Kisah Sri Wahyuni, Semenjak Kecil Sudah Geluti Angkat Besi – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

exciting-banten
Daerah

Kisah Sri Wahyuni, Semenjak Kecil Sudah Geluti Angkat Besi

RIOEC861SDQVN_1536x864

FAJAR.CO.ID, ORANG tua Sri Wahyuni menggelar pengajian dengan sajian tumpeng nasi kuning untuk mendukung anak mereka berlaga di ajang Olimpiade. Tulang punggung keluarga, Yuni juga rutin membagi sepatu dan kaus kepada anak-anak tetangga. 

Nuris Andi P., Bandung

CANDIANA dan Rosita putus asa. Niat menonton perjuangan putri mereka, Sri Wahyuni Agustina, di Olimpiade tak kesampaian. 

Padahal, sudah sejak Sabtu (6/8) dini hari mereka memelototi televisi. Mereka tak tahu bahwa Yuni –sapaan akrab Sri Wahyuni– baru dijadwalkan turun sehari kemudian. 

Tapi, ketika kembali begadang pada Minggu dini hari (7/8) pun, tetap tak ada tayangan perebutan medali angkat besi putri kelas 48 kilogram di televisi.

Sampai kemudian telepon seluler Candiana berdering kemarin pagi (7/8). Dalam kondisi masih menahan kantuk karena begadang dua hari beruntun, diangkatnya telepon. Ada Junaidi, suami Supeni, pelatih Yuni, di seberang sana.

Dengan kegembiraan meluap, Candiana meneruskan kabar gembira dari Junaidi tersebut. ’’Itu si Yuni dapat nomor dua,’’ teriak Candiana menirukan suara Junaidi kepada sang istri, Rosita.

Seketika rumah sederhana di Kampung Bojong Pulus, Desa Banjaran Wetan, Kabupaten Bandung, itu larut dalam keharuan. Rosita menangis, disusul Desi Nuryanti, adik Yuni, yang tinggal di sebelah. Sedangkan Candiana tak putus-putus memanjatkan syukur.

Sejak saat itu, tidak henti-hentinya ucapan selamat datang kepada keluarga Yuni dari berbagai penjuru. Ponsel Candiana berkali-kali berdering. Tamu hilir mudik berdatangan. 

Lifter 22 tahun tersebut lahir dan besar di tengah keluarga sederhana. Pintu masuk ke gang rumahnya hanya bisa dilewati sepeda motor. Kalau ada dua motor berjalan bersama, harus ada yang mengalah untuk menepi.

Di depan rumah orang tua, ada rumah kakeknya, Andin Lesmana. Di bagian belakang, ada satu tanah petak kosong yang sudah menjadi milik Yuni. Di sebelahnya ada rumah adiknya, Desi, yang kini sudah punya satu anak.

Di rumah orang tuanya itu, jerih payah Yuni selama menggeluti angkat besi sejak berusia 13 tahun tersimpan. Berjejer rapi deretan medali, piagam, serta boneka event di dalam lemari kaca di ruang tamu rumahnya. 

Di keluarga Yuni mengalir kuat darah olahragawan. Candiana, sang ayah, dulu merupakan pelari jarak jauh di level kabupaten. Itu pula yang dulu sempat membuat Yuni kecil berlatih lari. Bahkan sempat mengikuti sebuah ajang lari 10 kilometer saat itu.

Tapi, minimnya ajang lari saat itu membuat Yuni berpaling ke angkat besi yang lebih dulu digeluti adiknya, Desi. 

’’Suatu ketika Eneng (Yuni, Red) nangis ke saya minta dibawa ke tempat latihan angkat besi di tempat Pak Maman Suryaman,’’ ungkap Candiana.

Maman merupakan sosok dedengkot angkat besi di Jawa Barat. Bersama istrinya, Luki, mereka melihat potensi besar seorang Yuni sejak usia 13 tahun. ’’Saat itulah Bu Luki minta Yuni biar tinggal di mes,’’ ujar Rosita.

Sejak itu pula Yuni jarang pulang dan ketemu keluarga. Sebagai gantinya, Rosita dan Candiana sering menjenguk putri sulungnya tersebut di tempat latihan. 

Tidak jarang, mereka curi waktu untuk memberikan camilan kesukaan Yuni, batagor. Maklum, dengan program latihan dan pola makan yang diatur, Eneng –sapaan Yuni di keluarga– tidak boleh sembarangan makan.

Selain itu, setiap menjelang Yuni tampil di sebuah event, keluarga selalu menggelar pengajian dengan warna-warni tumpeng serta nasi kuning. ’’Boleh dikatakan tradisi karena kami ingin melihat Eneng bisa dimudahkan dalam mengangkat beban,’’ terang Rosita. 

Kini segala pengorbanan itu terbayar lunas. Raihan medali perak Olimpiade 2016 tersebut membuatnya berhak atas bonus Rp 2 miliar plus Rp 15 juta per bulan untuk tunjangan hari tua.

Candiana dan Rosita menyerahkan sepenuhnya penggunaan uang itu ke tangan Yuni yang kini kuliah di jurusan hukum Universitas Bhayangkara, Jakarta.

’’Eneng sudah punya investasi rumah, tabungan, dan kini mau nambah tanah di samping jalan besar,’’ katanya.

Menurut Candiana, Yuni menginginkan keluarganya juga punya tempat tinggal yang lebih layak. Di mata keluarga, Yuni merupakan tulang punggung. Setiap bulan dia tidak lupa mentransfer sejumlah uang untuk kebutuhan sekolah adik-adiknya. 

Selain Desi, Yuni punya dua adik yang masih berstatus pelajar. Mereka adalah Eliana Apriliyanti, 13, dan Rangga Arya Suhenda, 11. Termasuk menyisihkan sejumlah uang hadiah medali perak Asian Games Incheon 2014 untuk biaya umrah orang tua.

’’Itu menjadi hadiah yang tidak terlupakan buat kami,’’ ungkap Rosita.

Di kalangan tetangga kampung, Yuni juga dikenal luwes serta suka berbagi. Rade Karmana, salah seorang tetangga, mengaku sering mendapat hadiah dari Yuni. ’’Kadang juga uang. Yang paling sering, anak-anak dikasih sepatu dan kaus kejuaraan,’’ ucapnya.

Kerendahan hati itu pula yang membuat keluarga semakin yakin prestasi Yuni bakal terus meningkat. Apalagi usianya masih muda. Setidaknya masih bisa mengikuti dua Olimpiade lagi.

’’Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan,’’ tegas Candiana. (*/c5/ttg)

loading...
Click to comment
To Top