Data Bencana Sulut. Empat Meningal Satu Masih Hilang – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Data Bencana Sulut. Empat Meningal Satu Masih Hilang

Ilustrasi banjir
ilustrasi

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Bencana banjir dan longsor di wilayah Provinsi Sulawesi Utara, Selasa (21/6), menyebabkan empat orang meninggal, satu orang hilang, dan ratusan rumah rusak.

Hujan lebat disertai cuaca ekstrem dan gelombang tinggi menyebabkan banjir dan longsor di beberapa daerah di Sulut, Selasa pagi (21/6). Data sementara yang dihimpun Pusdalops BPBD Provinsi Sulut, bencana banjir dan longsor terjadi di Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten dan Kepulauan Sangihe.

“Hingga saat ini gelombang tinggi dan cuaca ekstrem menyebabkan akses laut menuju Kepulauan Sangihe belum dapat dilakukan dengan kapal laut. Komunikasi dengan BPBD setempat juga terkendala sehingga data masih terbatas,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Kota Manado diterjang banjir, longsor, abrasi dan angin kencang. Banyak pohon tumbang di jalan. Satu orang tewas saat kendaraannya tertimpa pohon tumbang. Di Kota Tomohon terjadi bencana longsoran di Tinoor dan beberapa titik di Kota Tomohon.

Sedangkan di Kabupaten Minahasa Selatan terjadi bencana gelombang pasang yang mengakibatkan hancur dan hanyutnya perahu motor di Amurang Timur dan juga tanah longsor di beberapa kecamatan di Minahasa Selatan.

Sementara itu, di Kepulauan Sitaro (Siau Tagulandang Biaro) terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Kec. Siau Barat Utara, Desa Kinali, Kec. Siau Timur Selatan, Kec. Siau Timur, Kec. Siau Barat. Sebanyak 23 orang mengungsi ke gereja di Desa Mini. Jembatan Batuawang Kec Siau Timur tertimbun material lahar dingin dari material erupsi Gunung Karangetang sehingga akses ibukota kabupaten ke pelabuhan Ulu-Ulu terputus. Jembatan Kiawang putus akibat banjir bandang sehingga akses 5 kampung di Kec Siau Barat Utara ke pusat kota kab/pelabuhan terputus.

“Belum ada laporan korban jiwa,” ungkap Sutopo.

Banjir, longsor, gelombang tinggi dan cuaca ekstrem juga menerjang Kabupaten Kepulauan Sangihe. Daerah berbentuk pulau-pulau kecil di paling utara Indonesia ini aksesibilitas sulit dijangkau, dan daerah kepulauan yang rawan bencana.

“Berdasarkan laporan sementara, tiga orang meninggal dan satu orang hilang, ratusan rumah rusak dan longsor terjadi di beberapa titik. Komunikasi sulit dilakukan karena listrik mati,” terang  Sutopo.

Upaya penanganan darurat terus dilakukan. BPBD dibantu TNI, POLRI, SAR, dan masyarakat setempat telah melakukan evakuasi, pendataan dan mendropping logistik berupa makanan siap saji serta peralatan tidur.

“Pendataan masih dilakukan. Posko BNPB terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota. Logistik dan peralatan bantuan BNPB di gudang BPBD dikerahkan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak,” tukas Sutopo. [rus]

Click to comment
To Top