Mantap.. Pemerintah Filipina Ijinkan TNI Masuk bebaskan Sandera – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Mantap.. Pemerintah Filipina Ijinkan TNI Masuk bebaskan Sandera

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Akhirnya pemerintah Filipina membolehkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), masuk ke wilayah mereka untuk melakukan pembebasan terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh pasukan bersenjata Abu Sayyap.

Kabar diijinkan TNI masuk ke wilayah Filipina ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, usai melakukan kesepakatan dengan Menteri Pertahanan Filipina Voltaire T Gazmin, pada Minggu (26/6).

Kedua pejabat negara itu membahas soal penyanderaan yang kembali terjadi terhadap WNI di perairan Filipina Selatan. Mereka juga membicarakan tindak lanjut kesepakatan antara Indonesia, Filipina dan Malaysia soal patroli keamanan bersama di perbatasan ketiga negara.

“Kami sudah sepakat, kalau nanti ada penyanderaan lagi kami boleh masuk,” kata Ryamizard di kantor Kemenpolhukam, kemarin.

Menurut dia, Pemerintah Filipina mengizinkan pengejaran terhadap perompak dan teroris di Filipina Selatan hingga melintasi perbatasan laut RI-Filipina. “Filipina sangat positif dan terbuka dalam menyelesaikan persoalan keamanan di Kepulauan Sulu,” puji Ryamizard. Kabar ini telah dilaporkan kepada Kemenlu dan Kemenkopolhukam serta Mabes TNI.

Untuk diketahui, ada 7 WNI yang disandera kelompok militan Filipina, Abu Sayyaf. Mereka disandera dalam dua waktu berbeda oleh dua kelompok berbeda, yaitu pada 21 Juni 2016. Mereka dibawa ke dua tempat terpisah. TNI sudah berhasil melacak salah satu kelompok, yang disebut Al Habsyi.

Selain itu, Ryamizard menuturkan, saat ini pasukan Filipina sudah mengepung tempat persembunyian kelompok militan itu. “10 ribu pasukan Filipina sudah kepung kelompok Abu Sayyaf, tempatnya di utara Sulu itu dan di selatan Panadao,” ungkapnya. Dia memastikan pemerintah tak akan membayar tebusan.

Lalu, apakah operasi militer akan dilakukan? Ryamizard bilang, belum akan dilakukan. Baik Indonesia maupun Filipina masih mengupayakan jalur diplomasi dan negosiasi untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

“Kalau terpaksa operasi militer, pasti ada korban. Nah, korban itu yang kita hindari. Kalau tentara ya tidak apa-apa, tapi kalo sandera dibunuhin semua gimana? Itu menjadi perhatian utama,” tuturnya.

To Top