ASTAGA! Pengumpulan KTP untuk Ahok Tak Ada yang Rill – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Jabodetabek

ASTAGA! Pengumpulan KTP untuk Ahok Tak Ada yang Rill

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Mantan Teman Ahok, Dodi Hendaryadi mengaku dikeluarkan dari kelompok relawan pendukung Basuki Tjahaja Purnama maju sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta, karena sebelumnya memanipulasi sejumlah Kartu Tanda penduduk (KTP). 

Namun manipulasi kata Dodi, terpaksa dilakukan demi mengejar target 140 KTP/minggu. “Tak ada data yang riil dan benar. Saya ikut Juni, ada bukti SP (surat peringatan), saya dicopot. Perlengkapan ditarik semua. Intinya untuk pengumpulan KTP enggak ada yang rill, sampai koordinator posko bermain semua,” ujar Dodi, Rabu (22/6).

Menurut Dodi, manipulasi KTP dari masyarakat sebagai pernyataan dukungan bagi Ahok maju dalam pilgub DKI lewat jalur independen, bukan atas inisiatif sendiri. Namun arahan dari oknum koordinator posko, yang membawahi sekitar 5-10 orang penanggungjawab pengumpulan KTP di tingkat kelurahan. 

“Jadi yang mengajari memanipulasi data itu koordinator posko, karena harus setor 140 KTP/minggu,” ujar Dodi.

Mantan penanggungjawab pengumpulan KTP untuk wilayah Kelurahan Makassar, Jakarta Timur ini kemudian memperlihatkan sebuah berkas dengan kop surat “Berita Acara Serah Terima”. Dalam berkas terdapat beberapa tulisan tangan. Antara lain, SP2 dan alasannya. Yaitu banyak formulir yang tidak ada tanda tangan dan nomor telepon genggam yang dilampirkan banyak yang salah atau fiktif. 

“Nama saya sudah enggak ada, saya sudah dipecat. Saya dapat SP-2 karena data tak riil,” ujarnya. 

Saat ditanya mengapa dalam berkas dimaksud tak terdapat logo yang menggambarkan surat berasal dari “Teman Ahok”, Dodi menilai kemungkinan langkah antisipatif untuk menghindar dari tanggung jawab. 

Karena selama ini, pencitraan yang berkembang tengah masyarakat, tim merupakan relawan. Artinya tidak bekerja berdasarkan honor. Tapi kenyataannya, menerima honor mingguan dan atas hal tersebut harus memenuhi target. Bila tidak, maka akan dikenakan surat peringatan terlebih dahulu, untuk kemudian diberhentikan.

“Jadi kalau ditanya mengapa tidak ada logo, ini permainan mereka,” ujar Dodi. (gir/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top