Pedagang Pasar Sentral Makassar Mengaku Keberatan dengan Harga… – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ekonomi & Bisnis

Pedagang Pasar Sentral Makassar Mengaku Keberatan dengan Harga…

Chairil-Pembangunan-Pasar-Sentral-2

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR, — Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Sentral Makassar (APPSM), Andi Parenrengi mengaku sangat keberatan dengan harga los dan kios yang ditetapkan pengembang PT Melati Tunggal Inti Raya (MTIR) yang dinilai sangat tinggi.

Menurutnya, proses pembangunan yang dilakukan PT MTIR merupakan kewajibannya sebagai pihak pengembang, di mana jika suatu saat gedung Makassar Mall mengalami kebakaran, maka pengembanglah yang wajib melakukan perbaikan sesuai dengan perjanjian asuransi yang telah disepakati. Namun tidak sertamerta menaikkan harga yang terbilang tinggi dengan kondisi kios dan los yang tidak sesuai.

“Sebagai ketua APPSM yang mewakili sejumlah pedagang Pasar Sentral, saya sangat keberatan dengan harga kios dan los yang ditetapkan MTIR. Karena pembangunan gedung Pasar Sentral pasca terbakar, merupakan kewajiban dari pihak MTIR sesuai perjanjian yang ada,” kata Andi Parenrengi saat dihubungi BKM, Jumat (10/6).

Tingginya harga kios dan los yang ditetapkan pihak MTIR yang dimaksud para pedagang, disebabkan karena tidak sesuai dengan ukuran tempat berjualan yang disediakan. Padahal, jika merujuk pada sertifikat yang dimiliki para pedagang, masing-masing memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari kios dan los yang ada saat ini, yakni berukuran 2×1,5 meter.

“Semua pedagang yang terkena musibah punya sertifikat sesuai luas kios yang dimiliki. Sementara kios dan los yang saat ini dibangun MTIR tidak sesuai dengan ukuran yang dimiliki para pedagang di dalam sertifikatnya. Artinya, kios dan los sekarang jauh lebih kecil dari yang ada di sertifikat. Sementara pihak MTIR juga menaikkan harga. Pasti kami keberatan,” cetusnya. Seperti Dilansir BKM/Fajar Group.

Terkait pernyataan pihak MTIR yang mengatakan pernah melakukan duduk bersama dengan para pedagang pada tahun 2013 lalu, Andi Parenrengi membenarkan hal itu. Bahkan dia mengaku ada sebagian para pedagang sempat membayar panjar sebesar Rp2,5 juta. Namun pembayaran itu dilakukan karena adanya ancaman dan initimasi dari pihak MTIR.

“Memang, di tahun 2013 lalu kita sempat melakukan duduk bersama antara MTIR dan pedagang Pasar Sentral terkait persentase harga kios dan los. Tapi saat itu kita tidak setuju. Adapun pedagang yang rela membayar panjar sebesar Rp2,5 juta, itu dikarenakan adanya intimidasi dari pihak MTIR yang akan menghanguskan sertifikat para pedagang. Karena takut sertifikatnya hangus, terpaksa pedagang membayar panjar. Ini tidak beres,” ketusnya.

Dia berharap pihak MTIR dapat menurunkan harga sesuai arahan Wapres RI, Jusuf Kalla yang meminta untuk menurunkan harga kios yang ada di Pasar Sentral sebesar Rp20 juta per meter.
“Kita sepakat semua kalau harganya itu Rp20 juta per meter. Ini sesuai dengan arahan Wapres saat berkunjug ke Pasar Sentral,” ucapnya.

Dihubungi terpisah, Fanny Anggraeni selaku kuasa hukum PT MTIR, membantah pihaknya pernah melakukan pengancaman terhadap pedagang Pasar Sentral. Karena itu, ia meminta kepada pedagang yang merasa pernah diancam untuk membuktikan hal tersebut.

“Pihak MTIR sama sekali tidak pernah melakukan pengancaman kepada para pedagang. Apalagi untuk menghanguskan sertifikat. Kalau ada pedagang yang merasa diancam, coba tunjukkan bukti,” tegasnya.
Dia menambahkan, MTIR sama sekali tidak pernah menganggap pedagang yang ada di Pasar Sentral sebagai musuh, sehingga tidak ada ancaman ataupun intimidasi yang dikeluarkan terhadap mereka. (arf/rus/Bkm/Fajar)

loading...
Click to comment
To Top