Gara-gara Pokemon GO, Malam-malam Dennis Datangi Makam Jeruk Purut – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Hiburan

Gara-gara Pokemon GO, Malam-malam Dennis Datangi Makam Jeruk Purut

pokemon go

FAJAR.CO.ID – LUAR BIASA. Kata itu yang mungkin cocok untuk menggambarkan bagaimana pengaruh Pokemon GO saat ini. Game dengan teknologi augmented reality itu baru dirilis 6 Juli lalu. Belum genap dua minggu, tapi langsung mencuri hati banyak orang. Di Amerika Serikat, Pokemon GO mencatat sejarah menjadi mobile game paling banyak dimainkan mengalahkan Candy Crush (2013). 

GAME smartphone fenomenal itu dirilis oleh Niantic, perusahaan game asal California, yang bekerja sama dengan The Pokemon Company. Pada 6 Juli, game dengan teknologi augmented reality (AR) tersebut dirilis di Australia, AS, dan Selandia Baru. Lalu, pada 13 Juli, Eropa bisa menikmatinya. Di Indonesia, game itu belum rilis secara resmi.

Untuk memainkannya bisa dilakukan dengan mengunduh file game tipe APK untuk Android. Bagi pengguna IOS, game bisa diunduh dengan menggunakan ID Apple untuk Australia dan AS. Begitu muncul, Pokemon GO langsung menyita perhatian para penyuka game.

Berdasar survei Forbes pada 8 Juli, dua hari setelah Pokemon GO resmi dirilis, penggunaan gameitu di AS melebihi penggunaan WhatsApp (WA)Instagram (IG)Snapchat, dan Messenger. Bisa dibilang, seseorang lebih sering menggunakan waktu untuk mencari Pokemon daripada berkomunikasi di WA atau posting foto kekinian di IG.

Ada dua jenis tampilan permainan. Pertama adalah tampilan dunia virtual yang di dalamnya terdapat berbagai Pokemon. Di dunia virtual itu, ada spot bernama PokeStop atau gym, yang merupakan lokasi di dunia nyata seperti monumen, rumah, kantor, atau tempat umum. Sementara itu, tampilan kedua adalah dunia nyata tempat pemain berada seperti kantor, taman, kolam, lapangan, dan jalan raya. Tampilan dunia nyata diakses dengan menggunakan kamera smartph­one.

Dengan teknologi AR, Pokemon tidak hanya muncul di dunia virtual, tapi juga di dunia nyata. Sosok Pokemon akan terdeteksi dan muncul di layar smartphone dengan bantuan GPS dan kamera. Satu tempat dengan tempat lain bisa jadi memiliki monster berbeda. Itulah yang membuat para pemain harus aktif bergerak atau jalan-jalan demi mendapatkan Pokemon yang dicari.

Bagi yang menggemari Pokemon dan berfantasi menjadi Pokemon Trainer, itu adalah mimpi yang terwujud. Mereka akan merasakan sensasi bertualang mencari Pokemon dan bertarung di gym. Itu persis seperti yang dilakukan tokoh Ash dalam serial animasi Pokemon yang nge-hit pada era 1990 sampai 2000. ”Sebagai generasi yang mengenal Pokemon sejak lama, ini adalah keseruan tersendiri,” ujar Kevin Hendrawan, 24, presenter yang hobi bermain Pokemon GO.

Kevin langsung bermain tepat sehari setelah dirilis, yakni 7 Juli 2016. Menurut pemenang L-Men of the Year 2014 itu, kombinasi virtual game dan AR adalah daya tarik game. ”Kan seru kalau bisa maingame sambil jalan-jalan di luar. Sensasinya lebih dapat,” kata Kevin.

Sebagai penggemar gaya hidup sehat, Kevin juga mendapat nilai plus dari game tersebut. Dia mengaku lebih sehat dengan lebih banyak bergerak atau jalan-jalan. ”Game ini menuntut kita untuk lebih aktif. Kalau cuma duduk diam di depan komputer atau gadget kan kurang sehat,” ujar pria kelahiran 24 Juni 1992 itu.

Pemain pun tetap bisa berinteraksi dan mengenal lingkungan sekitarnya. Dunia juga tidak terbatas pada layar gadget. Sebenarnya, tidak ada tujuan ataupun misi yang ditawarkan oleh game itu. Pemain hanya perlu menangkap Pokemon sebanyak-banyaknya sambil sesekali bertarung dengan sesama player untuk meningkatkan level atau menambah poin. ”Ini sesuai dengan tagline franchisePokemon, yaitu Gotta Catch ’em All. Kami menemukan keasyikan dari menangkap semua jenis Pokemon,” terang Kevin.

Sejauh ini, ada 132 jenis Pokemon. Jumlah itu bisa ditambah, mengingat saat ini jumlah Pokemon mencapai lebih dari 700 spesies. Hal serupa dirasakan Dennis Adhiswara. Aktor pemeran Mamet diAADC? dan AADC2 itu sangat excited saat bermain Pokemon GO. ”Apalagi kerjaan saya mengharuskan untuk lebih banyak di luar dan berkeliling. Jadi, saya kerja sekalian huntingPokemon,” kata pria yang menjadi penggagas dan CEO Layaria itu.

Sama seperti Kevin, Dennis pun menggemari Pokemon. Bahkan, pria 33 tahun tersebut sudah mengelilingi berbagai tempat di Jakarta untuk mengamati kuantitas dan jenis Pokemon. ”Misalnya, jenis Pokemon yang saya temui di rumah saya di Cilandak akan berbeda dengan yang saya jumpai di kantor saya di Mampang,” ujarnya.

Kondisi atau lingkungan suatu tempat bisa jadi memengaruhi tipe Pokemon yang terdeteksi atau muncul. Misalnya, Pokemon tipe air hanya muncul di pantai, kolam, atau sungai. ”Pas saya hunting di daerah dekat kali di Bintaro, saya dapat Tentacruel, Pokemon air yang langka,” ujar Dennis.

Kekasih Fauzia Vina Soraya itu bahkan pernah mendatangi Makam Jeruk Purut pukul 19.00 hanya demi mendapatkan Pokemon tipe hantu. Agar tidak tersesat, Dennis ditemani sopir GO-Jek. ”Sekarang para sopir angkutan berbasis aplikasi online memang paham bahwa warga Jakarta keranjingan Pokemon GO,” tambahnya, lantas tertawa.

Di Surabaya, sudah banyak juga yang memainkan game itu. Prasetya Ardhana salah satunya. Menurut dia, game tersebut bisa melatih berpikir strategi. Itu terkait dengan pertarungan di gym. ”Gymitu biasanya ada yang menguasai. Namanya gym master alias user yang sudah memenangkan pertarungan di gym itu,” jelas Prasetya.

Untuk bisa menguasai gymuser harus bisa mengalahkan gym master. ”Tentu saja, Pokemon harus dilatih dan dirawat sebaik-baiknya agar cukup kuat untuk menang,” ujar alumnus Universitas Brawijaya Malang itu.

Terjerat dengan keseruan permainan Pokemon GO juga dialami Sylvia Cen. Dia mengaku mendadak jadi tidak malas lagi bergerak sejak bermain. ”Kalau cuma di rumah ya Pokemon-nya itu-itu aja. Rasanya seneng gitu kalau dapat Pokemon yang menurut kita lucu atau langka dan itu didapat kalau mau keluar rumah,” jelas mahasiswi jurusan DKV UK Petra Surabaya itu. (len/c19/ayi/JPNN/pda)

loading...
Click to comment
To Top