Dua Kali PSU, Pilkada Muna Tragedi Demokrasi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Pilkada

Dua Kali PSU, Pilkada Muna Tragedi Demokrasi

091929_876384_050144_207167_pilkada_besar1

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi salah satu daerah dari tiga daerah yang saat ini belum tuntas permasalahannya di Mahkamah Konstitusi (MK). Sejak pelaksanaan Pilkada serentak gelombang pertama Desember 2015 silam, hingga saat ini belum juga menemui titik terang mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin didaerah tersebut.

Hal ini tidak terlepas dari perjalanan penegakkan hukum di Indonesia yang selalu menjadi sorotan, khususnya persoalan sengketa Pilkada. Dan MK sebagai lembaga peradilan tertinggi konstitusi dianggap telah mencederai rasa keadilan rakyat, khususnya di Muna dengan beberapa kali mengeluarkan putusan sela, dalam hal ini dua kali memutuskan untuk menggelar Pemungutan Suara Ulang (PSU).

Hal itu ditegaskan Anggota Komisi II DPR RI Arteria Dahlan dalam diskusi bertema “Ada Apa Dengan Pilkada Kabupaten Muna?” yang digelar disalah satu Hotel di Jakarta, Minggu (17/7). Dalam diskusi tersebut, Arteria sangat menyayangkan perilaku MK yang semakin hari semakin bobrok dan tidak mencerminkan supremasi hukum yang baik di Indonesia.

“Undang-ndang (pilkada) nya tidak salah, tapi kita salah kembali memberikan kesempatan kepada MK. Kita sangka MK hakimnya isinya negarawan tapi ternyata setan-setan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan, MK saat ini telah melakukan kejahatan demokrasi di Pilkada Muna yang terstruktur dan massif. Seperti diketahui, dalam Pilkada Muna, MK dua kali mengeluarkan putusan PSU. Padahal, PSU pertama sudah dilakukan dan memenuhi semua persyaratan yang diminta. Tapi, yang dilakukan MK seolah-olah dikendalikan oleh kepentingan tertentu yang tidak puas dengan keputusan rakyat dalam Pilkada Muna.

Olehnya itu, Arteria menganggap apa yang dilakukan MK adalah sebuah tragedy demokrasi. Hukum di Indonesia bisa dikalahkan oleh pemegang kekuasaan. “Ini Tragedi demokrasi. Sistem hukum kalah oleh pemegang kekuasaan, pengusaha dan pemegang kapital,” tegasnya.

“Dalam konteks putusan sela untuk ke sekian kalinya putusan MK bermasalah. MK melakukan akrobat hukum secara tanpa dasar hukum, tanpa mencermati dasar hukum, dan tanpa menggunakan akal sehat,” sambungnya.

Dengan berlarutnya sengketa Pilkada Muna juga disebut Arteria sangat mencitrakan MK sebagai agen penerus kepentingan golongan, mengeluarkan putusan yang justru bertentangan dengan fakta di lapangan. Selain itu, baru kali ini juga MK mengeluarkan putusan atas dasar asumsi adanya pemilih ganda, padahal hakim MK dalam mengeluarkan putusan tidak boleh berdasarkan asumsi.

“MK juga menganggu fakta yang ada. Rakyat jangan bakar pasar, itu Gedung MK dibakar harusnya. Mari kita bongkar-bongkaraan soal perangai hakim MK ini,” tandasnya.

Ditempat yang sama, Anggota Bawaslu RI, Nasrullah mengatakan saat ini pihaknya tengah menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh MK setelah pelaksanaan PSU Jilid II ini. Tak jauh berbeda dengan Arteria, apa yang diputuskan oleh MK dengan mengeluarkan dua kali putusan sela untuk dilakukan PSU merupakan hal yang aneh.

Padahal, dalam pelaksanaan PSU Jilid I maupun PSU Jilid II, Bawaslu RI telah memerintahkan kepada Bawaslu Sultra dan Panwaslu Muna untuk mencermati segala persoalan yang terjadi di Pilkada Muna khususnya masalah daftar pemilih tetap (DPT) yang selalu menjadi masalah klasik dalam pelaksanaan Pilkada.

Pihaknya pun melihat adanya keanehan dalam proses pengambilan putusan sela yang kedua oleh Hakim MK. Pasalnya, keputusan yang diambil oleh MK berdasarkan surat keterangan yang diambil dari aparat kelurahan. Padahal, apa yang menjadi acuan putusan MK tersebut hingga saat ini tidak ditemukan keberadaannya oleh Bawaslu.

“Saya jengkel dengan MK. Makanya pada sidang tanggal 19 Juli nanti saya ingin sekali hadir untuk mengetahui apa yang menjadi persoalan. Karena saya belum pernah menemukan masalah seperti ini di Indonesia yang dilakukan PSU sampai dua kali,” tuturnya. (hrm)

loading...
Click to comment
To Top