Presiden Pantau Langsung Proses Vaksinasi Ulang di Puskesmas Ciracas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kesehatan

Presiden Pantau Langsung Proses Vaksinasi Ulang di Puskesmas Ciracas

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan dan satuan tugas terkait mendatangi Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Senin (18/7). Presiden mengatakan, tujuan kedatangannya adalah menjamin pelayanan vaksin ulang. Ia ingin memastikan masyarakat mendapat penjelasan dan pelayanan yang konkrit dari tindakan itu.

Seperti diketahui, ada 197 pasien anak di beberapa fasilitas kesehatan yang terindikasi menerima vaksin palsu. Untuk itu pemerintah berinisiatif melakukan vaksinasi ulang secara bertahap.

”Saya datang ke sini ingin memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang benar, mendapatkan penjelasan yang baik, baik dari Puskesmas maupun yang dari kementerian dan juga pelayanan-pelayanan dari Kemenkes dari Dinkes di DKI,” kata Presiden.

Kementerian Kesehatan sendiri telah menyiagakan Rumah Sakit Umum Ciracas. Tujuannya untuk menjadi opsi kedua ketika Puskesmas tak lagi bisa menampung pasien vaksinasi ulang. Adapun lokasi imunisasi yakni Puskesmas Kelurahan Ciracas dan RSU Kecamatan Ciracas; RS Harapan Bunda, Jakarta Timur; dan RS Sayang Bunda, Bekasi.

Dikatakan Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, pelaksanaan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat. Imunisasi ini juga tak dilakukan tuntas dalam sehari. Sesuai dengan perkembangan data dari Bareskrim Polri, tindakan tersebut akan dilaksanakan secara bertahap.

”Bertahap, tentu tidak mungkin sekaligus. Kita dapat datanya dari Bareskrim dan ke depan bisa bertambah lagi,” kata Nila.

Sekedar informasi, pada kesempatan kali ini, lebih kurang 26 anak dari 197 pasien Bidan E yang terindikasi mendapatkan vaksin palsu diminta kehadirannya untk divaksinasi ulang di Puskesmas Ciracas.

Sedangkan di RS Harapan Bunda lebih kurang 20 anak dan RSIA Sayang Bunda Bekasi 20 anak. Kegiatan imunisasi akan diawali dengan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu oleh dokter spesialis anak.

Pelaksanaan imunisasi dilakukan oleh tenaga kesehatan yang yang telah ditunjuk oleh Pemerintah didampingi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Vaksin yang digunakan dalam kegiatan imunisasi wajib ini ada dua macam. Pertama, vaksin DPT (Difteri Pertusis dan Anti Tetanus), HB (Hepatitis B) dan HiB (Haemophilus Influenza type B) atau yang lebih dikenal dengan sebutan vaksin pentavalen yang mampu memberikan kekebalan terhadap 5 jenis penyakit.

Kedua, oral polio vaccine (OPV) yang mampu memberikan kekebalan terhadap penyakit polio. Vaksin pentavalen dan OPV tersebut merupakan vaksin yang termasuk ke dalam program nasional imunisasi dasar lengkap milik pemerintah.

”Kita akan memberikan imunisasi sesuai dengan memperhatikan jenis vaksin palsu yang pernah didapatkan dan usia anak saat ini,” imbuh Nila.

Terpisah, Corporate Secretary Bio Farma, Rahman Rustan, menjelaskan bahwa jenis-jenis vaksin yang digunakan dalam imunisasi ulang merupakan produksi dalam negeri.

Menurutnya, meskipun pemerintah memberikan cuma-cuma ke masyarakat, bukan berarti tidak berkualitas karena produk vaksin Bio Farma sudah diakui standar tinggi yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Untuk diketahui, salah satu indikator standar tinggi adalah dari sekitar 200 pabrik vaksin di dunia, yang baru diakui WHO kurang dari 30 pabrik. Salah satunya adalah Bio Farma di Indonesia.

”Indonesia saat ini satu-satunya negara di Asia Tenggara yang pabrik vaksinnya sudah diakui WHO. Ini kebanggaan karena WHO menetapkan standar produksi vaksin sangat kompleks dan rumit,” tegas Rahman. (adn/yuz/JPG)

Click to comment
To Top