Dua Bom Meledak di Kota Qamishli, 50 Orang Tewas – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Internasional

Dua Bom Meledak di Kota Qamishli, 50 Orang Tewas

FAJAR.CO.ID, HASAKA – Sebanyak 50 orang tewas usai bom meluluhlantakkan Kota Qamishli, Provinsi Hasaka, Syria, Rabu (27/7). Sebagian korban tewas di kota yang mayoritas penduduknya warga Kurdi itu adalah perempuan dan anak-anak. 

Jumlah korban jiwa bisa terus bertambah. Sebab, masih ada lebih dari 140 orang lainnya yang menderita luka-luka. Sebagian besar di antaranya terluka cukup parah. Ledakan tersebut berasal dari sebuah truk berisi bom yang dikendarai pelaku dan diledakkan di dekat pusat pasukan keamanan Kurdi. 

Beberapa menit kemudian, sebuah sepeda motor yang juga bermuatan bom diledakkan di lokasi yang sama. Begitu kuatnya dua ledakan itu sampai menghancurkan kaca-kaca toko di Kota Nusaybin, Turki, yang berbatasan langsung dengan Kota Qamishli. 

Usai ledakan, suara tangis dan teriakan perempuan dan anak-anak terdengar bersahut-sahutan. Mereka yang selamat berlarian dengan tubuh penuh darah dan baju terkoyak. Sejak perang Syria berkecamuk pada Maret 2011, Qamishli kerap diserang bom. Namun, kejadian kemarin merupakan yang terburuk. 

Militan Islamic State (IS), lagi-lagi mengklaim sebagai dalang di balik serangan tersebut. Mereka sengaja menyerang pasukan keamanan Kurdi. Selama ini, pasukan Kurdi memang bekerja sama dengan Amerika Serikat (AS) untuk menghancurkan IS. 

Mayoritas wilayah di Provinsi Hasaka dikuasai Kurdi. ’’Ini adalah pembalasan untuk kejahatan yang dilakukan pesawat milik koalisi di Kota Manbij,’’ ujar ISIS di berbagai media sosial. 

Manbij adalah basis ISIS di Provinsi Aleppo. Di lain pihak, pasukan pemerintah Syria telah menutup semua akses menuju Aleppo. 

Dengan ditutupnya semua jalur itu, pasukan Syria bisa melakukan serangan dari jarak dekat. Sebanyak 250 ribu orang yang tinggal di wilayah timur Aleppo tersebut kini benar-benar terkepung. ’’Hari ini (kemarin, Red) tidak ada lagi jalan untuk membawa apa pun ke Aleppo,’’ ujar Direktur Syrian Observatory for Human Right Rami Abdulrahman. (afp/reuters/sha/c23/any/adk/jpnn)

Click to comment
To Top