Astaga.. Aliran Ini Bolehkan Seks dan Larang Berpuasa – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kriminal

Astaga.. Aliran Ini Bolehkan Seks dan Larang Berpuasa

aliran-sesat

FAJAR.CO.ID, BOGOR- Warga kabupaten Bogor kembali dikejutkan dengan kehadiran aliran sesat bernama Pajajaran Panjalu Siliwangi, yang dipimpin oleh Agus Sukarna. Aliran ini melarang pengikutnya untuk berpuasa dan bebas melakukan seks. Menurut warga, aliran ini pernah ada waktu dulu, namun sudah hilang.

Merasa Geram, Warga Kampung Pasirpeuteuy, Desa Karyamekar, Kecamatan Cariu, langsung mendatangi kelompok ini, dan Warga menyeret sang pimpinan ke Kantor Keca­matan Cariu.

”Ratusan warga memenuhi kantor dan meminta Agus dan peng­ikutnya diusir dari Cariu,” kata Camat Cariu, Didin Wahidin, seperti dikutip dari JPNN, (Jawapos Grup).

Setelah dilakukan mediasi, kata Didin, Agus dan kelompoknya memilih keluar dari Cariu. “Mereka menyanggupinya,” imbuhnya.

Informasinya, ajaran ini mem­bolehkan pengikut mereka untuk tidak salat dan ber­puasa. ”Ajaran ini melarang berpuasa karena ibadah puasa menurut mereka per­buatan yang menyiksa diri dengan tidak makan dan minum,” jelas Didin.

Yang lebih berbahaya, kata Didin, ajaran ini mensahkan berhubungan suami istri dengan pasangan lain sesama pengikut ajaran Pajajaran Panjalu Siliwangi. “Harus diwaspadai dan jadi penga­wasan kita agar ajaran-ajaran seperti ini tidak bermunculan lagi,” harapnya.

Menurut Didin, pengikut ajaran Pajajaran Panjalu Siliwangi bukanlah warga Cariu. Mereka merupakan pengikut lama dan di Cariu, Didin hanya menemukan satu warganya yang menjadi kor­ban.
“Saya imbau warga serta kepala desa dan RT RW untuk selalu mewaspadai warga pendatang agar aliran sesat dan menyesatkan se­perti ini tak lagi bermun­culan,” katanya.

Sejak keberadaannya, Didin mengaku pihak Muspika Ca­riu telah mendatangi padepo­kan kelompok tersebut ber­sama MUI setempat. “Kami sempat meminta mereka menghentikan kegiatannya,” ujar Didin.

Namun, menurut Didin, kelompok tersebut tak meng­gubrisnya hingga MUI setem­pat kewalahan untuk me­nyadarkan kelompok ini hingga akhirnya warga men­gusirnya. (edi/ads/c/er/wan)

loading...
Click to comment
To Top