Kita Bangga Bendera Indonesia Ada di F1. Namun Bagaimana Kalau Rio Pindah Warga Negara? – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Sport

Kita Bangga Bendera Indonesia Ada di F1. Namun Bagaimana Kalau Rio Pindah Warga Negara?

rio haryanto

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Indonesia patut berbangga atas kehadiran Rio Haryanto di lomba balap mobil tercepat di dunia. Karena pemuda asal Solo ini dengan bermodalkan semangat juang yang tinggi dan tak kenal menyerah, berhasil mencetak prestasi tersendiri. Yakni menjadi warga negara Indonesia pertama yang berhasil lolos dalam persaingan menjadi pembalap mobil Formula One atau F-1.

Rio Haryanto, 23 tahun, sejak Januari 2016 dikontrak oleh Manor Racing Team (MRT), sebuah tim pencari pembalap berbakat asal Inggeris.

Untuk menjadi anggota pembalap MRT, Rio menyingkirkan pembalap-pembalap berasal dari negara maju. Termasuk Amerika Serikat, Itali dan Jepang.

Dengan kelolosannya itu, Rio menjadi satu-satunya orang Asia yang berlaga di lomba balap mobil paling bergengsi di dunia, sepanjang musim kompetisi 2016.

Dengan begitu pula Rio tercatat sebagai satu-satunya pemuda Asia yang bisa menyaingi Jepang, negara produsen otomotif terkemuka di dunia. Berikut Italia, negara produsen mobil balap bermerek Ferrari, Maserati dan Alfa Romeo.

Sebab kebetulan saat ini, Jepang dan Itali tak punya pembalap yang bisa berlaga di lomba F-1.

Jadi siapapun statusnya yang membaca ulasan ini, sepantasnya tak bisa dan tak boleh meremehkan prestasi Rio Haryanto.

Rio memang belum berhasil meraih juara satu dari 4 sirkuit yang sudah dilakoninya: Melbourne (Australia), Bahrain (Negara Petro Dolar di Timur Tengah), Shanghai (RRT), dan Sochi (Rusia).

Tapi itu tak berarti kemampuannya menjadi pembalap F-1 perlu diragukan. Mengapa?

Lewis Hamilton saja, juara dunia Formla One untuk tahun 2015 dari Inggris, hingga putaran ke-4 juga belum pernah naik panggung. Hamilton di Shanghai, bahkan harus memulai start-nya di posisi paling belakang-21, di bawah Rio Haryanto yang start dari posisi 20.

Dengan kehadirannya di musim kompetisi 2016, Rio menjadi satu dari 21 orang pemuda di dunia yang bisa mendapatkan kesempatan berbalap di F-1.

Ini berarti sama dengan keberhasilannya menjadi manusia langka sejagat. Kalau ditinjau dari sini, Rio tidak hanya pantas dicatat oleh Museum Rekor Indonesia atau MURI bahkan oleh Guiness Book.

Dari total ratusan juta bahkan mungkin miliaran pemuda seusia dia di jagat raya, hanya Rio dan 20 pemuda lainnya yang beruntung menjadi pembalap mobil yang harganya lumayan mahal. Diperkirakan satu mobil balap lebih dari Rp. 100,- miliar.

Sebelum direkrut oleh MRT, Rio memang sudah mencetak sejumlah prestasi juara di balap mobil Grand Prix 2, balap mobil yang sering disebut kelas terakhir sebelum bisa berlaga di F-1.

Namun di tengah pergumulan merebut juara, masih tersisa 17 buah sirkuit lagi, Rio Haryanto sesunguhnya dihantui oleh ancaman petaka. Yaitu kemungkinan dia dikeluarkan dari regu MRT.

Ini semua terjadi bukan karena kesalahannya sendiri atau ketidak mampuannya berbalap. Melainkan karena secara finansil, kemampuannnya segera berakhir.

Sampai bulan Mei 2016 ini, Rio belum bisa melunasi joining fee sebesar 7 juta Euro atau sekitar Rp. 105,- miliar.

Sesuai persyaratan, selain skill dan kemampuan teknis, MRT merekrut Rio dengan kewajiban pembalap Indonesia ini membayar 15 juta Euro atau setara dengan Rp. 225,- miliar.

Rio yang keturunan Tionghoa tapi bukanlah tergolong anak orang kaya apalagi konglomerat, tidak memiliki dana sebanyak itu. Orangtuanya hanya pebisnis biasa yang hidup sederhana. Semua penghasilan orangtuanya hanya didedikasikan kepada Rio – anak muda yang punya cita-cita mengharumkan Indonesia melalui balap mobil Formula One.

Rio terutama orangtuanya berusaha menjadi sponsor kemana-mana. Yang berhasil hanya dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Tapi bantuan dari lembaga pemerintah berikut sokongan BUMN Pertamina, tetap tidak mencukupi. Bantuan berupa sponsor hanya mencapai 8 juta Euro atau setara dengan Rp. 120,- miliar

Rio berada dalam posisi dilematis. Menyerah atau maju. Kalau menyerah, berarti hilanglah peluang yang tak mungkin bisa direngkuhnya kembali. Yakni berstatus pembalap F-1.

Tetapi kalau dia maju terus, itu berarti ia harus siap menjadi “pengemis”, meminta bantuan kepada pihak manapun yang bisa meringankan beban finansilnya. Yang terakhir ini jadi pilihan.

Sehingga sembari bertarung di sirkuit balap, konsentrasi pikiran Rio juga terbagi atau diganggu oleh hutang joining fee.

MRT memang memberi keringanan kepada Rio. Ia bisa mengikuti lomba sekalipun joining fee yang dibayar baru separuh dari total keseluruhan.

Kini MRT dan semua pihak tentunya berharap sisa tunggakan 7 juta Euro ini kelak bisa dilunasi sebelum jatuh tempo. Berbagai upaya sudah dilakukan. Di antaranya dengan melakukan penggalangan dana oleh tim relawan sebagai pendukung Rio Haryanto.

Juga ada pengumpulan dana lewat SMS dari PT Telkomsel. Tetapi semua upaya tersebut nampaknya belum bisa mengatasi kekurangan.

Kabar tentang terjebaknya Rio dalam kesulitan finansil, pun serta merta menjadi berita di berbagai media yang mengkhususkan diri dalam dunia balap dan otomotif. Kabar kesulitan finansil sudah berada di seantero dunia.

Walaupun hal tersebut cukup memalukan tapi tak ada kekuatan yang mampu menutup kabar tersebut di era keterbukaan informasi ini.

Hanya saja yang lebih memalukan sebetulnya kalau Rio berhasil dirayu oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan finansil melebihi kemampuan Indonesia.

Sebab pihak yang lebih kuat dari Indonesia, dana sebesar Rp. 225 miliar apalagi yang tersisa sebanyak Rp. 105,- miliar bukanlah jumlah yang signifikan dan membebani.

Sementara bagi Indonesia dana sebesar itu sudah cukup besar. Semakin besar nilainya jika dana itu hanya khusus membiayai seorang olahagawan untuk jangka waktu setahun.

Ditambah lagi balap mobil F-1 bukanlah olahraga yang digemari atau dikenal luas oleh masyarakat.

Pihak yang disebut-sebut bersedia merekrut Rio Haryanto antara lain, Amerika Serikat, RRT, Malaysia dan Singapura. Semua negara ini tidak punya wakil di Formula One.

Tetapi dari semua negara tersebut Singapura dikabarkan sangat berminat meminang Rio Haryanto. Bahkan negara tetangga tidak segan-segan menawarkan kewarga negaran baru kepada Rio Haryanto.

Alasa utamanya, sejak tahun 2008, Singapura sudah menggelar balap mobil F-1 di malam hari. Yang dijadikan lokasi, jalan raya di tengah kota/negara Singapura.

Sejak menggelar F-1 di malam hari, Singapura berhasil meningkatkan pendapatan devisanya melalui turisme dan shopping. Bagi Singapura, F-1 sebuah bisnis dan industri baru.

Namun berhubung Singapura tidak punya pembalap F-1, masyarakatnya kini menuntut agar pemerintah bisa melahirkan pembalap – dengan cara apapun.

Artinya kalau Singapura bisa mendapatkan pembalap kaliber Rio Haryanto, berapapun nilai transfernya, termasuk mengubah kewarga negaraannya, negara tetangga ini diperhitungkan tak akan ragu.

Sebab untuk cabang olahraga sepakbola saja, cabang yang tidak sebergengsi dengan Formula One. Singapura tidak segan-segan merekrut pelatih asal Yugoslavia (Serbia) sekaligus mengganti kewarga negaraannya.

Kepedulian kita, jika sampai Rio kepepet dan akhirnya tertarik menerima tawaran plus kompensasi lainnya, jelas hal itu akan merupakan sebuah kerugian besar bagi Indonesia.

Sebab yang sudah pasti otomatis terjadi, belum tentu dalam waktu singkat Indonsia bisa melahirkan lagi pembalap Formula One sekaliber Rio Haryanto.

Dan dengan berpindahnya Rio Haryanto – semoga tidak terjadi, bendera merah putih, sang saka Indonesia, yang dipasang secara permanen di mobil balapnya otomatis dihilangkan, diganti dengan bendera lain.

Hilangnya bendera merah putih ini, secara materi, mungkin tak begitu berarti kerugiannya.

Tetapi dari sudut kepetingan “promosi gratis” tentang Indonesia, hilangnya promosi yang berskala dunia ini, merupakan kerugian yang relatif sangat besar.

Kalau mau lebih detil, masih banyak kerugian yang tak terhitung jumlahnya.

Kini terpulang kepada para pemangku kepentingan – apakah membiarkan Rio Haryanto mencari jalan keluar dengan caranya sendiri atau masih ada pihak yang mau menyelamatkan muka Indonesia.

Sebagai pemerhati dan bukan pembalap, kalau saja boleh berbagi pandangan, menurut pandangan saya, sebetulnya perusahaan milik negara seperti PT Telkomsel, merupakan pihak yang paling pantas membantu pembalap Rio Haryanto. Artinya tidak cukup bagi Telkomsel dengan hanya mengutip sumbangan dari pengiriman SMS.

Telkomsel perlu lebih promotif dan agresif. Keluarkanlah dana bantuan bagi Rio Haryanto sejumlah yang dibutuhkan.

Mengeluarkan dana sebanyak Rp. 220 miliar dari ATM atau brandkas Telkomsel, tak akan membuat perusahaan ini kolaps atau bangkrut.

Karena dengan pelanggannya sebanyak 100 juta nomor, penghasilan Telkomsel per bulan bisa mencapai triliunan rupiah. Jumlah Rp. 220,- miliar itu jika disisihkan untuk dana CSR, pasti tak akan mengganggu eksistensi Telkomsel.

Apalagi dana itu dikeluarkan demi “merah putih” dan martabat Indonesia. Semoga.

loading...
Click to comment
To Top