Kematian Mahasiswi UMI Makassar tak Wajar, Polisi akan Usut Pelaku – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Makassar

Kematian Mahasiswi UMI Makassar tak Wajar, Polisi akan Usut Pelaku

45-2

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR,— Hj Rezky Evienia Syamsul (22), mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengembuskan nafasnya yang terakhir, Selasa (7/6) pukul 06.00 Wita. Ia diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan seniornya.

Nyawa Rezky tak bisa diselamatkan setelah menjalani masa kritis selama 30 jam di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Putri Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pemkab Mamuju, Sulawesi Barat ini meninggal akibat mengalami pendarahan pada bagian kepala dan kritis tidak sadarkan diri.

”Sebelum dilarikan ke RS, adik saya usai mengikuti kegiatan study club (SC) di Desa Tombolo Pao, Kecamatan Malino, Kabupaten Gowa,” ujar kakak sepupu korban, Asriadi kemarin. 

Bersama rekannya, korban mulai menjalani SC pada Jumat malam (3/6).

Mendengar kabar meninggalnya Rezky Evienia, pihak kampus UMI langsung menggelar konferensi pers di Aula Ibnu Sina, kemarin.

Keterangan disampaikan Wakil Dekan III FK UMI, Sulthana Moktar. Dengan tegas, ia membantah kalau Rezky meninggal akibat dianiaya seniornya.

”Kami sudah berkomunikasi dengan keluarga Rezky terkait kasus ini. Saya sudah bertemu dengan ayahnya. Pihak keluarga bilang sama saya, jangan dengarkan apa kata media,” kata Sulthana.

Karenanya, dia mengaku tidak tahu menahu kalau ada keluarga yang melapor ke polisi terkait kejadian yang menimpa mahasiswi angkatan 2014 itu.

”Saya tidak tahu keluarga mana yang melapor ke polisi. Kalau menurut saya, keluarganya itu adalah ayah dan ibunya,” ujarnya.

Sebelumnya, Asriadi memang melaporkan kejadian yang menimpa adik sepupunya ini ke pihak kepolisian dengan tuduhan penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan seorang mahasiswi meninggal, dilaporkan pada Selasa (7/6). 

Pelapor bernama Asriadi (28), warga Jalan Perintis Kemerdekaan.

Ia melaporkan bahwa Reski Evienia meninggal dunia akibat dianiaya. 

Diduga pelakunya adalah panitia pelaksana SC TBM FK UMI.

“Kematian korban ini sudah dilaporkan secara resmi. Diduga ada tindakan yang terjadi dengan tidak wajar. Jadi wajib bagi polisi menindaklanjuti laporan itu,” ujar Frans Barung, kemarin.

Menurut Barung, pada saat korban masih terbaring di ruang ICU, ia sudah diminta melaporkan dugaan kasus penganiayaan tersebut. Setelah laporannya masuk, Polda Sulsel memerintahkan Kapolres Gowa untuk segera mengumpulkan bahan dan keterangan guna mengetahui ada tidaknya tindak pidana.

”Kita ingin mengetahui apakah ada unsur kelalaian atau kesengajaan dalam kasus ini. Semuanya harus disampaikan secara jelas kepada publik dan media,” kata Frans Barung.

Menurut perwira dengan tiga melati di pundaknya ini, ada dua hal yang dapat dijadikan dasar oleh polda dalam menyingkap tabir kasus ini. Pertama adalah kematian korban, dan kedua keteranagn medis melalui visum.

“Kami harap teman-teman media dan masyarakat untuk membantu melaporkan kepada Polda Sulsel apabila mendengar dan melihat peristiwa tindak pidana tersebut.

Kita juga sudah membentuk tim untuk menyelidiki kasus ini. Bukti-bukti berupa percakapan Line senior almarhum sudah kami pegang. Kami juga sudah memeriksa saksi,” beber Frans.

Menurut Fransi, keluarga korban mengaku bahwa Rezky telah dianiaya. Sebagai bukti, mereka menunjukkan bukti adanya cairan yang disedot dari paru-paru almarhum Rezky.

”Sementara kita cari siapa pelakunya. Cepat maupun lambat pasti kami akan ungkap,” tandas Frans Barung.

Ditemui di Mamuju, kemarin, paman korban, Muh Rusdi bersikeras kasus kematian ponakannya diusut hingga tuntas oleh polisi. Sebab bukti-bukti terjadinya penganiayaan cukup kuat.

”Sangat tidak manusiawi pengkaderan yang dilakukan di Tombolo Pao. Dilakukan tengah malam. Ada bukti lebam-lebam di lengan korban,”ujar Muh Rusdi.

Diapun sangat menyesalkan panitia pelaksana SC dari FK UMI yang terkesan menutup-nutupi kejadian ini. Apalagi pihak keluarga mengetahui kalau Rezky ada di rumah sakit, setelah pihak RS menelepon. Bukan dari pihak kampus.

”Korban awalnya dibawa dari Gowa ke RS Faisal. Dia tak sadarkan diri. Kami tahu itu setelah ditelepon oleh pihak rumah sakit,” kata Muh Rusdi yang merupakan saudara dari Hj Rahmania, ibunda korban Rezky.

Sementara bapak korban, Syamsul Suddin belum bisa dimintai keterangannya. Dia beberapa kali pingsan sesaat setelah jenazah putri pertamanya itu tiba di rumah duka Jalan Nelayan, Kota Mamuju, pukul 16.30 Wita, kemarin. Rencananya, jenazah almarhumah akan dimakamkan hari ini, Rabu (8/6). (ish-ala/rus/b/bkm/fajar)

 

loading...
Click to comment
To Top