Pengunjung RS Fatmawati Lebih Pilih Naik Tangga – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Pengunjung RS Fatmawati Lebih Pilih Naik Tangga

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Setelah kecelakaan jatuhnya lift milik RS Fatmawati pada Minggu kemarin, membuat pengunjung RS ketakutan dan ikhtiar. Para pengunjung lebih memilih lewat tangga darurat ketimbang naik lift.

Kecelakaan yang mengakibatkan lima orang menjadi korban luka itu masih menjadi trauma tersendiri bagi pengunjung dan pekerja RS Fatmawati. Saat ini keluarga pasien dan para staf RS menggunakan lift nomor 1, atau tangga darurat untuk naik-turun. Lift nomor 1 yang terletak tepat di sebelah­nya, beroperasi secara normal. Tak hanya keluarga pasien, perawat yang membawa pasien menggunakan tempat tidur pun, menggunakan lift tersebut seperti biasa.

“Rasa waswas sih masih ada. Cuma karena kemarin saya lihat suster sudah bolak-balik bawa pasien naik lift ini, jadi saya sekarang ikut,” ujar seorang pengunjung bernama Masdi.

Maksud kedatangannya adalah untuk menjenguk sang istri yang dirawat di lantai empat. Tapi sebelumnya, Masdi memilih untuk menggunakan tangga. Ketika itu dirinya masih sangat khawatir untuk ikut menggunakan lift. “Kemarin, pas mau naik lift itu ada rasa khawatir. Mungkin karena baru kejadian. Apalagi lift yang nomor 1 juga model lama,” ucapnya.

Lift nomor 1 memang terlihat cukup jadul. Lift tersebut mirip lift barang yang berbentuk perse­gi panjang. Tombol lantainya ter­letak di dinding sebelah kanan, bukan yang berhubungan dengan pintu lift. Dindingnya yang ter­buat dari aluminium, dibiarkan polos tanpa pelapis lain.

Meski tampak jadul, namun lift tersebut bisa naik-turun den­gan cukup mulus. Pergerakannya tidak tersendat-sendat seperti lift tua kebanyakan. Saat berhenti di tiap lantainya pun tidak kasar. Maksudnya, tidak seperti ber­henti mendadak di satu lantai.

Direktur Utama RSFatmwati dr Andi Wahyuningsih Attas me­nyatakan, hal itu terjadi karena pihaknya melakukan pengece­kan rutin tiap satu bulan sekali. Kemarin, seluruh lift pun diper­iksa kembali untuk memastikan tidak adanya masalah. “Kalau kontrak service kami dengan PT MDS, punya jadwal tiap tiga bulan pengecekan. Semua dipelihara oleh pihak ketiga yang kompeten,” ujarnya di RSUP Fatmawati.

Menurut dia, saat pengecekan satu bulan terakhir, kondisi lift menunjukkan tidak ada masalah. Dia pun membantah kabar, lift terjatuh karena sling putus. “Kemarin malam tim kepolisian dan Kementerian Kesehatan me­lihat bahwa slingnya tidak putus. Setelah kejadian itu, liftnya masih bisa naik turun walaupun tidak digunakan lagi karena disegel police line. Kalau sling putus tidak bisa lagi,” terangnya.

Hasil investigasi sementara, lanjut Andi, semua tali sling aman. Pihaknya pun memperkirakan penyebab kecelakaan itu karena break-nya mengalami gangguan, sehingga lift berhenti. Dia menilai, jika slingnya putus, akibatnya akan lebih parah. Sebab, sling ibarat fraktur tulang belakang.

“Saat di lantai 4 muat 15 orang, satu orang sudah keluar di lantai tiga. Begitu keluar, lift nutup, langsung turun dikit dikit sampai lantai satu. Cuma karena tingginya 16 meter jadi begitu,” jelas dia.

Ia sempat menyebut jatuhnya lift, diduga juga karena beban yang melebihi kapasitas. Adapun pengelola lift diketahui adalah PT MDS. Pihak Kepolisian saat ini masih meminta keterangan terkait pemeliharaan dan pera­watan lift.

“Seperti yang kita ketahui orang Indonesia sukanya desak-desakan. Kemarin, satu orang sempat keluar terus masuk la­gi, main-main. Padahal sudah kita siapakan empat lift untuk pengunjung,” ujar dia.

Menurut Andi, peristiwa lift ambruk itu baru pertama kali terjadi sejak lift tersebut berop­erasi pada 1995. Namun de­mikian, pihaknya menyerahkan penelusuran penyebab insiden itu kepada polisi dalam proses penyelidikan. “Nanti biar polisi yang melakukan identifikasi,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat ini, lanjut Andi, manajemen rumah sakit akan mengevaluasi kembali kontrak kerja dengan PT MDS, selaku operator lift yang jatuh itu. Jika hasilnya terdapat dug­aan kesalahan dari pihak ketiga itu, maka akan dilakukan pemu­tusan kontrak.

“Kalau itu teknis dari kesalahan pemeliharaan, kami bisa mengevaluasi pihak ketiga ini. Kalau soal kemungkinan pemutusan kontrak itu pasti dilakukan, tapi jika memang terbukti,” tandasnya. ***

loading...
Click to comment
To Top