Sekarang WNI Jadi Langgangan Diculik – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Nasional

Sekarang WNI Jadi Langgangan Diculik

abu-sayyaf

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Terus berulangnya penyanderaan terhadap WNI membuat sejumlah pihak mempertanyakan strategi pembebasan oleh pemerintah dalam kasus-kasus penyanderaan sebelumnya. Diduga, strategi itu menguntungkan pembajak sehingga menjadi penyebab berulangnya insiden yang sama.

Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Alvin Lie menegaskan, pemerintah tidak bisa menganggap biasa kasus penculikan WNI di perairan Malaysia dan Filipina. Sebab, keamanan serta keselamatan WNI di dalam negeri maupun luar negeri menjadi tanggung jawab pemerintah. 

”Sekarang WNI kita jadi langganan diculik,” ujar mantan anggota DPR itu.

Para penculik yang makin berani, menurut Alvin, telah menginjak-injak martabat negara. Dia mempertanyakan peran Badan Intelijen Negara (BIN), Densus 88, dan pasukan khusus TNI lainnya dalam menyikapi hal tersebut. 

Sebagaimana diberitakan, pelaut Indonesia lagi-lagi menjadi sasaran penyanderaan oleh kelompok bersenjata. Yang terbaru, tiga anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia diculik dari kapal mereka di perairan Sabah, Malaysia, Sabtu malam (9/7). Insiden penculikan itu merupakan yang kelima dalam tiga bulan terakhir.

Tahun ini penculikan WNI di perairan Filipina mulai terjadi pada Mei lalu. Dua kali pelaut Indonesia diculik kelompok Abu Sayyaf. Penculikan pertama dialami 10 ABK asal Indonesia. Penculikan kedua dialami 4 awak kapal lainnya. 

Dalam dua kasus itu, penyandera pun meminta uang tebusan dalam jumlah besar. Untuk 10 sandera Indonesia, tebusan yang diminta mencapai 50 juta peso (sekitar Rp 14,3 miliar). Awal Juni lalu, 14 WNI yang diculik pada Mei lalu tersebut dibebaskan.

Berselang tidak sampai sebulan, penculikan kembali dialami tujuh WNI lain dalam dua tahap di Laut Sulu, barat daya Filipina, 20 Juni lalu.

Penculikan pertama terjadi pukul 11.30 dan yang kedua pukul 12.45. Kelompok penyandera meminta tebusan 200 juta peso (sekitar Rp 65 miliar) untuk empat di antara tujuh WNI yang diculik.

Saat pemerintah berupaya membebaskan tujuh WNI tersebut, terjadilah penculikan kembali terhadap tiga WNI di perairan Sabah, Malaysia. Kejadian beruntun itu menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara favorit bagi para bajak laut untuk menyandera para pelaut RI guna meminta uang tebusan.

Pemerintah sejauh ini membantah bahwa pembebasan 14 WNI pada penculikan pertama dan kedua dilakukan dengan membayarkan uang tebusan. Para pengelola perusahaan pemilik kapal pun menegaskan bahwa tidak ada penyerahan uang tebusan untuk kelompok penyandera. 

Meski demikian, sumber di lingkungan pemerintah menyatakan, telah terjadi pembayaran tebusan untuk para awak kapal yang disandera. Uang tebusan itu disebut tidak berasal dari pemerintah. (far/bil/gun/owi/c5/kim)

loading...
Click to comment
To Top