Tak Ada Aturan, Sistim Rekrutmen Parpol Seenaknya – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Tak Ada Aturan, Sistim Rekrutmen Parpol Seenaknya

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Banyak Partai Politik (Parpol) di bangsa ini melakukan recruitmen politik sering terjebak pada sistem yang tidak profesional, hingga menghasilkan kader yang tidak sehat. Padahal Parpol satu-satunya jalur untuk menduduki jabatan publik.

“Satu-satunya jalur untuk pejabat publik itu seharusnya parpol, sehingga kalau parpol tidak disehatkan, maka yang keluar juga bukan kader yang sehat. Rekruitmen bisa konyol kalau sistem parpol tidak diperbaiki,” kata Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, saat buka bersama dengan wartawan di Gedung DPR kemarin, Senin (27/6).

Kata Fahri, berbagai pertanyaan yang mencul, apakah Parpol saat ini baik atau tidak, karena tradisi politik dan kepemimpinan saat ini sepertinya tidak diatur. ”Di Indonesia ini, saya lihat berpartai politik dan berpolitik kayaknya tidak diatur, padahal ini penting untuk mendisiplinkan parpol secara ketat seperti diperlukannya aturan kepemimpinan, sumber keuangan, hubungan dengan lembaga lain dan sebagainya,” tegasnya.

Karena tidak adanya pengaturan mengenai hal ini, masyarakat pun kemudian memandang parpol sebagai tempat dimana orang bisa seenaknya saja. ”Siapa yang memimpin sepertinya bebas, konflik kepentingan tidak diatur, rangkap jabatan dibolehkan dan sebagainya, karena terkesan tidak ada sistemnya,” tambahnya.

Baik buruknya rekruitmen parpol akan mengisi jabatan-jabatan publik, terutama jabatan di DPR dan DPRD dimana 100 persen diisi oleh parpol. ”Makannya kalau parpol oligarki, maka yang direkrut adalah mereka yang punya kedekatan dan kesempatan untuk bermain menjadi besar. Menjadi DPR pun seperti harus melayani pimpinan parpol, makanya ini harus ditata sehingga bisa muncul tradisi demokrasi yang baik,” ujar Politisi PKS ini.

Diungkapka, jika sistim recruitmen tidak baik, maka akan muncul kelompok-kelompok independen yang bisa memaki-maki parpol dengan mengatasnamakan rakyat. “belakangan justru mencari-cari parpol untuk memberikan dukungan. Anehnya parpol pun mau saja dipanggil seperti ini,” tegasnya.

Dia pun mencontohkan bagaimana pemilu 2014, dimana parpol masuk jebakan populisme, hingga Parpol kalah dan menyerahkan calon-calon pemimpin pada calon “independen”.” Parpol terpaksa menyerahkan kekuasaan bukan pada kadernya tapi kepada orang yang belum pernah berpolitik.Dan kini penyesalan semua terjadi,” imbuhnya.

Saat ini sayangnya dengan munculnya banyak sumber kekuasaan dan kekuatan diluar parpol lembaga swadaya masyarakat, ormas, media massa dan lainnya, belum ada orang yang orampu mengorchstra.” Belum ada yang bisa mengorchestra.Misalnya presiden karena presidennya sendiri juga bingung karena begitu banyaknya jenis kekuasaan,” tegasnya.

Click to comment
To Top