Mantan Sekretaris MK Ngaku Pernah Robek Dokumen Terkait Perkara – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Hukum

Mantan Sekretaris MK Ngaku Pernah Robek Dokumen Terkait Perkara

Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman usai memenuhi panggilan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (24/5/2016). Nurhadi diperiksa sebagai saksi terkait pengusutan kasus dugaan suap pendaftaran peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.--Foto: Imam Husein/Jawa Pos

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Mantan Sekretaris Mahkamah Agung mengakui pernah merobek dua dokumen terkait perkara. Dokumen berisi perkara tersebut bukan terkait dengan pengajuan Peninjauan Kembali (PK) grup Lippo, melainkan dua dokumen berupa fotocopy perkara Bank Danamon dengan tanpa nama pengirim. Perombakan itu ia lakukan pada 19 April 2016 malam sepulang dari kantor.

“Yang saya heran pas penyidikan jadi tiga kantong ‎plastik. Itu kan putusan foto copy (perkara) Bank Danamon itu tebel. Itu banyak sekali. Tapi saat rekonstruksi, kok banyak yang bukan putusan Danamon. Itu yang dipertanyakan. Justru berbeda, tipis banget, cuma jadi tiga kantong,” ungkap Nurhadi saat menjadi saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (15/8).

Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantas menjelaskan, ada sejumlah dokumen yang ditemukan dan telah dirobek-robek istri Nurhadi, Tin Zuraida saat KPK menggeledah kediamannya. Tin kemudian membuang robekan dokumen itu ke toilet.‎‎ “Iya semuanya yang disobek-sobek istrinya Nurhadi,” kata Jaksa Fitroh‎ Rochcahyanto.

Menanggapi pernyataan JPU KPK, Nurhadi merasa keberatan karena tidak memiliki kaitan. Dirinya kembali menjelaskan memang pernah merobek dokumen terkait perkara. Namun bukan terkait perkara grup Lippo dan dilakukan pada 19 April 2016 malam. Sedangkan, penyidik melakukan penggeledahan dan penyitaan pada 20 April 2016.

BACA:  KPK Telusuri Rekam Jejak Pengganti Nurhadi

“Amplop yang tipis termasuk yang dirobek, saya buka sepintas saja tapi saya tidak ingat perkara apa saja. Supaya dipahami betul di sini, saya dilakukan penyitaan tanggal 20 pada saat OTT Doddy dan Edy Nasution. Tanggal 19 malam berkas itu ada di meja lantai dua. Itu yang saya robek. Jadi sebelum penyitaan KPK sudah saya robek,” ujar Nurhadi.

Dalam sidang sebelumnya JPU KPK mempertanyakan memo yang dibuat pegawai bagian legal PT Artha Pratama Anugerah Wresti Kristian Hesti kepada seorang promotor. Promotor yang dimaksud adalah Nurhadi.

Kala itu Wresti diminta untuk membuat memo dan dokumen terkait penyelesaian sejumlah perkara grup Lippo. Namun dari penggeledahan penyidik KPK menemukan dokumen yang ditujukan kepada promotor.

Jaksa KPK Fitroh‎ Rochcahyanto saat itu mempertanyakan kepada Wresti apakah dokumen yang ditemukan KPK juga termasuk buatannya.

Wresti hanya menjelaskan bahwa dirinya diminta untuk membuat dokumen dan memo. Keduanya diserahkan kepada mantan petinggi Grup Lippo Eddy Sindoro dan ke “promotor”. [zul/rmol]

loading...
Click to comment
banner advertise
To Top