DPR Minta Pembuktian Dugaan Senjata Paspampres Hasil Selundupan dari AS – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

DPR Minta Pembuktian Dugaan Senjata Paspampres Hasil Selundupan dari AS

Meutya Hafid

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid meminta Pemerintah melakukan klarifikasi atas dugaan penggunaan senjata ilegal di Korps  Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Pengadilan perlu membuktikan apakah benar yang diucapkan terdakwa itu.

Sebelumnya, terungkap dalam sebuah  kesaksian  persidangan  adanya  penyelundupan senjata ilegal ke luar negeri di Pengadilan Federal Amerika Kamis (7/7) waktu Indonesia. 

Terdakwa tersebut bernama Audi Sumilat yang merupakan seorang tentara Angkatan Darat Amerika Serikat.

“Dugaan ini perlu di-clear-kan, terutama karena menyangkut pernyataan seseorang dalam pengadilan (proses hukum),” ujarnya melalui pesan singkat, Sabtu (9/7).

Jika kabar tersebut terbukti tidak benar di pengadilan, kabar paspampres menggunakan senjata illegal hasil penyelundupan perlu dibantah. 

“Perlu dibantah karena menyangkut nama baik pasukan pengamanan presiden,” pungkas politikus Golkar itu. ‎

Seperti diberitakan ‎‎The New York Times, Sumilat ‎mengaku terlibat dalam penjualan dan pengiriman senjata secara ilegal untuk Paspampres. ‎

‎Dia mengaku  membeli senjata di Texas dan New Hampshire untuk anggota Paspampres.

Dalam persidangan, Sumilat menyatakan bahwa dia merencanakan penyelundupan senjata pada 2014 silam dengan bekerja sama dengan tiga rekannya yang juga berstatus sebagai tentara angkatan darat AS. 

Saat itu, dia dan ketiga temannya itu sedang menempuh pendidikan kilat di Fort Benning, Georgia.

Setelah membeli senjata di Texas dan New Hampshire, dia lalu memberikan senjata tersebut kepada temannya yang tidak disebutkan namanya. 

Selanjutnya, senjata itu diserahkan kepada salah seorang anggota Paspampres yang tengah melakukan perjalanan dinas di Washington D.C dan kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Pada persidangan, pria 36 tahun itu diancam dengan hukuman lima tahun penjara dan denda sebesar USD 250 ribu.‎ (dna/JPG)‎

loading...
Click to comment
To Top