Kasihan.. Bocah 12 Tahun Terlantar di Pasar, Sekujur Tubuh ada Luka dan Bekas Sperma – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Kriminal

Kasihan.. Bocah 12 Tahun Terlantar di Pasar, Sekujur Tubuh ada Luka dan Bekas Sperma

FAJAR.CO.ID, BANDARLAMPUNG- Seorang bocah perempuan berumur sekitar 12 tahun yang ditemukan terlantar di Pasar Mangga Dua, Telukbetung, Bandar Lampung, kemarin (2/8).

Bocah malang itu pertama kali ditemukan Iin Meylina (38) warga Jl. Gatot Subroto, Tanjunggading. Mahasiswi Pascasarjana Universitas Saburai ini mengaku melihat bocah itu sedang tertidur tanpa busana.

“Saat itu saya sedang makan di daerah sana. Saya lihat ada bocah itu, saya tanya orang-orang ternyata sudah lima hari. Ternyata anak itu perempuan,” katanya, kemarin.

Tidak tega, akhirnya Iin berupaya mencari bantuan. Bocah tersebut lalu dibawa ke Puskesmas Sukaraja. Yang lebih mengejutkan, setelah diperiksa, ada sisa sperma di kemaluannya.

Temuan ini menjadi bukti awal bahwa bocah malang itu adalah korban perkosaan. “Saya heran, kenapa hal seperti ini sampai dibiarkan. Kondisinya sangat mengenaskan, banyak bekas kekerasan,” sesalnya.

Menurut Iin, saat ditemukan kondisi bocah itu sangat mengenaskan. Mata kiri, pipi kiri, dan mulutnya memar. Bagian kepala juga hampir botak karena dicukur paksa. Tubuh bocah itu juga dipenuhi luka-luka yang telah mengering.

Dugaan sementara bocah tersebut menderita trauma. Meski masih dapat diajak berkomunikasi, namun dia kesulitan mengingat nama dan tempat tinggalnya.

Dengan berbagai pertimbangan, bocah itu akhirnya dibawa oleh Iin dan pihak puskesmas ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) agar mendapatkan perawatan intensif.

“Kami antarkan sementara kesini, karena kami sudah coba hubungi berbagai pihak tapi belum ada respons. Harapannya di sini bisa dirawat dengan baik,” lanjutnya.

Saat dikonfirmasi, Direktur Lembaga Perlindungan Wanita dan Anak-anak Damar, Selly, mengatakan pihaknya saat ini masih mencoba berkordinasi dengan pihak UPT Perlindungan Perempuan di rumah sakit tersebut.

“Sebab untuk kasus tersebut, memang harus ditangani pihak medis dan psikologis. Besok tim kami akan mulai mendampinginya,” katanya.

Penderitaan bocah tidak berhenti sampai di situ, tiba di rumah sakit, dia ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) tanpa ada pendamping. Pantauan Radar Lampung (Jawa Pos Group), sebelumnya sempat kesulitan untuk menemukan korban lantaran telah berpindah dari ruang IGD ke ruang Rawat Inap Mawar.

“Pasien yang masuk tadi siang ya? Sudah pindah ke ruang mawar. Baru aja tadi,” ujar salah satu perawat di ruang IGD.

Namun, ketika sampai di ruang Mawar. Perawat jaga justru mengatakan bahwa ruangan yang diisi oleh pasien wanita tersebut belum menerima pasien baru sore ini.

Radar Lampung lantas menelusuri beberapa ruangan yang mungkin dimasuki korban selain ruang Mawar. Namun, tidak satu pun ruangan mengaku menerima pasien dengan ciri-ciri yang disebutkan.

Tidak berputus asa, Radar kembali menuju ruang IGD untuk mendapatkan informasi lain. Berdasarkan penuturan salah seorang karyawan bagian registrasi, korban yang baru berusia 12 tahun itu, telah dipindahkan ke ruang Mawar sekitar pukul 17.30 WIB.

“Pasien mengalami luka di sekujur wajah. Bahkan bagian bibir lebam, hingga membengkak. Tadi sebelum Magrib sudah dipindah ke ruang Mawar,” ujar pria penjaga loket pendaftaran yang berapa di depan pintu masuk ruang IGD RSUDAM.

Benar saja, saat kembali menelusuri seluruh kamar inap di ruang Mawar. Korban yang daftarkan atas nama Mrs. X tersebut tengah tergolek di dalam ruang Ulcus tanpa pengawasan. Salah seorang pasien yang juga menginap di ruang Ulcus menuturkan, korban masuk dengan diantar perawat.

“Tadi sempat nangis-nangis dan mengamuk, makannya sama perawat kemudian diikat. Ini baru saja diam,” ujar perempuan paruh baya tersebut.

Pantauan Radar Lampung di lokasi, seorang dokter jaga sempat memeriksa kondisi korban sebentar. Dokter itu mengatakan akan kembali untuk mencoba memasang infus. Namun hingga pukul 23.30 WIB, belum satu pun perawat atau dokter jaga yang kembali untuk memasang infus pada korban.

Sementara itu, korban yang masih terikat terus merintih dan meminta untuk dilepas. Korban sempat mengeluh kesakitan pada tangan dan kakinya. Dia terus memaksa membuka ikatan dan meminta dibiarkan pulang.

“Biarin sih pulang. Kok susternya begini, di sana disiksa, di sini disiksa,” rintih korban. Namun ketika ditanya tentang siapa yang menyiksa, korban hanya diam dan menangis. (yay/ega/fik)

To Top