Puasa di Swedia Hampir 24 Jam, Tapi Untung Ada Keringanan – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ragam

Puasa di Swedia Hampir 24 Jam, Tapi Untung Ada Keringanan

FAJAR.CO.ID – Melviana asli Kutai kini menetap di Falun, mengikuti suaminya Jonas Heden yang asli Swedia. Melviana adalah pakar tatakelola limbah lulusan Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda dan Master of Science in Environmental Engineering and Sustainable Infrastructure, The Royal Institute of Technology (KTH), Stockholm.

Kepada Kaltim Post (Fajar  Group), dia yang pernah magang sebagai reporter itu, menuliskan pengalaman berpuasa Ramadan di Falun, 250 kilometer dari Stockholm. Berikut ceritanya:

AWAL Ramadan 2016 di Swedia bertepatan dengan Hari Nasional. Sama-sama 6 Juni. Namun berbeda dengan di Indonesia, Hari Nasional jauh dari suasana “patriotik”. Tidak ada perayaan besar seperti peringatan Proklamasi Kemerdekaan atau upacara-upacara pengibaran dan penurunan bendera kebangsaan. Swedia tidak pernah dijajah maupun menjajah.

Hari Nasional Swedia adalah hari yang santai dan lebih dimanfaatkan warganya untuk beristirahat atau berlibur ke luar kota. Karena bertepatan dengan hari Senin, maka libur akhir pekan menjadi lebih panjang.

Bagi saya dan sesama muslim di Swedia keadaan itu rada menguntungkan. Awal Ramadan yang bertepatan dengan hari libur memberi kami permulaan puasa Ramadan yang tenang.

Ya, walau puasa dimulai sejak pukul 01.58 tengah malam dan Maghrib pukul 22.11. Waktu berbuka dan imsak hanya berselang kira-kira 4 jam. Cuaca di Swedia mulai menghangat sejak Mei lalu. Jika tidak hujan dan matahari bersinar suhu bisa mencapai 27 derajat Celcius.

Namun jika hujan dan angin berembus dari utara, suhu bisa drastis turun menjadi 5 atau 10 derajat Celcius.

Tentu saja hari yang panjang dan udara panas memengaruhi kondisi orang-orang yang berpuasa. Beberapa hari menjelang 6 Juni tahun ini radio dan koran di Swedia biasa mengumumkan kedatangan bulan suci Ramadan. Di antara kontennya membahas bagaimana muslim akan menjalani ibadah puasa pada hari-hari yang sangat panjang.

Namun tanggal 21 Juni adalah hari terpanjang di Swedia. Sering disebut midsummer, di mana digelar midsummer celebration. Inilah puncak dari segala perayaan yang ditunggu-tunggu masyarakat. Di samping untuk merayakan hari terpanjang, hari itu juga mereka lampiaskan rindu akan kehangatan matahari.

Tidak ada kaitannya sama sekali dengan kegiatan agama semacam pawai menjelang Ramadan seperti yang biasa berlangsung di beberapa kota di Tanah Air.

Aneka kegiatan dalam midsummer samasekali tidak mengganggu warga Swedia menjalani ibadah Ramadan. Hanya saja puasa menjadi yang terpanjang. Di utara Swedia rentangnya hampir 24 jam! Di situ matahari tidak tenggelam. Di situ puasa berlangsung hampir 24 jam!

Secara geografis letak negara Swedia memanjang, sehingga perbedaan turun dan naiknya matahari berbeda agak tajam antara wilayah utara dan selatan. “Beruntung” saya menetap di Falun, masih di bagian selatan Swedia (södra Sverige).

Terdapat sekitar 190.000 muslim dari 9,875 juta jiwa, atau sekitar 2 persen dari total warga Swedia. Di Falun dan kota terdekat Borlänge yang masing-masing berpenduduk sekitar 110 ribu jiwa jumlah muslim tidaklah banyak. Itu pun terbanyak berasal dari Afrika Utara dan Timur Tengah.

Dalam kurun waktu terakhir Swedia adalah salah satu negara di Eropa yang menerima pengungsi terbanyak dari Syria di samping Jerman. Kebanyakan warga negeri ini adalah penganut Protestan.

Belum ada masjid di sekitar Falun-Borlänge yang memiliki minaret atau kubah seperli layaknya masjid kota-kota besar Swedia, seperti Stockholm, Malmö, Uppsala, Gothenburg dan Trollhätan. Masjid di kedua kota ini masih berupa ruang di sekolah yang telah tutup, atau basement salah satu apartement.

Namun pernah dibahas rencana membangun masjid di Borlänge – jaraknya dari Falun, tempat tinggal saya dan keluarga, setara Samarinda-Tenggarong. Tetapi baru pada tingkat diskusi para politisi setempat, berkenaan dengan lokasi yang ideal dengan lingkungan. Dan, tentu saja, izin dari masyarakat lokal, sebelum pemerintah mengizinkan pembangunannya.

Meski demikian, Swedia tetaplah negeri yang ramah bagi muslim. Tahun lalu disosialisasikan pedoman bagi muslim di Swedia utara untuk mengikuti puasa sesuai waktu matahari di Stockholm. Pedoman ini sekarang berubah, setelah seminggu konferensi se-Skandinavia di ibu kota Swedia, Stockholm.

Dalam konferensi itu para ulama membahas aturan untuk periode tetap Ramadan dalam musim panas tahun ini. Muhamed Amri, Imam dan Presiden Asosiasi Islam di Luleå (kota di utara Swedia) menjelaskan, mengapa pedoman mengikuti waktu Stockholm berubah setelah hanya satu tahun diterapkan.

“Memang benar kami (pernah) mengikuti (waktu) Stockholm, namun bukan karena kami merasa lelah atau haus atau lapar (karena puasa), melainkan karena sebagian besar waktu yang cukup larut,” kata Amri. Karena perimbangan malam dan siang yang tidak seimbang.

Bagi para muslim dari daerah sekitar Sundsvall (kota di utara Swedia) dan kota lainnya di utara sekarang direkomendasikan pembeda yang jelas antara siang dan malam. Di Luleå, ini berarti balans jelas antara siang dan malam, yaitu 16 jam.

“Ini seperti yang telah dijalankan negara-negara lain, bahwa puasa 15-16 jam adalah logis, dan itu adalah sesuatu yang benar-benar bisa dijalankan,” kata Muhamed Amri. Alhamdulillah, ada keringanan! (stn/far/yuz/JPG)

loading...
Click to comment
To Top