Nasyit Umar: Pemerintah harus Buat Regulasi Tentang Sagu – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Ekonomi & Bisnis

Nasyit Umar: Pemerintah harus Buat Regulasi Tentang Sagu

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah penghasil pangan di Indonesia, dengan memproduksi beras, ternyata juga sebagai salah satu penghasil sagu terbanyak di Kawasan Timur Indonesia selain Maluku, dan Papua.

Di Sulsel, sagu banyak ditemukan di daerah Utara, yakni diwilayah Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

Dengan adanya Seminar Internasional Sagu di Makassar, Sabtu 23 Juli 2016, lalu. Menjadi momentum kebangkitan sagu sebagai bahan makanan pokok selain beras.

Menurut Anggota Komisi IV DPR RI dari Sulsel Muhammad Nasyit Umar, sagu masuk dalam divesifikasi makanan bersama jagung, dan umbi-umbian pengganti beras.

Diversifikasi pangan yang berbasis lokal dan inovatif dalam berbagai bentuk, tentu berdasarkan adat lokal, kebiasaan daerah masing. Sehingga harapan pemerintah untuk tercapainya ketahanan pangan dapat terwujud.

“Sagu, jagung, dan umbi-umbian adalah makanan pokok dibeberapa daerah seperti Sulawesi, Papua, dan Maluku. Banyak suku-suku di Indonesia Timur menjadikan bahan pangan tersebut sebagai makanan pokok, dan bahkan makanan wajib ketika upacara adat,” kata politisi dari Fraksi Demokrat DPR RI kepada Fajar Media Center (FMC), Minggu 24 Juli 2016.

Sejalan dengan program pemerintah pusat yang tengah menggalakkan divesifikasi makanan menuju ketahanan pagan nasional. Pemerintah pusat maupun daerah seharusnya membuat regulasi (peraturan) yang berkaitan dengan diversifikasi makanan tersebut. Yang isi regulasi tersebut sesuai dengan kebiasaan dan adat masing-masing khas daerah.

“Artinya makanan pokok itu tidak harus beras sehingga pemerintah dapat mengembangkan tanaman dan  produksi makan seperti sagu, jagung, dan umbi-umbian ini,” jelasnya.

Sebagai contoh, kata Nasyit adalah beras raskin yang saat berubah nama menjadi Beras Sejahtera, yang dibagikan sebanyak 15kg kepada masyarakat miskin dengan harga yang disubsidi pemerintah.

Untuk daerah tersebut tentu tidak harus beras tapi cukup sagu, jagung atau singkong saja! Karena pola konsumsi beras dan sudah menjadi  konsumsi utama.

Saatnya, lanjut Nasyit, pemerintah wajib merumuskan ketahanan pangan nasional agar persediaannya dalam jumlah yang cukup, berkualitas dan terjangkau. Oleh karena itu perlu grand strategi yang komplit dan terintegrasi secara nasional.

Sementara itu, Wakil Gubernur Agus Arifin Nu’mang meminta intansi terkait agar mengembangkan sagu sebagai salah satu komoditi unggulan penopang pangan masyarakat.

Hal itu dikarenakan sagu merupakan makanan sehat yang layak dikonsumsi. Disamping itu, sagu merupakan makanan warisan dari nenek moyang.

“Jadi sebelum nenek moyang kita mengkonsumsi beras dulunya itu, mereka mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok, dan itu makanan sehat, dan terbukti orang Luwu dahulu kala cerdas”, kata Agus saat menjadi narasumber pada acara International Sago Symposium di Hotel Imperial Aryaduta Makassar, Sabtu 23 Juli 2016.

Menurut Agus, selain dapat dijadikan bahan makanan pokok, sagu juga bisa menjadi bahan baku produksi obat obatan.

Sayangnya, seiring majunya perkembangan ekonomi, kebiasaan mengonsumsi sagu bergeser ke beras. Bahkan saat ini kecendrungan mengkonsumsi beras mulai bergeser ke bahan pangan terigu sebagai dampak Ini meningkatnya perekonomian masyarakat. (idr/fmc)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top