Malaysia Lagi..! Dua Sungai di Lumbis Ogong Diklaim Milik Mereka – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Malaysia Lagi..! Dua Sungai di Lumbis Ogong Diklaim Milik Mereka

pulau-sebatik-_121213100422-844

FAJAR.CO.ID, NUNUKAN – Masih ingat bagaimana Pulau Sigitan dan Ligitan lepas dari Indonesia setelah Malaysia berhasil mengklaim daerah tersebut dan memenangkan dua pulau itu di persidangan internasional.

Sepertinya hal tersebut bakal terulang kembali, jika Pemerintah Indonesia tidak sigap mengambil langkah cepat mengatasi persolan batas wilayah di daerah perbatasan.

Dari informasi yang dihimpun Kaltara Pos, (Jawapos Group/Fajar), ada tiga sungai yang kini diklaim Malaysia di Kecamatan Lumbis Ogong dan Pulau Sebatik, yakni Sungai Sumantipal, Sungai Sinapad dan Sungai Sebatik. Alasan itu menjadi dasar kuat mengapa sejumlah presidium yang dibentuk masyarakat di wilayah tiga Nunukan itu mengusulkan Kabupaten Bumi Dayak (Kabudaya) Perbatasan untuk segera dimekarkan.

Jika hal itu tak ditanggapi langsung oleh pemerintah pusat, maka tidak menutup kemungkinan dua wilayah Indonesia akan segera bergabung dengan Malaysia. Seperti halnya dua wilayah Indonesia yang dulu direbut oleh Malaysia di zaman pemerintahan Presiden Megawati kala itu.

Ketua Konsulat Jakarta Presedium DOB Kabudaya yang mencakup, Kecamatan Sebuku, Tulin Onsoi, Sembakung, Sembakung Atulai, Lumbis dan Lumbis Ogong, Imral Gusti mengatakan, ada persoalan genting yang sebenarnya terjadi di Lumbis Ogong. Pasalnya, berbeda dengan daerah lain yang mengusulkan Daerah Otonomi Baru (DOB) lebih kepada kesejahteraan masyarakat. Kabudaya hadir dengan kompleksifitas persoalan perbatasan.

Dijelaskan Imral, selain persoalan batas wilayah yang hingga kini tak kunjung jelas. Masyarakat di daerah tersebut juga hingga kini bisa dikatakan jauh dari kata sejahtera. Menginggat hampir 70 tahun Indonesia merdeka, daerah ini masih jauh dari sentuhan pemerintah. Serba keterbatasan dan keterisolasian masih menjadi wajah depan daerah ini.

“Kalau mau jujur saja, Kabudaya itu masih jauh dari sentuhan pemerintah. Bukan itu saja, masyarakat disana (Kabudaya, Red.) bahkan ada yang bersedia pindah kewarganegaraan apabila ada tawaran nyata dari Pemerintah Malaysia,” ujar Imral kepada Kaltara Pos.

Lebih jauh diterangkan Imral, kemungkinan hal itu sangat bisa terjadi, menginggat apabila dua sungai di Lumbis Ogong direbut Malaysia. Maka secara tidak langsung, warga yang berada hampir digaris perbatasan antara Indonesia – Malaysia akan ikut bergabung dengan negara yang notabene dapat mensejahterahkan warganya itu.

“Jadi sebenarnya yang diklaim Malaysia itu, dua sungai yang berada di Lumbis Ogong yaitu sungai Sumantipal dan Sinapad. Kalau ini berhasil dimiliki Malaysia secara otomatis dia bakal menarik lurus titik koordinat garis wilayahnya dan jika ini terjadi maka Pulau Sebatik terancam diambil Malaysia,” ujar Imral.

Bahkan menurut Imral, ada lima permasalahan perbatasan yang kini dirundingkan oleh Pemerintah Indonesia dan Malaysia, terkait batas wilayah antara kedua negara tersebut.

Menjadi daerah yang hingga kini tak jelas milik siapa, lanjut Imral, maka sangat wajar ketika masyarakat di daerah tersebut khususnya Lumbis Ogong memiliki kewarganegaraan ganda. Hal itu bukan tanpa alasan, kurangnya perhatian pemerintah di daerah perbatasan, akhirnya membuat sebagian warga lebih memilih menjadi warga Malaysia.

“Alasan mereka memilih beridentitas Malaysia sangat sederhana, karena perhatian pemerintah Malaysia bagi warga mereka yang memiliki identity card (IC) jauh lebih diperhatikan,” ujar pemuda yang lama menjadi pemerhati di Kabupaten Nunukan ini.

Hal sebaliknya, bagi mereka yang menggunakan KTP Indonesia justru tidak pernah mendapatkan perhatian yang lebih  dari Pemerintah Malaysia. “Kalau ada IC (KTP Malaysia, Red) mereka lebih terjamin kalau di Malaysia, mereka juga bisa kemana-mana tanpa takut razia. Dan yang lebih enak itu mereka diberikan subsidi oleh pemerintah Malaysia,” ujarnya.

Terpisah, Anggota DPRD Nunukan di dapil tersebut tersebut Karel Sompotan mengungkapkan, bagi masyarakat yang ingin berobat saja lebih memilih ke Malaysia dibanding harus turun ke Mansalong yang merupakan ibukota Kecamatan Lumbis.

Untuk ke Malaysia, warganya cukup mengeluarkan uang sebesar 600 RM atau setara dengan Rp 2,8 juta, kebanding harus turun ke desa Mansalong yang menelan biaya sebesar Rp 8 juta.

“Kalau mau turun ke Mansalong berapa lagi biaya warga kami, tapi kalau ke Keningau, Sabah, Malaysia biaya lebih murah dan disana layanan kesehatannya lebih lengkap,” ujar politisi Partai Bulan Bintang (PBB) ini.

Karel berharap, pemerintah lebih memperhatikan masyarakat di perbatasan, sehingga tidak ada lagi warga mereka yang akhirnya memilih menjadi warga Malaysia. Dia pun menginginkan ada perhatian khusus bagi daerah perbatasan, baik dari sektor ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

“Bagaimana warga kita tidak ingin menjadi warga Malaysia, kalau kita saja disini tidak pernah diperhatikan, makanya mereka kesana (Malaysia, Red),” pungkasnya. (dia/Prokal/Fajar)

loading...
Click to comment
To Top