Begini Hukum Jual Beli Anjing, Upah Pelacur, dan Dukun – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Samudera Ilmu

Begini Hukum Jual Beli Anjing, Upah Pelacur, dan Dukun

SEGALA puji hanya kepada Allah Ta’ala. Penjelasan ini dimulai dengan hadits dari Imam Bukhari Rahimahullah meriwayatkan, dari Abu Masud al-Anshari, bahwa Rasulullah Shalallahualaiwassalam melarang uang hasil dari penjualan anjing, bayaran pelacur, dan bayaran dukun.” (HR Bukhari, No. 2237).

Kemudian Rasulullah saw juga bersabda:

“Sejelek-jelek penghasilan adalah upah pelacur, hasil penjualan anjing dan penghasilan tukang bekam.” (HR. Muslim dalam Bab Haramnya Hasil Penjualan Anjing, upah perdukunan, upah pelacur, penjualan kucing).

Dari Syu’bah, dia berkata: Aun bin Abi Juhaifah telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, “Aku melihat bapakku membeli seorang tukang bekam lalu menyuruh alat bekamnya dihancurkan. Aku bertanya kepadanya mengenai hal itu, maka dia berkata;

“‘Sesungguhnya Rasulullah saw melarang (mengambil) harga darah, harga anjing, hasil usaha budak wanita, dan melaknat wanita yang ditato dan yang meminta ditato, pemakan riba dan yang memberi orang lain untuk memakannya, serta melaknat pembuat gambar.” (HR Bukhari, No. 2238).

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah, mengatakan, hukum pertama adalah tentang harga anjing. Makna lahiriah larangan tersebut adalah haram menjualnya. Hal ini berlaku secara umum; baik anjing yang terlatih atau yang tidak terlatih, baik anjing yang boleh dipelihara maupun yang tidak boleh dipelihara. Sebagai konsekwensi logisnya, tidak ada ganti rugi bagi orang yang membinasakannya. Seperti itulah pendapat jumhur ulama.[1]

Abu Dawud meriwayatkan, dari hadits Ibnu Abbas, dari Nabi saw, melarang (mengambil) harga anjing, dan beliau bersabda: “Apabila seseorang datang meminta harga anjing, maka penuhilah telapak tangannya dengan tanah.” Sanad riwayat ini shahih.

Abu Dawud meriwayatkan pula dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, “Tidak halal harga anjing, upah tukang tenun dan mahar pezina.” Sebab illat larangan menjual anjing menurut ulama mazhab Syafii adalah karena secara mutlak anjing itu najis, dan ini tidak terkecuali baik anjing yang terlatih dan yang lainnya.[2]

Adapun hadits dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah melarang harga anjing kecuali anjing pemburu.” Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai dengan sanad yang dinukil para perawih yang tsiqah (terpercaya), hanya saja menurut Al-Asqalani, keotentikannya diragukan.[3]

Berdasarkan hadits-hadits yang telah dipaparkan, maka hukum jual  belu anjing adalah haram. Uangnya adalah haram. Demikian juga tentang upah pelacur. Tidak bisa disedekahkan. Karena sedekah itu dari harta yang baik lagi halal. Begitu juga dengan upah tukang tenun atau peramal alias dukun. Ini adalah profesi yang haram, maka upah yang dihasilkan juga haram.

Demikianlah, dan segala puji dan keagungan hanya milik Allah. (*)

————–

[1] Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Pembahasan Jual Beli, Jilid 12. Hal 440.

[2] Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Pembahasan Jual Beli, Jilid 12. Hal 440.

[3] Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Pembahasan Jual Beli, Jilid 12. Hal 441.

loading...
Click to comment
banner advertise
To Top