Hanya Karena Surat, Proyek Rp 33 Miliar Tertunda – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Jabodetabek

Hanya Karena Surat, Proyek Rp 33 Miliar Tertunda

FAJAR.CO.ID, BOGOR– Keinginan warga untuk mendapatkan fasilitas pedestrian (jalur pejalan kaki) yang nyaman di sekitar Kebun Raya Bogor (KRB) harus ditahan lebih lama lagi. Pasalnya, lanjutan proyek yang menelan biaya Rp 33 miliar tersebut tak kunjung dilakukan. Padahal, pemenang lelang PT Wiraloka sudah diputuskan beberapa waktu lalu.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bogor, Nana Yudiana, berlasan, pihaknya belum mengeluarkan surat perintah kerja (SPK). Sehingga kontraktor belum bisa memulai pekerjaannya.

“SPK untuk proyek pedestrian memang belum ada, tapi sedang kita proses untuk buat draft kontraknya seperti apa. Setelah itu semua selesai, PT Wiraloka harus segera memulai pekerjaannya,” ujar Nana kepada Radar Bogor.

Berkaca pada kasus serupa, proyek pedestrian ini sejatinya sudah dilakukan sejak tahun 2015, namun tidak tuntas dan dilanjutkan pada tahun ini. Menurut, Pengawas PPK pada DBMSDA, Sultodi, pihaknya sudah menentukan masa pengerjaan proyek selama 150 hari kalender atau deadlinenya hingga akhir tahun. Nantinya pedestrian di seputaran KRB itu memiliki panjang 4 kilometer.

“Ada empat titik pedestrian, yaitu Jalan Jalak Harupat, Jalan Juanda, Jalan Pajajaran, dan Jalan Otto Iskandardinata (Otista),” bebernya.

Proyek pedestrian keliling KRB, dimulai bersamaan dengan dibangunya sebelas pilar yang masuk dalam proyek kota pusaka. “Sesuai kesepakatan kita ingin proyek di empat jalan tadi dilakukan secara bersamaan,” bebernya.

Ia menegaskan, dana sebesar Rp 33 miliar itu, terpisah dengan proyek kota pusaka. Nantinya selain pedestriam, proyek itu sudah sepaket dengan pembangunan saluran drainase dan pelebaran, serta pembangunan turap.

Nantinya kan terjadi  pelebaran drainase di kawasan Otista yang dilebarkan menjadi 1,5 meter dari yang tadinya hanya 80 centimeter. ”Namun itu hanya drainasenya saja,” ucapnya.

Selain itu, akan dibangun juga  jalur sepeda di sekitar jalan Pajajaran dan jalan Juanda. Namun konsepnya jalur sepeda akan sejajar dengan badan jalan dan akan mengambil lahan sebesar 1,5 meter.

“Kita menginginkan metode dari pekerja proyek itu harus benar. Dalam artian, metodologi yang dinginkan adalah pengerjaan terbagi di empat titik, setiap titik lakukan dilakukan pengerjaan dengan waktu yang bersama. Jangan sampai saling menunggu selesai hanya di satu titik,” tandasnya. (dka/c)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top