Modus Baru, Sabu-Sabu Pakai Dot – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Modus Baru, Sabu-Sabu Pakai Dot

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Penangkapan bandar dan pengguna sabu-sabu (SS) sepekan terakhir menunjukkan fakta baru. Bong konvensional tidak lagi menjadi satu-satunya alat isap psikotropika tersebut. Untuk mengaburkan perilaku terlarang itu, beberapa pelaku pesta sabu-sabu menggunakan dot dan botol minuman bayi.

Modus semacam itu terungkap berdasar penangkapan bandar dan kurir narkoba oleh Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya di Kutisari Utara, Surabaya. Mereka adalah ER dan AS. Keduanya pernah dipenjara bersama karena kasus narkoba. Ketika keluar, mereka kembali menjalankan bisnis lama yang juga bersama-sama.

Dalam penangkapan tersebut, petugas BNNK lebih dulu menyamar sebagai pembeli SS. Transaksi dilakukan di gapura Jalan Kutisari. Tanpa kesulitan, petugas langsung menangkap AS yang tidak sadar bahwa dirinya menjual SS kepada petugas BNNK.

Saat diperiksa, AS mengungkapkan bahwa SS yang dijual berasal dari ER. ’’Tinggalnya tidak jauh dari lokasi transaksi,’’ kata Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti.

Tim pemberantasan pun langsung mendatangi persembunyian ER. Kamarnya berada di lantai 2 sebuah bangunan. Beberapa kali petugas menggedor pintu kamar ER, namun tidak kunjung ada jawaban. Tiba-tiba terdengar suara seperti kaca yang dipecah. ’’Kami curiga dia kabur lewat jendela. Petugas terpaksa mendobrak pintu kamar,’’ jelas Suparti.

Saat pintu terbuka, ER tidak lagi di dalam. Kaca jendela belakang kamar tersebut sudah bolong. Pria yang pernah dihukum di Lapas Madiun itu ternyata kabur melalui genting. ’’Tapi, pelarian ER malah menarik perhatian warga sekitar,’’ ungkap Suparti.

Beberapa ibu kampung yang tengah belanja sayur beteriak-teriak. Mereka menuduh ER maling. Teriakan itu pun langsung mengundang kedatangan massa. Warga datang tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa senjata tajam karena mengira pelaku tersebut memang pencuri.

ER yang ketakutan akhirnya tidak berani turun dari atas genting. Khawatir tejadi amuk massa, petugas BNNK akhirnya menjelaskan bahwa ER bukan pencuri, melainkan bandar narkoba.

Dari penggeledahan, petugas menemukan 30,1 gram SS. Ada juga dot ukuran 150 mililiter. Petugas awalnya tidak curiga dengan dot tersebut. Namun, ketika diteliti, terdapat dua lubang di ujung pentilnya. ’’Ternyata lubang itu untuk dua sedotan,’’ ucap Suparti.

Tersangka akhirnya mengaku bahwa dot itu yang digunakan untuk nyabu. Dot tersebut bisa digunakan berkali-kali. Caranya, tinggal mengganti sedotan yang sudah dipakai dengan sedotan baru. Bong model anyar itu bisa digunakan berkali-kali karena pentil karet elastis sehingga tidak mudah bocor.

Penggunaan dot sebagai alat isap sabu-sabu ternyata sudah meluas. Di tempat berbeda, petugas juga menangkap FD dan DN. FD ditangkap dengan barang bukti 116,6 gram sabu-sabu dan 18 butir ekstasi. Sementara itu, DN adalah pembelinya.

Keduanya juga kecanduan narkoba. Ketika mengisap sabu-sabu, mereka menggunakan dot. ’’Ukurannya segini,’’ ucap FD sembari menunjuk ke botol dot ukuran 150 mililiter. Menurut dia, dot memang mulai banyak digunakan untuk mengisap sabu-sabu. Kelebihannya, ujung dot berbahan karet sehingga tidak mudah bocor.

Perwira yang pernah menjabat Kasubbaghumas Polrestabes Surabaya itu mengatakan, dari hasil evaluasi dalam rangka Hari Anti Narkoba Internasional, selama enam bulan terakhir sudah ada 221 pelaku narkoba yang ditangani BNNK Surabaya. Sebanyak 160 di antaranya diproses hukum. Sisanya direhabilitasi. Termasuk dua dokter yang ditangkap karena menjual narkotika golongan III. (eko/c15/fat)

Click to comment
To Top