Pegawai Berijazah Bukan S1 Dapat Pembelaan: Jangan Dipukul Rata, Ada yang Sarjana Tapi Malas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Pegawai Berijazah Bukan S1 Dapat Pembelaan: Jangan Dipukul Rata, Ada yang Sarjana Tapi Malas

pegawai-negeri-sipil-alias-pns-_140625153018-622
ilustrasi

FAJAR.CO.ID, MANADO – Sebanyak 3.429 dari 7.800 jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintahan Kota (Pemkot) Manado ternyata bukan lulusan sarjana Strata Satu (S1). Tak heran jika kualitas dan kinerja para ASN selalu disorot.

Hal tersebut diakui Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah (BKDD) Kota Manado Steven Wakkary seperti dilansir Manado Post (Fajar Group), Rabu (18/5).

Menurutnya, tingkat pendidikan memang berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Hanya saja, tingkat pendidikan bukan satu-satunya jaminan. Karena, ada pegawai yang bukan sarjana namun memiliki kualitas di atas rata-rata.

“Jangan pukul rata. Masing-masing orang berbeda. Ada yang sudah sarjana namun malas. Ada yang hanya SMA namun rajin bekerja. Di luar itu, dalam rangka memajukan kualitas, kami selalu berikan kesempatan ASN untuk lanjutkan sekolah,” kata Wakkary.

Terkait SDM, lanjut Wakkary, sesuai informasi Kementerian Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi tentang rasionalisasi, 2017 nanti akan dilakukan perampingan pegawai. Sasaran utamanya adalah  pegawai yang memiliki SDM lemah.

“Masih ada kesempatan bagi ASN untuk membenahi diri sebelum 2017. Kalau ingin sekolah silahkan. Namun, terpenting adalah meningkatkan kinerja dan pelayanan terhadap masyarakat. sebab itu indikator utama,” terangnya.

Menurut Wakkary, saat ini BKDD Manado sementara lakukan evaluasi dan penilaian bagi ASN.

“Tidak main-main. Kami akan buat tim untuk itu. Bukan hanya untuk rasionalisasi, namun juga untuk perbaikan pelayanan terhadap masyarakat. Jika SDM buruk dirumahkan,” tegasnya.

Pengamat Pemerintahan dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Gustav Undap,  mengatakan ASN non sarjana tetap dibutuhkan. Karena banyak posisi-posisi di birokrasi tidak harus diisi sarjana.

“Tidak apa-apa. Coba tanya seorang sarjana, apakah mau ditempatkan sebagai pelaksana, driver dan petugas bawahan? Kan tidak. Apalagi kebanyakan sarjana sekarang memiliki gengsi tinggi. Contohnya di Puskesmas. Kalau semua jadi dokter, siapa petugas lapangannya?,” terangnya.

Namun begitu, kata dia, analisa jabatan tetap diperhitungkan. Dan baiknya, jika pegawai non sarjana tersebut memikirkan jenjang karier. “Karena semuanya perlu di-upgrade,” katanya. (JPG/snt/ndo/fri/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top