Ibu-ibu Perkasa yang Mencari Nafkah dengan Tenaga – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Ibu-ibu Perkasa yang Mencari Nafkah dengan Tenaga

DI tengah lalu lalang pengunjung pasar dan suara pedagang menawarkan jualan mereka, Jumat pagi (20/5) sekitar pukul 05.30 WIT, terlihat sosok perempuan yang dengan cekatan mengatur dagangannya di motor. Tak ada kesan lambat saat melihat aktivitasnya. Heni, ibu tiga anak itu sibuk mengatur sayur jualannya di atas sepeda motor yang telah menemaninya sejak tujuh tahun lalu.

Elfira, Cenderawasih Pos

Pemberani, tekun dan ulet. Itu kata yang cukup tepat untuk Heni, salah seorang dari ibu-ibu penjual sayur keliling yang harus belanja subuh di Pasar Youtefa, Abepura, Jayapura, Papua. Satu per satu kantung kresek putih berisi aneka sayuran diikatnya di atas motor, “Ini harus diikat dengan kuat, karena jika tidak akan jatuh saat saya balap, atau mungkin saat motor saya masuk lobang,” katanya disertai tawa.

Setiap hari kecuali Minggu, ia berada di Pasar Youtefa mulai pukul 04.30 WIT untuk berbelanja aneka sayuran, buah dan bumbu dari pedagang yang datang dari Arso dan Koya lalu kemudian sekalian mengaturnya.

Tempat untuk mengatur sayuran biasanya di jalan masuk menuju Pasar Youtefa ataupun di depan pertokoan. Di tempat tersebut ia dan teman-teman mengatur jualannya, kemudian di pasarkan ke berbagai wilayah di Kota Jayapura.

“Tadi keluar dari rumah pukul 04.00, kebetulan rumah dekat jadi tidak takut. Karena kondisinya memang aman di sini. Area jualan saya Waena. Teman saya ya di tempat lain, karena kami telah membagi masing-masing wilayah pemasaran,” katanya sembari mengatur cabai dan tomat di kresek putih.

Jualan sayur keliling sudah menjadi rutinitas. Keluar subuh dari rumah, lalu masuk rumah pukul 11.00 WIT kalau laris. Namun terkadang ia juga pulang lebih lambat, biasannya pukul 12.00 WIT. “Mau bagaimana lagi, selagi halal dan bisa menyekolahkan anak-anak ya kita kerjakan,” ucapnya.

Dia mengatakan, modal belanja setiap hari yang ia keluarkan Rp 800 ribu dan nantinya setelah terjual habis, maka laba bersih yang diterimanya hingga Rp 500 ribu.

Berjualan kata dia,  terkadang laku kadang juga tidak, sehingga ketika tidak laku, maka ia memilih membagikan secara gratis kepada tetangga atau orang-orang yang dikenalnya saat itu, daripada dibuang, sebab ia berprinsip bahwa rejeki sudah diatur oleh Allah.

“Jika tidak habis ya mau bagaimana lagi, selagi masih bisa saya jual untuk hari berikutnya maka saya simpan, namun jika tidak bisa lagi ya saya bagikan saja,” jelasnya.

Berkat kegigihan serta kerja kerasnya jualan sayur keliling, Heni mampu membeli mobil pick up, membeli sebidang tanah di kampung, mendirikan rumah, menyekolahkan anak serta memiliki tabungan masa depan untuk anak-anaknya.

“Setiap usaha intinya berani mengambil risiko dan berani mematok keuntungan yang berarti harus berani juga mengambil resiko untung rugi,” terangnya. (elfira/adk/jpnn)

To Top