Tujuh Jam Dirawat, Begini Kondisi Terakhir Kesehatan Menpora – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

1230x100
Kesehatan

Tujuh Jam Dirawat, Begini Kondisi Terakhir Kesehatan Menpora

TERTATIH-TATIH: Setelah melewati perawatan selama tujuh jam, Menpora Imam Nahrawi meninggalkan suite room lantai delapan, Rumah Sakit Siloam Balikpapan, malam tadi (19/8). Tampak kaki kanan menpora diperban dan bengkak.   ANGGI PRADITHA/KALTIMPOST

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dirawat tujuh jam di Rumah Sakit Siloam Balikpapan, Jumat (19/8). Dia mengalami peradangan akut di kaki sebelah kanan.

Pria kelahiran Bangkalan 8 Juli 1973 itu dirawat di suite room, lantai delapan RS Siloam yang memiliki tarif Rp 1,75 juta per malam. Insiden ini mengakibatkan agenda pria yang akrab disapa Cak Imam itu berantakan.

Seharusnya, pada pukul 14.00 Wita, dia dijadwalkan memberikan bantuan fasilitas olahraga di SD 1 dan SMP 1 Balikpapan. Kemudian, pukul 15.00 Wita membuka Liga Santri 2016 tingkat Kaltim dan Kaltara di Stadion Persiba, kompleks Pertamina.

Sebelum tumbang pukul 12.30 Wita, Menpora hanya mengikuti satu agenda. Yaitu mengunjungi Desa Tani Bakti, Loa Janan,  Kutai Kartanegera, pada pukul 10.00 Wita.

Tanda-tanda adanya gangguan kesehatan di kaki Imam mulai terlihat saat menginjakkan kaki di VIP Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Ketika tiba pukul 09.30 Wita, dia tidak mengenakan sepatu. Melainkan sandal.

Langkah kakinya terlihat berat namun dia berusaha menutupi dengan berjalan seirama dengan pejabat Pemkot Balikpapan yang menjemputnya. Setelah beberapa menit istirahat di VIP Bandara Sepinggan dan bertemu Wakil Wali Kota Rahmad Mas’ud, iring-iringan kendaraan Menpora kemudian melesat meninggalkan Balikpapan menuju Kutai Kartanegara.

Sementara dalam perjalanan, kondisi kaki Menpora yang semula dipaksakan, perlahan nyeri. Namun kunjungan tetap dilakukan. Hingga dalam perjalanan kembali ke Balikpapan, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mulai menyerah dan dirujuk ke RS Siloam pukul 12.00 Wita.

Tiba di sana, Menpora sempat menunggu sekitar lima menit di ruang priority kemudian dimasukkan ke ruang radiologi untuk menjalani pemeriksaan. Pukul 12.30 Wita, Imam kemudian dibawa ke lantai delapan rumah sakit dan menjalani pengobatan intensif.

Shelly Laksimisari, dokter yang merawat Cak Imam selama tujuh jam mengatakan, kaki kanan Menpora terjadi peradangan akut. Peradangan terjadi karena sistem inflamasi kaki sedang aktif di bagian tungkai hingga terjadi pembengkakan.

Kondisi ini, sambung Shelly, biasa terjadi ketika seseorang terlalu aktif bergerak. Apalagi, Menpora baru saja tiba di Indonesia setelah menempuh perjalanan panjang dari Brazil mendukung atlet Indonesia. Di Negeri Samba, agendanya pun padat.

Setelah tiba di Indonesia, lanjut perempuan berjilbab ini, Imam Nahrawi langsung mengikuti beberapa agenda. Diselingi main bulutangkis. Saat itulah, gejala peradangan mulai aktif dan dirasakan Menpora.

“Penyebab langsung bukan makanan. Tapi peradangan aktif sendi tungkai sehingga membengkak,” ucapnya.

Selain diinfus, kaki kanan pria ramah ini juga dipasang trace. Sejenis alat pengikat yang berfungsi menarik tulang. Setelah beberapa diberi treatment, Shelly mengatakan tim medis memutuskan kondisi Menpora tidak bermasalah.

“Keterangan layak terbangnya, layak. Namun dibatasi, jangan berlebihan aktivitasnya. Malam ini juga (kemarin) beliau (Imam Nahrawi) berangkat ke Makassar untuk melanjutkan kegiatan,” tuturnya.

Menpora dijadwalkan bertolak ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pukul 21.00 Wita. Dia meninggalkan RS Siloam pukul 19.30 Wita tanpa menggunakan kursi roda. Namun langkah kakinya terlihat pelan.

Ditemui Kaltim Post (Fajar Group) saat menuruni lantai delapan RS Siloam menuju lobi, Imam Nahrawi mengatakan, sebelum berangkat ke Balikpapan kakinya sudah mulai nyeri. Di dalam lift dia menuturkan, semangatlah yang membuatnya tetap berangkat.

“Kaki saya keseleo. Namun karena niat untuk ingin datang ke Balikpapan membuka Liga Santri 2016, menyapa keluarga di SMP 1 Balikpapan, kemudian menemui petani di Desa Bakti, Kutai  Kartanegara, saya datang,” katanya.

Dia pun baru sadar kalau kakinya bengkak setelah sampai di RS Siloam. “Kata dokter istirahat saja sebentar, saya bangun tahu-tahunya kick off Liga Santri sudah selesai,” katanya tertawa. (lil/riz/zal/yuz/JPG)

loading...
Click to comment
Fajar.co
To Top