Waduh! Proyek Rehab Gedung DPRD DKI Lolos Audit BPK – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Jabodetabek

Waduh! Proyek Rehab Gedung DPRD DKI Lolos Audit BPK

DPRD DKI Jakarta

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Dugaan adanya penyimpangan dalam penganggaran rehab Gedung DPRD DKI pada tahun 2014 dan 2015 berbuntut panjang. Renovasi gedung yang menghabiskan anggaran hingga puluhan miliar itu ternyata lolos audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Direktur Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, proyek tersebut tidak diaudit BPK.

“Audit yang dilakukan BPK memang tidak terdapat proyek renovasi gedung dan sarana lain di DPRD DKI. Karena sistem acak, tidak menutup kemungkinan proyek tersebut memang lolos. Sehingga sangat rentan dengan penyimpangan anggaran,” ujarnya, Kamis (21/7).

Dengan dilolosnya proyek itu dari objek pemeriksaan BPK, disinyalir penggunaan anggaran renovasi gedung DPRD DKI menjadi rawan penyelewengan. Apalagi melihat faktanya berbagai fasilitas di gedung wakil rakyat yang berada di Jalan Kebon Sirih Jakarta itu, seperti toilet, plafon, wastafel dan lain sebagainya terdapat banyak kerusakan.

Seperti toilet yang terdapat di setiap lantai banyak tidak berfungsi. Beberapa toilet pria yang memiliki fasilitas cukup baik ternyata kurang terawat. Mulai dari kloset di lantai dua gedung DPRD yang telah ditutupi menggunakan kertas berbahan fiber karena mampet.

Beberapa wastafel yang tidak berfungsi. Wastafel rusak ditemukan di jalan penghubung antara Gedung lama dan Gedung Baru DPRD DKI. Begitu juga dengan toilet di basement di gedung baru. Ada juga internit toilet yang nampak rusak dan tempat buang air kecil di lantai empat di gedung yang sama dan ditutupi tempat sampah karena tidak berfungsi.

Atas fakta itu,  Uchok menegaskan bahwa tidak ada salahnya BPK melakukan audit terhadap proyek tahun 2014 yang memakan biaya senilai Rp 28 miliar yang dikerjakan PT Hana Huberta. Tersedotnya uang rakyat ini kian besar bila diakumulasi dengan proyek renovasi ruang Paripurna DPRD DKI yang memakan anggaran sebesar Rp 18,92 miliar.  

Dari data yang diperoleh di lpse.jakarta. go.id, setelah melalui proses lelang, PT Rimbun Sekawan Utama tampil sebagai pemenang, dengan harga Rp 16,8 miliar, dengan kode rekening 5.2.2.20.26.001 dan SPK no. 08/S.P3/Setwan/VIII/2011. Kemudian untuk pemasangan layar digital dianggarkan Rp 4,1 miliar dan instalasi listrik senilai Rp 2,4 miliar.

“Memang untuk proyek ini sangat fantastis nilainya. Karena dengan uang yang begitu besar, masyarakatpun bisa melihat kualitas  dari pengerjaan renovasi itu. Pantas atau tidak uang sebesar itu digelontorkan,” ucapnya.

Di lokasi berbeda, Sabam Marpaung, staf Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah DKI yang saat itu menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) proyek tersebut membenarkan pengerjaan renovasi tidak diaudit BPK.

“Saat itu kami sudah meminta untuk BPK mengaudit namun karena sistem sampling dan keterbatasan waktu akhirnya proyek ini tidak diaudit BPK,” tutur Sabam.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga meminta, penganggaran renovasi gedung baru DPRD DKI agar diusut tuntas. Kecurigaan tersebut timbul akibat gampangnya berbagai fasilitas mengalami kerusakan, padahal anggaran yang dialokasikan cukup besar.

Suami Veronica Tan ini pun mencurigai adanya oknum yang mencoba bermain dengan pagu anggaran. Tak hanya oknum di legislatif, tetapi ia juga mencurigai anak buahnya di eksekutif. Dalam hal ini Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang melaksanakan proyek tersebut.

“Waktu itu pun saat berantem-berantem, kita belum mengontrol kelakuan SKPD. Makanya banyak APBD yang kita Silpa-kan,” katanya.

Emosi Ahok kian bertambah setelah mencuat kabar tenaga ahli Gubernur DKI Jakarta menerima kucuran dana dari kontraktor pemenang proyek renovasi toilet gedung DPRD DKI, PT Hana Huberta.

Beredar kabar, tenaga ahli Ahok ikut bermain dalam permainan proyek ini dan disinyalir mendapatkan dana sebesar Rp150 juta untuk ‘mengamankan’ proyek renovasi dari sorotan media.

Atas informasi itu, Ahok meminta nama tenaga ahli tersebut agar bisa ditindaklanjuti. Mulai dari pengusutan dugaan penyalahgunaan anggaran renovasi itu. “Staf ahli yang mana, sebutin namanya. Tanya namanya siapa biar aku tahu,” pungkasnya. (uya/JPG)

loading...
Click to comment
To Top