Pernah Perang di Fallujah, Tulisan Veteran AS Ini Bikin Sedih – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Internasional

Pernah Perang di Fallujah, Tulisan Veteran AS Ini Bikin Sedih

falluj

FAJAR.CO.ID, – Menurut para pengamat, perang panjang yang berlangsung di Timur Tengah, tidak lepas dari kepentingan Amerika di kawasan tersebut. Para prajurit yang dikirim ke sana, banyak yang gila, dan stress. Mereka tidak paham untuk apa dan siapa yang mereka lawan.

Seperti dilansir dari theguardian.com, (22/12/2011), berikut ini salah satu tulisan yang ditulis oleh seorang tentara AS yang pernah berperang di Fallujah, Ross Caputi, yang tidak mengerti hakikat apa yang terjadi :

“Sudah tujuh tahun berlalu sejak berakhirnya pengepungan kedua [kota] Fallujah – Serangan Amerika Serikat itu, telah meninggalkan kotanya menjadi reruntuhan puing, membunuh ribuan warga sipil, dan membuang ratusan ribu lebih ; serangan yang meracuni sebuah generasi, [menyebabkan] wabah kepada orang-orang yang hidup di sana dengan kanker dan anak-anak mereka cacat sejak lahir.

Sudah tujuh tahun berlalu dan kebohongan yang membenarkan penyerangan itu, masih melanggengkan keyakinan palsu tentang apa yang telah kita lakukan.

Para veteran Amerika yang berperang di sana, masih tidak memahami siapa yang mereka lawan, atau untuk apa mereka berperang.

Saya tahu, sebab saya adalah salah satu dari para veteran Amerika. Di mata banyak orang yang saya “layani”, rakyat Fallujah tetap diperlakukan tidak manusiawi dan pejuang perlawan mereka masih diyakini sebagai teroris. Tapi tidak seperti kebanyakan teman-teman seperjuanganku, saya paham bahwa saya adalah aggressor, dan para pejuang Fallujah sedang mempertahankan kota mereka.

Ini juga merupakan tujuh tahun kematian kedua teman dekatku, Travis Desiato dan Bradley Faircloth, yang terbunuh saat pengepungan. Kematian mereka tidaklah heroic ataupun mulia. Kematian mereka tragis, namun adil.

Bagaimana bisa saya menyesal atas kematian temanku pada pertempuran Fallujah, saat saya tahu bahwa saya akan melakukan hal yang sama jika saya pada posisi mereka? Bagaimana bisa saya salahkan mereka ketika kita adalah aggressor?

Malahan itu bisa saja saya, bukan Travis atau Brad. Saya membawa sebuah radio di punggung saya, yang menjatuhkan bom yang membunuh warga sipil dan mengurangi Fallujah untuk memberontak. Jika saya warga Fallujah, saya akan bunuh siapapun seperti saya. Tidak ada pilihan. Nasib kota dan keluargaku tergantung atas hal itu. Saya akan membunuh tentara asing.

Travis dan Brad keduanya merupakan korban pelaku kejahatan. Mereka terbunuh dan mereka membunuh lainnya karena sebuah agenda politik dimana mereka hanyalah pion. Mereka merupakan tangan besi dari imperium Amerika, dan sebuah kerugian yang dapat dibuang di mata para pemimpinnya.

Saya tidak melihat kontradiksi apapun, dalam merasa simpati atas kematian Marinir AS dan prajurit, serta dalam waktu bersamaan merasa simpati terhadap warga Fallujah yang tewas oleh senjata mereka. Kontradiksi ini terletak pada kepercayaan bahwa kita adalah para pembebas, sementara faktanya kita menekan kebebasan dan keinginan warga Fallujah. Kontardiksi ini terletak pada keyakinan bahwa kita adalah para pahlawan, sementara definisi “Pahlawan” kosong hubungannya dengan aksi kita di Fallujah.

Apa yang kita lakukan terhadap Fallujah tidak dapat diselesaikan, saya tidak ada maksud dalam menyerang orang-orang di bekas unit saya.  Yang ingin saya serang adalah kebohongan dan keyakinan palsu. Saya ingin menghancurkan prasangka yang mencegah dari menempatkan diri kita ke sepatu orang lain dan mempertanyakan kita, apa yang akan kita lakukan jika sebuah tentara asing menginvasi negara kita serta membuat pengepungan terhadap kota kita.

Saya mengerti psikologi yang menyebabkan para aggressor menyalahkan korbannya. Saya tahu mekanisme pembelaan dan pembenaran. Saya paham [rasa] emosi yang mendorong untuk membenci orang-orang yang membunuh seseorang yang kau cintai. Tapi untuk menggambarkan psikologi yang memelihara keyakinan dusta seperti itu, bukan berarti mengabaikan kebenaran moral objektif, dimana tidak ada penyerang yang pernah bisa menyalahkan para korbannya saja untuk membela diri mereka sendiri.

Penyimpangan moralitas yang sama telah digunkana untuk membenarkan serangan terhadap orang asli Amerika [suku Indian], orang Vietnam, El Savador, dan Afghan. Ini adalah cerita yang sama, terulang lagi dan lagi. Orang-orang tersebut telah diperlakukan tidak manusiawi, Tuhan mereka – memberikan hak untuk mempertahankan diri telah dibenarkan, perlawanan mereka telah dibingkai sebagai terorisme, dan para prajurit AS dikirim untuk membunuh mereka.

Sejarah telah melindungi kedustaan ini, menormalisasikannya, mensosialisasikannya ke dalam kebudayaan kita : begitu banyak hingga kebenaran perlawanan terhadap agresi Amerika tidak dapat dimengerti oleh sebagian mayoritas, bahkan mengajukan pertanyaan seperti ini dianggap non-Amerika.

Sejarah telah mendifinisikan veteran AS sebagai pahlawan, dengan demikian telah mendifinisikan siapapun secara otomatis yang melawannya [AS] sebagai orang yang buruk. Telah diputar dibalikan peran agresor dan pejuang, moral dan im-moral, dan dibentuk pemahaman masyarakat kita tentang perang saat ini.

Saya tidak dapat membayangkan sebuah langkah lebih yang penting tehadap keadilan dari pada menempatkan sebuah akhir kepada kebohongan ini, dan mencapai kejelasan moral atas isu ini. Saya melihat tidak ada isu yang lebih penting dari pada pemahaman yang jelas antara perbedaan agresi dan mempertahankan diri, dan untuk mendukung perjuangan yang benar. Saya tidak bisa membenci, menyalahkan, menyesalkan, atau marah terhadap warga Fallujah yang menyerang balik ke kita. Saya setulusnya menyesali atas peran yang saya mainkan pada pengepungan Fallujah yang kedua, dan saya berharap suatu saat tidak hanya Fallujah, tapi seluruh Iraq akan memenangkan perjuangannya”[fajar/guardian]

loading...
Click to comment
To Top