilang. Tidak tahukah engkau bahwa kiamat akan menghimpukanku denganmu!”

“Duhai anakku, aku khawatir agamamu dirampas, sehingga kita tidak dapat berkumpul lagi”

****

Banyak bulir-bulir himkah dari kisah yang tak pernah kering ini, bisa kita ambil. Ada cinta pun ada rindu. Ada benci juga dengki. Ada getir perpisahan dan ada betapa haru sebuah pertemuan.  Juga terdapat senyum disebalik takdirNya yang penuh cucuran air mata.

Dibuang dengan hina di dalam sumur tapi kemudian di angkat dengan mulia dan mengatur Mesir. Ada gamis yang membawa duka. Terdapat juga gamis pelipur lara. Lebih dari itu, ada sabar dan begitu pun syukur.

Sabar dan syukur, dua hal inilah yang menjadi pilar tauhid. Yang dengannya, ia seumpama sayap bagi seorang muslim, dan akan mengangkatnya menuju illiyin. Membuka pintu-pintu langit dengan kafan yang dibawa para malaikat seharum kesturi.

Sabar, demikian menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Uddtashobirin, yang lahir dari rasa sukarela lebi utama dari rasa sabar karena terpaksa. Seseorang yang mampu mengkomitmeni taat meski sarana-sarana menuju maksiat terbuka lebar dan dorongan syahwat yang kuat, maka dia telah memperoleh sabar yang utama.

karenanya, sabar Yusuf dari tidak menuruti kemauan godaan wanita, lebih utama dari sabarnya ketika dirinya dibuang dalam sumur dan dijual sebagai budak belian. Begitu juga sabarnya dia dari tidak menimpakan hukuman bagi saudaranya, pun lebih utama. Tersebab sarana menujunya terbuka lebar. Ia berada sabagai orang besar Mesir, yang bisa membuat apa saja bagi rakyat biasa dengan kekuatannya.

***

Empat ribu tahun kurang, seba’da kisah Yusuf yang mempesona itu, kita bisa menemukan getar makna sabar yang sama.

Bagai gelombang yang besar, bagai malam yang tak bisa ditahan, sebuah pasukan perang berjalan membelah punggung sahara yang ditutupi malam. Dengan senyap, pasukan yang dipimpin oleh panglima besar. Panglima yang bermurah senyum namun suka berperang. Kala damai, ia seramah semilir. Dan ketika perang membela kebenaran ia seakan badai. Dia-lah Rasulullah.

Mekkah pun ditaklukan tanpa ada secuil perlawanan. Penduduknya menyerah sebelum diperangi. Ada tombak-tombak yang berdiri tegak, pedang-pedang yang tajam terhunus. Sarana terbuka lebar untuk membalas. Tapi apa yang dikatakan Rasul kala itu? Yang terlisan dari bibirnya yang mulia adalah apa yang dilisankan Yusuf as jua.

“Dia berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu” [QS Yusuf :92] kata Nabi membacakan ayat Al quran.

Maka hari itu adalah hari marhamah. Bukan malhamah. Kasih sayang, dan bukan pembantaian. Begitulah ahlak dua panutan. Dada mereka tak sempit. Bahkan sejauh saujana. Ketika musuh telah menyerah sebelum diperangi, maka hanya ada tangan kasih sayang yang terhulur. Bukan lagi pedang menikam.

Ya Rabbana, meski taat kami serapuh kapur. Tertatih meniti jalanMu. Bersamailah kami bersama para Nabi kelak di akhirat.

loading...
Click to comment
To Top