Keren.. Cerita Pengusaha Mualaf Tetang Ibadah Puasanya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Keren.. Cerita Pengusaha Mualaf Tetang Ibadah Puasanya

Tri Widjianto

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Hari Tri Widjianto baru tiga tahun menjadi mualaf. Dengan begitu, tahun ini adalah kali ketiga pengusaha kayu itu bertemu dengan bulan Ramadan.

Setiap Ramadan, menurut pria ramah ini, yang paling melekat dalam dirinya selain saat kenikmatan menjalankan ibadah puasa dan ibadah lain kepada Allah SWT, juga karena sang istri selalu setia menemaninya saat berbuka maupun sahur.

“Istri saya masih nasrani, begitu pula di keluarga saya, hanya saya yang muslim. Akan tetapi, dukungan dari mereka begitu luar biasa sehingga membuat saya mantap dan semangat beribadah,” papar laki-laki yang pernah menjadi relawan Jokowi saat mencalonkan diri sebagai presiden itu.

Memang tidak ada yang spesial dengan menu makanan saat buka atau sahur. Apalagi, Hari mengaku justru lebih sering makan di luar atau membeli makanan dari luar.

Tapi kesetiaan dan dukungan terhadapnya untuk menjalani agama barunya membuat Hari merasa sangat beruntung.

Dia bercerita bahwa keputusannya memeluk Islam dan mengucapkan kalimat syahadat terjadi secara spontan.

Dirinya memang dekat dengan para petinggi Nadhlatul Ulama, khususnya Sekjen PBNU Marsudi Syuhud.

Saat menghadiri pengajian rutin di kediaman Marsudi lah, secara tiba-tiba, Hari ingin memeluk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Padahal, sebelumnya saya belum pernah memelajari Islam dan belum bertanya atau minta izin kepada keluarga ataupun istri saya lebih dulu. Namun tiba-tiba, keinginan dan niat saya begitu kuat untuk jadi seorang muslim.

Alhamdulillah, ternyata keluarga dan istri tidak mempermasalahkan, justru mendukung saya,” tutur laki-laki yang kini aktif di PBNU sebagai pengurus Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) itu.

Lebih jauh, laki-laki yang berdomisili di kawasan Margomulyo ini mengaku tidak merasa kesulitan harus menjalani berbagai ibadah bagi umat Islam, termasuk puasa.

Karena, dia sudah terbiasa puasa Senin-Kamis ataupun membatasi makan. Tapi yang dirasanya sedikit lebih berat adalah menahan emosi, apalagi saat sedang banyak pekerjaan.

“Tapi itu menjadi pelajaran bagi saya agar bisa mengendalikan dan menata emosi. Termasuk lebih baik lagi dalam beribadah,” kata suami dari Erfina Irawati ini.

Sebagai mualaf, Hari mengaku dirinya masih memiliki beberapa pikiran dan kesedihan karena penampilannya yang bertato serta merupakan keturunan Tionghoa kerap disepelekan dan dituduh yang macam-macam.

Apalagi saat masuk masjid untuk menunaikan salat berjamaah atau salat Jumat, banyak orang yang melihatnya dengan pandangan yang lain.

“Saya tidak ingin mengubah penampilan. Saya tetap ingin menjadi diri sendiri dengan penampilan seperti biasanya. Saya lebih sering memakai baju atau kaos pendek, dan jarang menggunakan baju panjang sehingga tatotato saya kelihatan. Tapi saya tidak ambil hati, karena ibadah urusan saya dengan Tuhan,” tukasnya.(nur/jay)

loading...
Click to comment
To Top