Bahaya Dengki – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Bahaya Dengki

hasad

FAJAR.CO.ID, – “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Demikian penggalan firman Allah dalam QS Al Baqarah ayat ke 30.

Tapi iblis sesal. Jilatan lidah api dengki berkobar-kobar di dalam dadanya. “Bagaimana bisa, makhluk baru ini ‘dilantik’ sebagai Khalifah. Sementara aku [iblis], telah beribadah selama ribuan tahun, dari sudut-sudut bumi hingga ke jajaran malaikat tak dijadikan sebagai Khalifah. Bagaimana mungkin hal itu terjadi, padahal ibadahku telah membuat para malaikat berdecak kagum?” Begitu kira-kira yang terkulum dalam dadanya.

“Aku lebih baik dari dia”, kata Iblis seperti yang difirmankan Allah. “Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” [QS AL A’raf : 12]

Dengki iblis menjadi-jadi. Ia memilih menjadi musuh abadi sang Khalifah. Dengki telah melahap amalannya, seperti jilatan api membakar reranting kering. Menjadi arang tiada tersisa.

Dengki memang racun paling mematikan. Andai boleh berandai, sekiranya api dengki yang menyala di dada iblis, bisa ia redam dengan siraman ayat : “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”[QS Al Maidah 54], mungkin alur cerita akan berbeda, seperti yang lazim kita mafhumi. Namun, pena telah diangkat dan lembaran telah mengering.

Celakalah dengki, adalah ia kanker paling kronis bagi keselamatan hati tiap-tiap insan. Memotong dan mencincang halus-halus tali persaudaraan. Inilah dosa pertama manusia yang bermuara pada pembunuhan. Tersebab dengki, Qabil membunuh Habil, saudara serahimnya.

Persembahan Qabil ditolak sementara milik Habil diterima. Artinya, demikian seperti dinukil Ibnu Jauzy dalam At Tabshiroh, Habil berhak menikahi si Qalima yang jelita, saudara kembaran Qabil. Tapi apa boleh dikata. Dengki menutup mata. Maka tamatlah saudara serahimnya.

Andai saja jilatan api yang berkobar di dadanya, disirami dengan kesadaran seperti ayatNya : “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”[QS Al Maidah 54], maka mungkin akan lain ceriteranya.

Perhatikan dan tengoklah hati masing-masing kita. Sebab, betapa banyak kebenaran ditolak tersebab dengki. Betapa banyak orang-orang yang benar didustai dan difitnahi, sebab si pendengki merasa paling baik. Tidak ada jaminan, bagi siapapun untuk selamat darinya. Kamu ataupun juga aku. Maka periksalah hati selalu. Sebab, rambatan dan jilatan api dengki terkadang lebih halus dari rangkakan semut.

Tersebab dengki pula, Abu Jahl, orang yang dianggap paling cerdas di penduduk Mekkah, merasa paling berhak mendapat gelar kenabian dari pada Nabi Muhammad SAW.

Langit badar baru saja turunkan gerimis. Tanah dan pasirnya masih basah. Udara pagi berhembus menyapa lembah yang akan menyejarah ini. Terdengar sebuah suara melengking, “Ya Allah, jika Al quran ini benar-benar kebenaran dari Engkau,’’ seru Abu Jahl, “maka hujanilah kami dengan batu dari langit dan datangkanlah kepada kami azab yang pedih” Maka berkahirlah riwayat Abu Jahl. Bukan bersebab tidak dapat melihat cahaya kebenaran, namun karena dengki menutup hatinya.

***
Maka siapapun dia, bila Allah memberikannya keuatamaan. Maka janganlah didengki tapi ridhoilah. Bantulah dia. Tidakkah telah sampai pada kita ayat “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”[QS Al Maidah 54].

Segala Puji Milik Allah yang Maha Adil

loading...
Click to comment
To Top