Polisi Temukan Cap KPK Palsu dan Kartu Pers di Rumah HRS – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Nasional

Polisi Temukan Cap KPK Palsu dan Kartu Pers di Rumah HRS

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Tim satuan tugas Ditreskrimum Polda Metro Jaya yang bekerjasama dengan Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat KPK menemukan uang sebesar Rp 25 juta dan kartu pers dari rumah pegawai KPK gadungan berinisial HRS.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Khrisna Murti menjelaskan saat menggeledah rumah HRS, pihaknya menemukan cap KPK palsu, printer dan scanner, air softgun, serta uang tunai Rp 25 juta. Tak hanya itu, petugas juga menyita lima unit telepon genggam, kartu KPK, kartu pers Koran Pemberantasan Korupsi, dan barang bukti lainnya.

Pengeledahan tersebut, papar Khrisna, dilakukan setelah pelaku diciduk saat ingin melakukan pemerasan di sebuah rumah di Perumahan Pesona Khayangan Blok OC no. 8, Depok pada Kamis (21/7) malam.

Dia menjelaskan, penyidik sudah menggeledah rumah HRS di Depok sejak pagi hingga sore pada Jumat (22/7).

“Tanda jadi Rp 50 juta. Rp 25 juta tunai, dan Rp 25 juta transfer. Jadi uang Rp 25 juta itu transaksi pancingan antara korban dan pelaku,” ungkap Krishna saat konfrensi pers di di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Jumat (22/7).

Terbongkarnya modus HRS, saat salah seorang korban melapor kepada Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat (PIPM) KPK pada Rabu (20/7). Laporan tersebut ditindaklanjuti KPK yang berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

Setelah menelusuri laporan tersebut,  petugas KPK bersama aparat Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap HRS saat ingin melakukan transaksi dengan korbannya berinisial I dan IBM di sebuah rumah di Perumahan Pesona Khayangan Blok OC no. 8, Depok pada Kamis malam (21/7).

Diketahui HRS mengetahui, bahwa I, R dan IBM pernah menjadi saksi untuk kasus yang sedang ditangani oleh KPK. HRS mengaku sebagai Kabag Analisis KPK, bisa membantu mengurus kasus yang tengah dialami saksi I, IBM dan R.

Korban yang pernah diperiksa KPK ditakut-takuti oleh HRS bahwa KPK akan ditetapkan ketiganya sebagai tersangka. Jika ingin lolos dari jeratan KPK, korban diminta menyerahkan uang masing-masing sebesar Rp 2,5 miliar.

“Yang bersangkutan (HRS) mengaku bisa menentukan sprindik ini lanjut atau tidak. Akibatnya, R, IBM, I yakin dan bersedia memberikan uang Rp 2,5 miliar masing-masing,” ujar Khrisna

Untuk meyakinkan korban HRS menunjukan surat perintah dimulainya penyidikan (Sprindik) terhadap anggota DPRD Sumatera Utara yang telah dan siap ditandatangani Pimpinan. Selain itu, HRS mengaku dapat menentukan penetapan tersangka. Apalagi, HRS mengaku sering bertemu dengan pimpinan dan pejabat struktural KPK.

Lantaran pernah diperiksa dan khawatir bakal jadi tersagka korupsi, korban bersedia menyerahkan uang tanda jadi sebesar Rp 50 juta. Pemberian dilakukan dua cara. Pertama dengan transfer Rp 25 juta. Sisanya diberikan secara tunai.

Atas perbuatannya, HRS dijerat pasal 263 KUHP, pemalsuan dokumen, 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan, serta 368 KUHP terkait pemerasan.

“Karena ini kasus pidana umum, akan disidik Polri,” tutup Khrisna. [ysa]

loading...
Click to comment
To Top