Korban Banjir Sungai Dua Warna: Kondisi Gelang Coklat Mengerikan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Korban Banjir Sungai Dua Warna: Kondisi Gelang Coklat Mengerikan

Suasana pemakaman jenazah Ryan Tio Fandi (26), salah satu korban banjir bandang Sibolangit di lokasi Perkuburan Muslim Solang-Soling, Jalan Anugrah Mataram, Medan, Selasa (17/5/2016). Foto: TRIADI WIBOWO/SUMUT POS/Jawa Pos Group

FAJAR.CO.ID, MEDAN – Seorang pemandu wisata Air Terjun Telaga Dua Warna, Muhammad Riyantio Fandi alias Tio (25), merupajan salah satu korban bencana banjir bandang Air Terjun Telaga Dua Warna. Jasad Tio sudah ditemukan dan sudah dimakamkan, kemarin.

Ditemui di rumah duka, warga Jalan Pelajar Timur No. 189 Medan, Kel Binjai, Medan Denai, Sutrisno, ayah korban mengatakan, kabar kepergian anaknya diketahui dari teman Tio, yang juga pemandu wisata.

“Temannya itu jam 4 pagi Senin menghubungi kakaknya (Ida), dan dibilangnya Tio enggak pulang, hanyut. Jadi, saya dan istri bangun menunggu kabar selanjutnya sehingga tidak tidur sampai jam 6 pagi. Tapi, belum ada juga kabar. Akhirnya, saya sama istri dan keluarga memutuskan untuk berangkat ke Sibolangit guna mencari tahu,” jelasnya, kemarin.

Karena tak punya kendaraan, sambung Sutrisno, ia dan keluarnya menyewa mobil rental dekat rumah. Mereka pun sampai di Posko Sibolangit sekitar 09.30 WIB.

“Kami kecewa sampai di Posko Sibolangit karena tidak bisa melihat jasad anak kami oleh petugas dengan alasan tidak tega. Jadi, kami disarankan lebih baik menunggu di RS Bhayangkara Medan. Saya pun sempat berbicara dengan Kapolresta Medan, dan bertanya kepadanya. Pak Kapolresta juga menyarankan demikian. Jadi, karena sudah jam 3 sore lewat ngapain lagi menunggu di sana dan tidak bisa melihat. Percuma saja kami datang. Jadi, kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit,” urainya.

Setelah sampai di rumah sakit, lanjut Sutrisno, ia bertanya kepada perawat dan menjelaskan ciri-ciri fisiknya yaitu memakai gelang berwarna coklat di lengan kiri dan tahu lalat di atas bibir. Perawat bilang sudah di dalam kamar mayat, tetapi tidak bisa diambil sebab harus melalui proses.

“Kondisinya sangat mengenaskan, lengan kiri dan pinggang patah. Kemudian, wajahnya membiru dan sulit dikenali. Kemungkinan itu kena hantam kayu atau batu pas banjir. Setelah proses administrasi selesai, baru jenazah Tio bisa dibawa pulang ke rumah duka dan paginya dimakamkan,” ucapnya.

Senada dengan Sutrisno diungkapkan Musyiam (66), sang ibunda, beserta kakak Tio, Ida, yang tak kuasa menahan tangis.

“Dia itu suka dengan pantai dan air terjun. Dia pulang terakhir kali hari Selasa lalu untuk melamar kerja. Dia orangnya humoris, suka bercanda. Waktu pulang, dia tidur memeluk saya. Lalu,saya pikir dia rindu karena biasanya enggak kayak gitu,” tutur sang ibu.

Ditambahkannya, Tio merupakan sosok anak penurut sama orang tua. Bahkan, untuk bilang ‘ah’ saja tidak pernah.

“Orangnya peduli sama kawannya. Kalau ada yang belum makan, dicarikannya makan. Makanya saya sedih mengetahui kematiannya seperti ini. Tapi, saya tetap berusaha ikhlas,” ujarnya.(ris/sam/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top