Jakarta Butuh Pemimpin, Bukan Penguasa – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Jabodetabek

Jakarta Butuh Pemimpin, Bukan Penguasa

FAJAR.CO.ID, JAKARTA –  Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang  tempramen dan kerap melontarkan perkataan-perkataan kasar, membuat sebagian kalangan menilainya sebagai gaya kepimpinan yang arogan.

Padahal Ahok menganggap apa yang dilakukannya demi membangun struktur kota yang modern dengan tatanan yang rapi.

Namun Ahok tak luput dari kekurangan mendasar yakni minimnya hubungan yang harmonis kepada basis rakyat kecil. Pola komunikasi Ahok seringkali mandeg jika harus berhadapan dengan warga.

Hal itu seperti yang diakui Ahok sendiri karena memposisikan dirinya sebagai seorang CEO, bukan pemimpin yang berada di tengah-tengah warga yang harus diberikan interaksi berbeda dengan karyawan kantoran.

Bakal calon gubernur Adhyaksa Dault menilai Ahok memiliki setidaknya tiga kekurangan.

Pertama, Ahok lebih menampilkan diri sebagai sosok penguasa, bukan pemimpin sehingga selalu muncul konflik. Kedua, selain membangun konflik, Ahok juga juga kerap memecat bawahannya. Sehingga kinerja pelayanan pada masyarakat tidak maksimal.

Ketiga, Ahok juga dengan sewenang-wenang menggusur warga tanpa menjalin komunikasi yang baik terlebih dahulu.

“Jakarta butuh pemimpin, bukan penguasa. Tapi ini bagaimana mungkin, kalau yang dibangun konflik terus,” ujar Adhyaksa di sela-sela Silaturahmi Kandidat Bakal Calon Gubernur DKI dengan Ulama se-DKI, Jabar dan Banten yang digelar Majelis Pelayan Jakarta, Jumat (24/6/2016).

Sementara Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyatakan DKI Jakarta butuh pemimpin yang mampu menjalin komunikasi seperti Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

Emrus menjelaskan, Risma punya gaya kepemimpinan yang merangkul. Risma juga memiliki keterampilan komunikasi yang lebih humanis. “Menyelesaikan masalah lebih tuntas tanpa menimbulkan masalah baru yang berarti,” katanya di Jakarta. (gir/sta/pojoksatu/Fajar)

To Top