Catet.. MOS Tak Lagi Identik Dengan Pelonco – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Ragam

Catet.. MOS Tak Lagi Identik Dengan Pelonco

ARTIKEL20150727173421pm

FAJAR.CO.ID, SURABAYA- Masa tahun ajaran baru telah tiba. Para siswa akan menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) yang diadakan serempak pada 18 Juli. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Jatim telah mewanti-wanti semua sekolah, termasuk di Surabaya, agar tidak ada aktivitas yang mengarah pada perpeloncoan senior kepada junior.

Kepala Dikbud Jatim Saiful Rachman mengatakan, masa orientasi siswa (MOS) yang identik dengan perpeloncoan siswa baru sudah tidak ada.

Bahkan, Kemendikbud telah melakukan beberapa kali perubahan nama untuk mengubah image. Yakni, masa orientasi peserta didik baru (MOPDB) pada 2014-2015, layanan orientasi siswa (LOS) pada 2015-2016, dan yang terakhir adalah MPLS.

Tahun ini masa pengenalan lingkungan sekolah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bedanya, tahun ini guru yang akan menangani langsung kegiatan MPLS.

Sedangkan siswa bersifat membantu pelaksanaannya. Dengan begitu, upaya menekan perpeloncoan yang biasanya dilakukan siswa senior bisa ditekan.

Mantan kepala Badan Diklat Jatim itu mengatakan, banyak SMS yang masuk ke ponselnya. Isinya menanyakan tentang jaminan bahwa guru tidak akan melakukan kekerasan kepada siswa saat masa pengenalan lingkungan sekolah. Ada juga yang menanyakan tentang sanksi bagi guru yang melakukan kekerasan.

“Isi SMS-SMS ini agak susah dijawab, apalagi belum terjadi,” katanya.

Terlepas dari hal itu, Saiful meminta agar pada saat MPLS, kreativitas siswa tetap dipertahankan. Saat ini, kata dia, bukan lagi era kekerasan dan perpeloncoan. Dasar materi yang harus disampaikan adalah wawasan Nusantara dan budi pekerti.

“Usul saya, kreativitas harus diasah, apalagi sekarang era digital. Siswa bisa diajak mengisi web sekolah. Ini banyak nilai positifnya untuk siswa dan sekolah itu sendiri,” jelasnya.

Kemendikbud juga menekankan pentingnya mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah. Alasannya, mengantar anak ke sekolah merupakan kesempatan membangun hubungan positif antara lingkungan pendidikan di rumah dan sekolah.

Selain itu, mengantar bukan sekadar sampai gerbang sekolah, lalu pergi. Mengantar yang dimaksud adalah menemani dan membangun interaksi dengan guru dan orang tua murid lain. Apalagi, hari pertama sekolah ibarat awal perjalanan panjang anak-anak di rumah kedua mereka.

Terkait dengan hal itu, sempat muncul opini bahwa orang tua wajib mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah. Bahkan, tidak sedikit wali murid yang kebingungan membagi waktu. Terutama bagi mereka yang bekerja.

Tidak sedikit yang menanyakan tentang surat rekomendasi untuk datang terlambat bekerja. Saiful menegaskan, tidak ada surat rekomendasi terlambat atau sejenisnya.

“Saya kira perusahaan harus menyadari hal itu. Ini tanggung jawab kita semua untuk mengawal pendidikan anak,” katanya.  (puj/rst/c7/c20/oni/flo/jpnn)

loading...
Click to comment
To Top