Wow, 60 Persen Dosen Kopertis di Jatim Belum Sertifikasi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Wow, 60 Persen Dosen Kopertis di Jatim Belum Sertifikasi

Dosen Kopertis VII

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Para dosen di kawasan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VII Jawa Timur harus terus meningkatkan kompetensinya. Berdasar data, lebih dari separo di antara 16 ribu dosen di Kopertis Wilayah VII belum mengikuti sertifikasi.

Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur Suprapto menuturkan, seperti sertifikasi guru, sertifikasi dosen penting sebagai bentuk pengakuan kompetensi para dosen.

Apalagi di era persaingan yang semakin terbuka saat ini. Suprapto memerinci, 16 ribu dosen tersebut terdiri atas 1.400 dosen PNS. Selebihnya terdiri atas dosen non-PNS atau dosen yayasan. Dari 1.400 dosen PNS, lebih dari 50 persen sudah mengikuti sertifikasi dosen. ”Tapi, ini sudah berkurang juga, sisanya tinggal 30 persen,” katanya.

Pada 2014 sebanyak 305 dosen sudah mengikuti sertifikasi dosen. Lalu, pada 2015 jumlah peserta sertifikasi dosen bertambah menjadi 806 dosen. Suprapto menargetkan, ada seribu dosen yang bisa ikut sertifikasi tahun ini. Untuk mengikuti sertifikasi dosen, ada ketentuan yang harus dipenuhi.

Menurut Suprapto, dosen yang bersangkutan harus sudah asisten ahli selama dua tahun. Jika syarat itu sudah terpenuhi, dosen tersebut bisa mengajukan sertifikasi. Selain itu, ada dokumen dan portofolio yang juga harus dilengkapi. Portofolio yang dimaksud, pengalaman-pengalaman mengajar dan evaluasi diri.

”Termasuk riset-riset dosen,” jelasnya. Untuk dosen non-PNS, Suprapto mengakui masih banyak yang belum tersertifikasi. Jumlahnya mencapai 60 persen.

Kendalanya, kata dia, terletak pada persyaratan yang harus dipenuhi. Yakni, harus menjadi asisten ahli selama dua tahun lebih dulu. Selain itu, para dosen juga sudah harus menempuh studi S-2.

”Kalau belum, ya belum bisa,” katanya. Suprapto menyatakan, sertifikasi dosen memang harus dilakukan. Seperti sertifikasi guru, sertifikasi dosen juga menjadi pengakuan kompetensi para dosen.

Mereka yang sudah tersertifikasi akan mendapat tunjangan profesi dari pemerintah. Besarannya bisa lebih dari satu kali gaji per bulan. Karena itu, pihaknya mengimbau perguruan tinggi swasta agar terus berbenah. Terutama pada peningkatan kualitas SDM.

Sebab, hal tersebut menjadi salah satu dari empat prioritas dalam penilaian sebuah perguruan tinggi. Yakni, tata kelola kelembagaan dan kerja sama; sumber daya manusia, baik dosen maupun karyawan; penelitian pengabdian masyarakat; serta pembelajaran dan kemahasiswaan.

Sementara itu, terkait dengan dua perguruan tinggi swasta di Surabaya yang mengajukan protes terhadap penghargaan anugerah kampus unggulan (AKU) yang dinilai tidak fair, Suprapto mengaku sudah memberikan penjelasan kepada kampus yang bersangkutan.

Penjelasan tersebut dilakukan melalui surat. Isinya, klarifikasi mengenai hal-hal yang diproteskan. Dengan begitu, tidak ada lagi persoalan yang diperdebatkan. Pihak kampus, jelas dia, juga sudah mengakui kesalahannya. ”Sudah terklarifikasi,” ucapnya.

Suprapto menjelaskan, mengenai penghargaan AKU, penilaian memang dilakukan secara proaktif. Artinya, pihak kampus yang semestinya berinisiatif mengirimkan update kepada Kopertis Wilayah VII Jawa Timur. ’’Harusnya menyampaikan, bukan diminta,’’ tuturnya. (puj/c20/fal/sep/JPG)

loading...
Click to comment
To Top