Ini Alasan Kantong Plastik Berbayar Sudah Berlaku Nasional – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Ini Alasan Kantong Plastik Berbayar Sudah Berlaku Nasional

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Dinilai sangat efektif, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali memperpanjang masa uji coba terhadap kantong plastik berbayar, alias kantong plastik tidak gratis kepada toko ritel modern dengan skala nasional.

Sebelumnya, uji coba ini hanya berlaku di 27 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Perpanjangan yang termaktub dalam Surat Edaran (SE) KLHK Nomor SE.6/PSLB 3/PS/PLB.0/5/2016 tersebut diberlakukan hingga terbitnya Peraturan Menteri (Permen) LHK tentang pembatasan kantong plastik.

Direktur Pengelolaan Sampah Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK Sudirman mengatakan bahwa perpanjangan tersebut dilakukan karena masyarakat dan peritel dinilai sudah semakin sepaham mengenai perlunya mengurangi limbah plastik dari penggunaan kantong plastik secara lebih masif. Hal tersebut didasari dari hasil monitoring dan evaluasi (monev) pihaknya pemberlakuan KPTG di 27 kota/kabupaten.

“Dari hasil monitoring di 27 kota/kabupaten didapatkan bahwa adanya pengurangan penggunaan kantong plastik sebesar 25 persen hingga 30 persen,” kata Sudirman saat memimpin rapat monev KPTG bersama sejumlah pimpinan daerah di Kompleks KLHK, Kebon Nanas, Jakarta Timur (Jaktim), Rabu (8/6).

Selain itu, sebagian masyarakat yang disurvei terkait pemberlakuan KPTG tersebut memberikan tanggapan yang beragam. Sudirman memaparkan bahwa 80 persen responden menyatakan sepakat bahwa penggunaan kantong plastik harus ditekan dengan cara memasang tarif alias tidak digratiskan.

Sementara, sisanya yakni 20 persen responden masih protes karena menganggap kantong plastik yang biasa mereka dapatkan saat berbelanja di toko ritel merupakan haknya. “Jadi mereka bilang harga yang diberlakukan yakni Rp 200 per lembar kantong plastik itu terlalu mahal,” ujar Sudirman.

Dia juga menuturkan bahwa selain diterapkan dengan cangkupan wilayah yang lebih luas, uji coba tersebut juga diterapkan di seluruh toko ritel modern, baik yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) maupun selain itu. “Jumlahnya ada 90 ribu toko ritel modern,” ungkapnya.(dod/JPG)

Click to comment
To Top