Uang Panai, Tradisi atau Gengsi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Samudera Ilmu

Uang Panai, Tradisi atau Gengsi

FAJAR.CO.ID – BAGI masyarakat suku Bugis-Makassar, uang panai dalam pernikahan adalah keharusan sebelum melangsungkan pernikahan. Uang panai adalah sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita yang merupakan bentuk penghargaan dan realitas penghormatan terhadap norma dan strata sosial.

Konon katanya, semakin tinggi pendidikan seoarang perempuan maka semakin tinggi pula uang panainnya. Bahkan persoalan uang panai ini tak jarang menjadi penghambat kaum pria menunda niatnya untuk melamar sang perempuan. Padahal menikah adalah hal yang baik. Bukankah seharusnya niat yang baik itu dimudahkan saja?.

Beberapa pekan yang lalu, jauh dari ujung barat Indonesia, tepatnya di Aceh, seorang pria menikahi perempuan pujaan hatinya hanya dengan mahar segelas air putih. Setelah mengucap ijab kabul, sang mempelai perempuan langsung meminum segelas air putih sebagai mahar pernikahannya hingga habis.

Bergeser ke Pulau Jawa, tepatnya di Lamongan seorang pria menikah dengan mahar bacaan Al quran surat Ar Rahman. Sekejap bacaan Al quran yang didengungkan sang mempelai pria membuat bulu kudu tamu yang hadir merinding. Sungguh pemandangan yang sulit kita temui di Sulawesi Selatan.

Jika melihat realitas yang ada saat ini, arti dari uang panai’ ini sudah bergeser dari arti yang sebenarnya. Uang panai’ sudah menjadi ajang gengsi atau pamer kekayaan, padahal yang kaya itu bukan mempelai laki-lakinya tetapi yang kaya adalah orang tua si lelaki.

Uang panai bukan lagi menjadi maskawin melain candu dalam sebuah pernikahan. Apakah dilarang, tentu tidak. Namun uang panai kerap menjadi momok bagi pemuda yang akan menikahi gadis Bugis-Makassar sebab jumlahnya seringkali mencekik. Pertengahan Agustus 2015 lalu, tersiar kabar sebuah pernikahan dengan uang panai tertinggi, mencapai Rp 500 juta, dari Bulukumba.

Tidak jarang pula, uang panai dijadikan sebagai ajang pembuktian keseriusan oleh pihak mempelai perempuan kepada mempelai laki-laki. Bukti keseriusan itu terjawab ketika berapa pun besarnya uang panai yang diminta oleh pihak mempelai perempuan, tanpa berpikir panjang, pihak laki-laki langsung menyetujuinya. Padahal dalam Al quran dan hadits, jelas dikatakan bahwa mahar atau uang panai jangan sampai menjadi beban dan penghambat. “Dan berikanlah mahar (maskawin) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.” [ QS. An-Nisa : 4 ], “Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” [Hr. Ahmad, Ibnu Hibban dal al-Hakim]. Semua kembali ke individu masing-masing, ketika ada niat yang kuat, selalu dibukakan jalan. Tradisi ini bukanlah sebagai media untuk mempertontonkan siapa yang ‘mahal’ siapa yang ‘murah’. Melainkan dari tradisi ini kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, harus berusaha dan bekerja keras untuk memenuhinya. Itu… (Penulis: Lukman (Redpel Rakyat Sulsel)

Click to comment
To Top