Banyak Hakim Terjaring OTT Tak Belajar dari Kasus Akil Mochtar – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Banyak Hakim Terjaring OTT Tak Belajar dari Kasus Akil Mochtar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Mantan Anggota Panitia Seleksi (Pansel) pimpinan KPK jilid IV Harkristuti Harkrisnowo prihatin masih banyaknya aparat penegak hukum yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) karena terlibat kasus suap.

Tuti -sapaan akrabnya- menilai para hakim tersebut tidak mengambil pelajaran dari kasus-kasus korupsi para hakim terdahulu. Tuti mencontohkan kasus suap sengketa pilkada yang menjerat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar.

Dalam kasus tersebut, Akil divonis dengan hukuman pidana penjara seumur hidup.

“Kenapa ya sudah ada hakim yang dihukum seumur hidup ketua MK, terus masih ada hakim-hakim lain di tingkat yang lebih rendah melakukan tindak pidana korupsi serupa,” kata Tuti usai menghadiri acara peluncuran buku Kompleksitas Perkembangan Tindak Pidana dan Kebijakan Kriminal di gedung Lemhannas, Jakarta, Sabtu (28/5).

Tuti menuturkan, sangat menyedihkan saat aparat penegak hukum dari lembaga peradilan yang seharusnya memberikan keadilan bagi masyarakat justru tersandung kasus hukum. Menurut dia, para hakim tersebut nampak tidak jera meski sudah ada ancaman hukuman pidana yang berat.

“Ternyata walaupun ada hukuman yang berat, sudah ada contoh, ini tidak membuat mereka itu tercegah untuk melakukan kejahatan,” ujar pakar hukum pidana tersebut.

Oleh karena itu, Tuti berharap Komisi Yudisial memperkuat pengawasan terhadap hakim-hakim yang ada. Termasuk, kepada hakim nakal yang menerima suap.

Sepanjang 2016, tercatat KPK menangkap sejumlah aparat penegak hukum dalam operasi tangkap tangan (OTT). Di antaranya, Kasubdit Kasasi Pranata Perdata dan Khusus Mahkamah Agung Andri Tristianto Sutrisna, dua jaksa Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Deviyanti Rochaeni dan Fahri Nurmallo.

Yang terbaru, KPK menangkap Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang sekaligus Hakim Tipikor Bengkulu Janner Purba dan Hakim Ad hoc Pengadilan Negeri Tipikor Bengkulu Toton.

Keduanya diduga menerima suap dari dua mantan pejabat RSUD M Yunus Bengkulu Syafri Syafii dan Edi Santroni sebesar Rp 150 juta. Syafri dan Edi menginginkan vonis bebas atas sangkaan korupsi penyalahgunaan honor dewan pembina RSUD M Yunus Bengkulu tahun 2011. (put/jpg)‎

loading...
Click to comment
To Top