Setelah Baca Ini Anda Akan Pikir-pikir Gunakan Headset Lama-lama. Mengerikan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Kesehatan

Setelah Baca Ini Anda Akan Pikir-pikir Gunakan Headset Lama-lama. Mengerikan

headset

FAJAR.CO.ID, SURABAYA – Bagi Anda para pecinta musik, kini harus berhati-hati jika memanfaatkan headset. Alat ini memang dibutuhkan saat ingin sendiri mendengarkan musik. Namun, bila dilakukan secara berlebihan, hal itu bisa memicu gangguan pendengaran. Namanya trauma akustik.

Dokter spesialis telinga RSUD dr Soetomo dr Nyilo Purnami SpTHT-KL(K) mengungkapkan, trauma akustik adalah cedera pada sistem pendengaran di telinga dalam. Penyebabnya adalah paparan suara yang sangat keras.

“Pakai headset pun ada aturannya,” ujarnya.

Menurut dia, mendengarkan suara musik dengan headsetsebaiknya memperhatikan tiga hal. Mulai durasi, intensitas, hingga frekuensi. Intensitas atau volume suara maksimal 60 persen saja.

Selain itu, waktunya paling lama sejam. Lebih dari itu, risiko trauma akustik makin tinggi. Contohnya ketika membiarkanheadset menempel di telinga sampai berjam-jam. Ada beberapa gejala yang menunjukkan seseorang terkena trauma akustik. Yang pertama, terdengar suara mendenging setelah terpapar suara.

Selanjutnya, ada penurunan pendengaran. Tanda itu disertai vertigo dan pandangan yang berputar. Tidak jarang yang sampai muntah-muntah dan harus opname di rumah sakit.

“Intinya, jangan disepelekan. Tanda awal telinga mendenging itu bukan lagi karena dirasani orang,” kata Nyilo.

Alumnus FK Unair itu menyebutkan, trauma akustik menyerang telinga bagian dalam. Letaknya dekat sekali dengan organ yang mengatur keseimbangan. Karena itu, pada mereka yang terkena, ada tanda-tanda kehilangan keseimbangan.

Menurut dia, organ telinga sangat canggih, tapi juga sangat rentan. Bentuknya kecil dan strukturnya halus. Saat suara bising masuk, telinga langsung mengeluarkan sistem perlindungan supaya masalah tidak sampai diteruskan ke saraf pusat di otak.

“Bagian telinga yang kena gangguan itu bisa sampai putus,” ucapnya.

Menurut Nyilo, langkah terbaik adalah pencegahan. Saat melakukan kegiatan yang berpotensi mengganggu pendengaran, sebaiknya gunakan pelindung telinga. Ada beberapa bentuk pelindung telinga. Ada yang mirip sumpelan di kuping atau headphone.

“Kalau suka mendengarkan musik, jangan terlalu keras,” ucapnya.

Namun, jika sudah muncul tanda gangguan pendengaran, sebaiknya segera ke rumah sakit. Untuk tahap awal, dokter akan memberikan obat anti-inflamasi.

Tujuan pengobatan adalah melindungi telinga dari kerusakan yang lebih lanjut. Misalnya jika diperlukan tindakan perbaikan gendang telinga dan tulang pendengaran. Kalau penanganan telat, kerusakan akan berat dan sulit diperbaiki.

“Kalau segera diatasi, akan membaik. Jika tidak, berpotensi terjadi ketulian,” tutur Nyilo.

Gangguan pendengaran memang bisa bersifat permanen dan sulit kembali meski dengan pengobatan. Dia mencontohkan, ada seorang pasien trauma akustik yang mengalami tuli mendadak. Ada juga pasien yang terpapar loudspeaker saat menghadiri acara. (nir/c11/git/flo/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top