SK Jabatan Promosi Sudah Diterima, Hakim Tipikor Bengkulu Malah Kena OTT KPK – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Hukum

SK Jabatan Promosi Sudah Diterima, Hakim Tipikor Bengkulu Malah Kena OTT KPK

FAJAR.CO.ID, BENGKULU – Tertangkapnya dua hakim tindak pindana korupsi (Tipikor) Bengkulu Janer Purba dan Toton oleh satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat karier kedua hakim tersebut hancur.

Janer Purba misalnya, selain sebagai hakim Tipikor dia juga menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kepahiang. Rencananya dia akan dipromosikan sebagai ketua PN Kabupaten Kisaran, Sumatera Utara (Sumut). Bahkan surat keputusannya (SK) sudah dia terima sebelumnya. Kini mimpi mengejar karier lebih gemilang itu sirna, setelah tertangkap tangan di oleh KPK.

“Memang SK pindahtugasnya sudah diterima sama beliau (Janer,red). Pak Janer Purba mendapat jabatan promosi sebagai Ketua PN Kisaran di Sumut,” ujar Humas PN Bengkulu, Joner Manik dilansir Rakyat Bengkulu (Jawa Pos Group), Jumat (27/5).

Disebutkan Joner, PN Kisaran merupakan pengadilan kelas II/A, namun penanganan perkaranya lebih banyak dari pada PN Kepahiang.

Sementara itu, Toton hakim tipikor yang berstatus sebagai hakim Adhoc di PN Tipikor Bengkulu dapat dipastikan tidak akan diperpanjang lagi masa jabatannya oleh majelis hakim.Selain itu masa jabatannya memang sudah akan selesai.

Berdasarkan pengalaman, kata Joner,  terkait kasus korupsi yang menimpa beberapa hakim ad-hoc selama ini, hampir semuanya dipecat dengan tidak hormat oleh majelis kehormatan hakim.

Untuk diketahui kedua terjaring dalam OTT KPK pada Senin (23/5) sore. Keduanya disangka menerima suap sebesar Rp150 juta dari dua terdakwa kasus korupsi RSUD M Yunus yang sedang diadili, yakni Syafri Syafii dan Edi Santroni.

Pemberian itu diterima kedua hakim ini melalui perantara Panitera PN Bengkulu Badaruddin. Suap itu diduga terkait kasus dugaan korupsi ‎penyalahgunaan honor dewan pembina RSUD M Yunus Bengkulu yang sedang disidangkan di PN Bengkulu.

Dalam kasus ini, penyidik KPK menyanka Edi dan Syafri sebagai pihak pemberi suap dan diduga melanggar pasal 6 ayat 1 atau pasal 6 ayat 1 huruf a atau b dan atau pasal 13 UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sementara Janner dan Toton sebagai tersangka penerima suap diduga melanggar  pasal 12 huruf a atau b atau c atau pasal 6 ayat 2 atau pasal 11 UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1  jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sedangkan Badaruddin sebagai perantara disangkakan pasal 12 huruf a atau b atau c atau pasal 6 ayat 2 atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP. (*/iil/JPG)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top