Janganlah Kalian Merasa Hina – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Samudera Ilmu

Janganlah Kalian Merasa Hina

Inilah pekan-pekan menjelang perang Qadisiyah, antara kaum muslimin melawan Persia. Maka pemerintah Persia di bawah kendali Rustum itu, pun meminta agar kaum muslimin mengirim utusan kepadanya. Dan melakukan pembicaraan.

Peristiwa ini terjadi, demikian menurut ahli sirah maghazi, dibawah panglima Sa’ad bin Abi Waqash dan pada masa Khalifah Umar ibnu Khattab. Maka Saad pun mengangkat Rib’I ibnu Amir, sebagai delegasi untuk mengadap Rustum.

Mengendarai kudanya yang bertubuh kerdil dan berambut panjang, Rib’I bin Amir berangkat. Ia berbaju lusuh dan bertopi baja. Di pinggangnya, menempel sebuah pedang yang terasarung. Sementara salah satu tangannya, memegang tombak serta perisai. Ia pun masuk menghadap Rustum.

Ketika itu, tempat pertemuan yang telah disiapkan Rustum, dihiasi dengan bantal-bantal bersulam emas sutera. Dan permadani-permadani mewah yang tergelar. Ketika kudanya, hendak mendekati permadani mereka yang mahal, mereka memerintahnya untuk turun dari kuda. Dan berhenti.

Tetapi ia tak menggubris. Setelah kudanya telah sampai di atas permadani, barulah ia turun. Ia kemudian menuju bantal-bantal bersulam emas itu, dan melubanginya untuk menambatkan tali kuda.

Ia masuk menemui Rustum. Sementara perlatan pedangnya masih tetap menempel dengan dirinya. Baju perang, topi baja, perisai dan tombak. Sepanjang tapak kakinya menapaki permadani, maka sepanjang itu juga ujung tombaknya ia tusuk, mengoyak-oyak permadani.

“Letakan senjatamu” seru mereka memberi perintah. Semua yang hadir merasa heran dengan tingkahnya. Benar-benar tak menyangka. Pasukan yang mengawal Rustum bersiap-siaga.

“Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian” jawab Rib’I dengan penuh wibawa. “Tapi kalianlah yag mengundangku datang kemari. Jika kalian perlu denganku, maka biarlah aku masuk dalam keadaan seperti ini. Jika tidak kalian izinkan, maka saya akan segera kembali”

Akhirnya Rustum mengizinkannya masuk dengan berkata keheranan, “benarkah ia datang sendirian?”

Ketika dipersilahkan untuk duduk di atas tempat yang telah dipersiapkan, Rib’I menolak. “Kami tidak suka duduk di atas permadani kalian” Rib’I menolak dengan suara yang mantap .

“Apa yang membuat kalian datang ke sini?” Tanya Rustum memulai pembiacaraan.

“Allah telah mengutus kami” jawab Rib’I ibnu Amir dengan izzahnya. “Untuk mengeluarkan sesiapa saja yang Dia kehendaki dari pengambaan terhadap sesama hamba kepada pengahambaan kepada Allah. Dari kesempitan dunia kepada keluasanNya. Dari kezaliman aturan-aturan hidup kepada keadilan Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadaNya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”

“Apa yang dijanjikan Allah (kepada kalian)?” Tanya mereka.

”Surga bagi siapa saja yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan kemenangan bagi yang hidup” tukasnya.

“Sungguh aku telah mendengar perkataan-perkataan kalian. Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempetimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?” kata Rustum. Kini ia mulai berpikir. Ada rasa kekhawatiran yang tersirat dari kalimatnya.

“Ya.” Jawab salah satu sahabat Nabi ini.  “Berapa lama waktu yang kalian sukai? sehari atau dua hari?” sambungnya dengan pertanyaan.

Rustum menjawab,”Tidak, tetapi hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kaum kami.”

Rib’I mnenjawab, “Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menangguhkan peperangan semenjak bertemu musuh lebih dari tiga (hari). Maka pertimbangkanlah perkaramu dan mereka, dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir.”

Apakah kamu pemimpin mereka?”

“Tidak, tetapi kaum muslimin ibarat jasad yang satu. Yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi.” Tukas Rib’i.

***

Masya Allah.

Sahabat fiillah, Lalu dimanakah kita?

Sungguh betapa nelangsanya. Kita generasi umat Islam kini malu untuk menampakan identitsanya sebagi muslim. Mereka lebih bangga mengutip slogan-slogan demokrasi. Mengutip kata-kata Sokrates. Semntara mereka malu, mengutip dalil dan firman karena takut dianggap kuno dan tidak terkini. Bahkan diantara ada mereka menjadi pejuang di bawah panji setan.

loading...
Click to comment
To Top