Selipkan Namaku dalam Do’amu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Selipkan Namaku dalam Do’amu

Waktu-Doa-Dikabulkan-Ilustrasi-Doa

FAJAR.CO.ID, – Telah menjadi kelazimannya, di bawah kelam wajah angkasa, sebelum benang-benang fajar membelah langit sepertiga malam. Baik ketika rinai hujan sedang bersenandung atau binar rembulan sedang mengarak menuju tepi horizon yang akan temaram.

Dalam bait-bait do’a yang mendecah di mihrabnya, lelaki yang terkenal dengan sabar yang seanggun istana para raja itu, selalu mengulang-ngulang sebuah nama. Hingga mengundang tanya anaknya suatu saat.

“Duhai Ayah, siapakah Asy-Syafi’i itu, aku mendengarmu banyak mendo’akannya?’’ Tanya Abdullah, sang buah hati.

“Duhai ananda,” tutur lelaki berwajah penuh tahajud itu teduh, “Asy-Syafi’i itu seakan matahari bagi dunia. Seperti ‘afiat bagi manusia. Maka adakah gerangan pengganti bagi kedua kenikamatan ini?”

Lelaki itu, kita tahu Ahmad bin Hambal namanya. Seorang Imam, dan pelita zaman. Dan lelaki yang didoakannya, Imam Syafi’i.

Demikianlah, temali cinta karena Allah telah menjadikan nama Asy-Syafi’i terselip dalam untai do’a selama 40 tahun. Bukan berbilang hari, pekan pun setahun atau dua tahun. Akan tetapi 4 dekade.  Mungkin dalam beberapa hal mereka bersilang pendapat. Namun akhlak mereka yang luhur tak luruh memudar karenanya.

Mereka adalah ulama-ulama yang ilmunya bergetar dalam satu senandung dengan adab. Antara perkataan dan amalan, berjalan seirama. Tersebab karena kecintaan akan ahli ilmu dan mengetahui keutamaan mendo’akan sesama saudara, maka mereka saling mendo’a. Kami menduga demikian, sementara Allah yang lebih mengetahui keadaan mereka.

“Tidak ada seorang muslim pun,” sabda Rasullah suatu ketika, yang diriwayatkan Imam Muslim, “yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama,”

Bukankah kita senang didoakan malaikat, makhluk yang tak pernah maksiat dan diciptakan hanya untuk taat? Maka tidaklah kita mencintai orang lain, kecuali kita sedang mencintai diri sendiri.

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik]

Maka marilah kita saling mendo’a. Meskipun kita tak sebersinar Imam Syafi’i yang bak mentari di semesta. Atau seanggun akhlak Imam Ahmad. Namun tetaplah, dalam batas-batas ikthiyar kita berusaha menjadi seberkas sinar dian, walau dalam buana hati seorang anak manusia sahaja. Moga-moga ia selipkan nama kita dalam do’anya.

loading...
Click to comment
To Top