Lampu Hijau: Ahok-Djarot akan Berpasangan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Jabodetabek

Lampu Hijau: Ahok-Djarot akan Berpasangan

thumb_23008_09560601062016_ahok-djarot

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta,  Basuki T. Purnama, diprediksi akan berpasangan dengan wakilnya saat ini, Djarot Saiful Hidayat, pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 mendatang. Lampu hijau untuk menduetkan Ahok- Djarot semakin jelas dengan setidaknya oleh dua penanda utama dalam satu dua hari terakhir.

Yaitu ketika Ahok “mengancam” bakal calon pasangannya Heru Budi Hartono jika mundur dari pencalonan. Penanda kedua adalah ketika Djarot membuka peluang dirinya untuk disandingkan sebagai pasangan Ahok dalam Pilkada DKI 2017 nanti.

Penilaian tersebut disampaikan peneliti Sinaksak Center DR. Osbin Samosir lewat keterangan tertulis yang diterima malam ini, Rabu (1/6).

“Saya kira ini hasil hitung-hitungan matang dari PDI Perjuangan yang tidak mau takabur dengan mengusung calon di luar Ahok. Pilihan PDI Perjuangan ini akan membuat massa fanatik kedua belah pihak yakni pendukung Ahok dan massa ideologis PDI Perjuangan akan merapatkan barisan,” ungkapnya.

Menurutnya, jika hal ini sampai, maka hampir bisa dipastikan tidak bakal banyak pasangan calon yang berani menghadapi pasangan petahana ini. Massa ideologis PDI Perjuagan dan massa pendukung Ahok akan dengan mudah bersinergi menyatukan kekuatan.
 
“Bisa saja pasangan yang paling mungkin menjadi pesaing petahana ini adalah calon yang diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera,” sambung doktor Ilmu Politik lulusan Universitas Indonesia ini.

Pengajar Ilmu Politik Fisipol Universitas Kristen Indonesia ini menilai bahwa tentu saja masalah yang muncul adalah bahwa kubu Teman Ahok harus merelakan dukungannya bahwa Ahok akhirnya diusung oleh partai politik. Masalah lain bahwa jika Ahok maju dari PDI Perjuangan, koalisi gemuk di  DKI Jakarta akan terjadi.
 
“Dalam demokrasi, koalisi gemuk akan menjadi masalah karena menunjukkan rendahnya kaderisasi di internal partai. Sebuah keprihatinan demokrasi atas kegagalan fungsi partai mengusung kadernya,” ujar anggota Forum Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia ini.[zul/Rmol/fajar]

loading...
Click to comment
To Top